RSS

Globalisasi, Homogenisasi Budaya, dan Produk Budaya Lokal.

29 Dec

Perkembangan sistem kapitalisme telah menciptakan sebuah situasi dimana para pelaku usaha bisa dengan bebas melakukan inovasi dan pengembangan terhadap usahanya. Beberapa perusahaan bahkan bisa berkembang hingga menjadi perusahaan yang sangat besar dan mampu menguasai pangsa pasar usaha mereka di negara tersebut. Ketika perusahaan-perusahaan tersebut semakin berkembang besar, dan atau muncul perusahaan kompetitor baru yang juga pesat perkembangannya, perusahaan tersebut akan “merasa” bahwa tempat mereka berusaha sudah menjadi terlalu “sempit” bagi perkembangan usaha. Mereka pun akan mencoba mencari pangsa pasar baru dengan melakukan ekspansi ke negara lain. Jika dalam usaha ekspansi ini banyak pihak antarnegara yang dilibatkan sehingga menciptakan perdagangan antarnegara, maka terjadilah perdagangan global. Sistem kapitalisme dan perdagangan global inilah yang menurut banyak ahli, terutama Roland Robertson, sebagai penyebab fundamental globalisasi (Ritzer 458-469).

Di lain pihak, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa dampak yang sangat signifikan terhadap cara hidup dan peradaban manusia. Banyak hal telah ditemukan dan banyak penemuan telah disempurnakan sebagai upaya untuk mempermudah kehidupan manusia. Kemajuan yang paling pesat dan paling terasa dampaknya adalah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kemajuan bidang ini telah membawa manusia pada sebuah era peradaban baru, dimana segala persoalan komunikasi dan sharing informasi telah menjadi hal yang tidak terlalu dirisaukan lagi karena adanya evolusi cara dalam berkomunikasi. Saat ini setiap orang di dunia dengan mudah berhubungan dengan orang lain walaupun jarak yang memisahkan mereka sangat jauh. Setiap orang di dunia juga bisa saling terhubung 24 jam dan bisa bertukar ribuan byte informasi dengan hanya memencet tombol-tombol ataupun berbicara melalui mokrofon. Sebuah informasi yang sama juga bisa diakses dan diketahui oleh jutaan manusia pada waktu bersamaan tanpa adanya kesulitan sehingga seakan-akan sudah tidak ada lagi sekat-sekat yang memisahkan manusia dengan manusia yang lain. Terjadilah globalisasi informasi.

Jika para ahli mengatakan bahwa penyebab globalisasi adalah perdagangan antarnegara, sebagaimana yang saya kemukakan di atas, maka menurut saya, dewasa ini globalisasi lebih disebabkan oleh dua hal di atas yang saling bergantung satu sama lain: sistem kapitalisme dan teknologi, terutama teknologi informasi. Produk dari sebuah usaha kapitalis cepat tersebar dan diterima oleh masyarakat global karena adanya pengenalan produk dalam bentuk iklan melalui sarana teknologi informasi massal. Sedangkan produk teknologi informasi terbaru bisa dinikmati oleh semua orang karena didistribusikan oleh perusahaan kapitalis ke seluruh dunia.

Secara umum, globalisasi bukanlah sebuah ide yang buruk. Banyak kemudahan-kemudahan yang akan didapatkan oleh manusia melalui globalisasi, mulai dari kemudahan akses informasi dan komunikasi, layanan perbankan, akses hiburan, dan sebagainya. Selain itu, komunikasi dan persahabatan antarmanusia antarnegara akan semakin terbentuk dan bisa semakin memperkuat ikatan yang mengesampingkan perbedaan tersebut. Akan tetapi, globalisasi ternyata memiliki kecenderungan untuk menciptakan sebuah situasi dimana suatu budaya yang mengglobal akan mendominasi budaya lokal. Globalisasi membuka kesempatan bagi penyeragaman (homogenisasi) budaya yang mengakibatkan produk budaya global mengalahkan produk budaya lokal. Sebagai contoh, roti merk Suzana®, yang merupakan produksi sebuah perusahaan roti di Surabaya dan sangat terkenal pada era ‘80 dan ‘90-an, saat ini menjadi cukup terpinggirkan karena tiba-tiba saja sekitar tahun 2008 Breadtalk—sebuah toko roti franchise dari Singapura—membuka cabang di Plaza Surabaya. Karena sebelumnya sudah mengetahui informasi tentang Breadtalk dari media, pada masa awal pembukaannya banyak orang merasa penasaran dengan produk tersebut sehingga membuat para konsumen bakery di Surabaya berbondong-bondong untuk mencicipi walaupun harus mengantri sangat panjang. Pada akhirnya, toko franchise tersebut nyatanya mampu merebut konsumen dari para kompetitornya yang telah lebih dulu ada di Surabaya, termasuk Suzana®. Saat ini banyak konsumen bakery yang menjadikan Breadtalk sebagai standar dalam mengkonsumsi roti.

Telah saya singgung di atas bahwa globalisasi terjadi atas dukungan kemajuan teknologi. Teknologi sendiri dalam hal ini sebenarnya merupakan sebuah simbol modernitas. Sampai pada titik ini sebenarnya bisa dipahami mengapa banyak orang lebih suka menkonsumsi produk globalisasi daripada produk lokal. Sepertinya ada sebuah identitas yang coba diraih oleh para konsumen tersebut: jika ingin modern, maka gunakanlah produk-produk hasil dari modernitas. Di sisi lain, karena globalisasi juga menyebarkan trend-trend populer yang dianggap “gaul” atau kekinian, perkembangan budaya populer tampaknya juga mempengaruhi perilaku tersebut. Tidak sedikit anak muda (termasuk saya sendiri) yang ingin kelihatan keren serta gaul dengan cara menghabiskan malam minggu dengan nongkrong di J-Co ataupun makan di McDonald’s.

Pada dasarnya tidak ada yang salah pada perilaku tersebut. Sah-sah saja. Bahkan globalisasi nyatanya telah memberikan kita kemudahan dan banyak pilihan lain selain yang sering kita lakukan sehari-hari. Akan tetapi, jika kita melupakan adanya kecenderungan homogenisasi yang terjadi pada setiap proses globalisasi sebagaimana saya bahas di atas, maka bisa saja kita kehilangan apa yang kita miliki sebagai penanda khas kita dari orang lain. Sekilas homogenisasi membuat setiap orang melupakan segala perbedaannya karena memang ketidakseragaman yang terjadi pada akhirnya melebur, sehingga menyebabkan seakan semuanya bersatu untuk menjadi satu indentitas. Namun, jika hal ini kita dukung sepenuhnya, maka kita akan benar-benar kehilangan identitas sejati kita. Bersatu bukanlah dengan cara menyeragamkan sehingga sampai kehilangan sesuatu seperti halnya identitas, namun dengan cara menghormati ketidakseragaman itu.

Dalam konteks produk budaya, homogenisasi bisa berakibat akan terpinggirkannya atau hilangnya produk-produk budaya lokal karena dominasi dari produk budaya global. Jika homogenisasi budaya terus berlangsung tanpa ada usaha menyiasatinya, maka bisa saja suatu saat kita akan merasa asing ketika mendengar keindahan alunan tembang Sinom Parijatha karena terlalu lama menganggap Hip Hop sebagai satu-satunya musik yang layak didengar. Atau mungkin anak cucu kita bisa jadi lupa akan lezatnya ayam bakar Pak Sholeh, karena di masa mereka rumah makan tersebut telah bangkrut karena kalah bersaing dengan McDonald’s atau KFC. Lalu, bagaimanakah cara kita menyiasati hal tersebut?

Semua pihak haruslah sadar akan sisi negatif dari homogenisasi budaya. Tanpa kesadaran ini, mustahil kita bisa mengatasi gempuran budaya global yang mengikis budaya lokal. Yang jadi permasalahan adalah ternyata masih banyak anggota masyarakat kita yang belum sadar, dan kebanyakan kalangan anak muda kita justru menjadi pendukung—secara langsung maupun tidak—produk-produk budaya global. Untuk itulah di sini peran pemerintah menjadi sesuatu yang sangat krusial. Dengan kewenangan yang dimilikinya, pemerintah semestinya menyusun dan menyelenggarakan pendidikan dengan kurikulum muatan lokal yang lebih disempurnakan agar setiap pelajar kita memiliki pengetahuan dan kecintaan yang mendalam terhadap khasanah budaya lokal masing-masing serta menjadi kreatif dalam berinovasi dengan memanfaatkan kekayaan khasanah budaya tersebut. Di sisi lain, pemerintah sebagai otoritas berwenang juga seyogyanya memberikan ruang yang seluas-luasnya dan dukungan yang sebesar-besarnya bagi setiap orang yang menggiatkan produk budaya lokal. Tentunya, hanya pemerintah saja yang berperan aktif tidak akan pernah berhasil mengatasi gelombang homogenisasi ini. Perlu peran serta semua pihak dalam mendukung langkah tersebut. Intinya, semua pihak harus berupaya untuk memberdayakan potensi kekayaan budaya lokal.

Empowering the Local

Memberdayakan potensi budaya lokal berarti menggali semua kekuatan dan kreativitas yang kita miliki dalam rangka menjadikan potensi budaya lokal sebagai produk budaya yang memiliki daya tarik dan daya saing yang sustainable (berkelanjutan) terhadap produk budaya global.

Hal pertama yang harus dilakukan, menurut saya, adalah jeli melihat peluang. Kita adalah bangsa yang sangat kaya dengan khasanah budaya. Untuk setiap produk budaya global yang mendominasi, kita pasti memiliki potensi produk budaya lokal yang dapat menandingi. Akan tetapi, seringkali ketika berbicara mengenai produk budaya lokal “melawan” produk budaya global kita terjebak dalam paradigma pemikiran bahwa yang dimaksud dengan produk budaya lokal adalah produk-produk tradisional ataupun benda-benda warisan budaya. Menurut saya hal ini salah kaprah. Ketika kita mencoba “mengadu” ayam goreng McDonald’s dengan resep rawon warisan leluhur, maka sebenarnya kita telah menggali lubang sendiri. McDonald’s tidak akan begitu saja tumbang oleh pesona kelezatan rawon “Setan” ataupun rawon resep warisan leluhur itu. Karena itu, sudah saatnya untuk mencoba menyelidiki adakah peluang usaha dengan menciptakan produk baru yang dapat diterima oleh masyarakat luas dan memiliki daya saing internasional, namun menggunakan bahan baku asli Indonesia, yang hanya ada di Indonesia, dan memiliki ciri khas Indonesia. Sebuah contoh yang bagus adalah Repoeblik Telo (Bakpao Telo). Semua bahan baku produk Repoeblik Telo asli dari Indonesia dan sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia, terutama masyarakat pedesaan. Produknya didesain dan dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kualitas berdaya saing internasional.

Repoeblik Telo di atas merupakan sebuah contoh keberhasilan dari kejelian melihat peluang dan kreativitas serta inovasi dari pendirinya. Kreativitas dan inovasi diperlukan untuk menciptakan sebuah produk budaya yang bisa bersanding dengan produk budaya global. Menurut saya sah-sah saja seandainya kita melihat dan mencontoh beberapa hal dari keberhasilan produk-produk budaya global untuk kemudian kita terapkan, tentunya dengan penyesuaian, pada produk budaya lokal kita.  Pada kasus Bakpao Telo, kita tahu bahwa telo atau ubi jalar adalah sumber pangan yang sangat melimpah di negara kita yang beriklim tropis ini. Banyak sekali varian makanan yang bisa dihasilkan oleh bahan makanan tersebut. Permasalahannya adalah, varian makanan yang dihasilkan cenderung tradisional dan itu-itu saja. Dari dulu sampai sekarang belum ada varian makanan lain yang dapat dihasilkan dari ubi rambat. Penggagas Repoeblik Telo sepertinya berusaha memikirkan untuk membuat ubi rambat menjadi makanan lain selain yang sudah ada. Mereka berusaha melakukan inovasi dengan kreativitas mereka. Tampaknya semua yang mereka lakukan telah menunjukkan hasil dengan tersedianya empat makanan berbahan dasar ubi rambat: Bakpao Telo, Mie Telo, Es Krim Telo, dan Bakpia Telo (http://www.spat-indonesia.or.id).

Inovasi yang dilakukan Repoeblik Telo tidak hanya pada bahan dasarnya saja, melainkan juga pada pemasarannya. Walaupun masih memfokuskan diri pada pemasaran yang bersifat pasif, yaitu dengan membuka sebuah gerai di Kota Lawang, Malang, namun Repoeblik Telo telah menerapkan standar modern pada pengemasan dan penyimpanan. Pengemasan yang modern ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan orang-orang tertarik untuk percaya dan membeli produk dari Repoeblik Telo.

Inovasi dalam pemasaran akan membuat suatu produk budaya menjadi dikenal oleh konsumen dengan cara yang lain sehingga bisa menimbulkan kesan yang lain juga terhadap produk tersebut. Indonesia memiliki banyak sekali warisan budaya yang sudah menjadi objek wisata. Akan tetapi, sebagian besar objek wisata budaya tersebut hanya ramai ketika baru diresmikan, dan lambat laun menjadi tidak menarik dan sepi pengunjung. Pada era globalisasi seperti saat ini ada saatnya orang merasa jenuh dengan segala kemodernan dan tiba-tiba ingin melihat sesuatu yang berbeda yang menawarkan tradisionalitas dan eksotisme. Objek-objek wisata budaya di atas sebenarnya sudah merupakan modal yang luar biasa. Namun jika tidak dikemas dan dipasarkan dengan baik, maka yang terjadi adalah eksotisme yang tidak bisa dinikmati. Karena itulah, harus ada inovasi dalam pemasaran objek wisata budaya. Jika produk budaya global memaksimalkan pemanfaatan teknologi dalam rangka pemasarannya, maka sebenarnya sudah seharusnyalah bagi kita untuk mencontoh penggunaan teknologi yang sama, atau mungkin lebih maju, dalam memasarkan dan memperbaiki daya saing produk budaya kita. Contoh yang sangat bagus adalah sebagaimana yang diterapkan Dinas Pariwisata Yogyakarta untuk memperbanyak kunjungan wisatawan ke candi Prambanan. Mereka menawarkan sesuatu yang lain, tidak hanya wisata candi, melainkan juga wisata budaya lain, yaitu pagelaran sendratari Ramayana yang dilaksanakan pada malam-malam tertentu setiap minggunya.

Hal terakhir yang harus dilakukan untuk menambah daya saing produk budaya lokal kita adalah jaminan kualitas dan pelayanan. McDonald’s bisa menjadi sebuah perusahaan multinasional karena mereka total dalam berusaha. Mereka tidak mau bermain-main dengan kondumen mereka dan selalu memperlakukan mereka bak raja. Bagi mereka, kepercayaan setiap konsumen adalah sebuah modal yang sangat berharga yang menyangga bisnis mereka. Oleh karena itu mereka mati-matian menjaga kualitas produk dan pelayanan mereka. Hal tersebut seyogyanya menjadi hal yang harus kita tiru dalam mengelola produk-produk budaya kita. Sebagaimana yang saya contohkan di atas, banyak sekali objek wisata budaya kita yang terbengkalai. Jika kita memang ingin menjadikan budaya kita sebagai tuan rumah di negeri sendiri, maka sudah seharusnyalah kita menjaga dan memperbaiki objek-objek wisata budaya tersebut agar layak disandingkan dengan Museum Louvre di Paris. Kebersihan, kemudahan informasi dan pelayanan, serta kelestarian objek wisata budaya merupakan hal mutlak yang harus dijaga agar menjadi produk budaya yang dapat diandalkan di kancah internasional.

Pada Repoeblik Telo, jaminan kualitas sangat dijaga (http://www.spat-indonesia.or.id). Mereka hanya menggunakan ubi rambat organik yang bebas pestisida dan zat kimia sebagai bahan baku produk-produknya. Ini tentu saja membuat para konsumen semakin mudah percaya akan kebaikan kandungan nutrisi produk-produk tersebut bagi tubuh. Selain itu, metode penyimpanan dan pengolahan mereka telah menggunakan metode yang paling mutakhir, sehingga seluruh kebaikan nutrisi ubi rambat tidak akan banyak berkurang setelah melewati proses pengolahan dan penyimpanan. Sebuah standar untuk produk global telah dilakukan oleh Repoeblik Telo.


Simpulan

Pada akhirnya, menurut saya produk-produk budaya lokal akan mampu bersaing dengan produk-produk budaya global jika semua komponen pemberdayaan potensi budaya lokal di atas dalakukan dengan maksimal. Tentu saja ada hal-hal lain yang belum saya bahas pada esai ini yang bisa ditambahkan dalam rangka pemberdayaan potensi produk budaya lokal. Namun setidaknya ada sebuah benang merah yang bisa ditarik, bahwa untuk memberdayakan produk budaya kita, kita harus jeli melihat peluang, memaksimalkan kreativitas melalui inovasi-inovasi, melakukan inovasi pemasaran yang mampu menimbulkan kesan yang berbeda terhadap produk budaya kita, serta peningkatan dan pemeliharaan kualitas serta pelayanan atas produk-produk kebudayaan kita. Satu hal lagi yang menurut saya penting untuk diperhatikan adalah, kita sah-sah saja mencontoh metode yang diterapkan oleh produk budaya global dalam membuat dirinya besar dan diterima secara global. Oleh karena itu kita seyogyanya tidak antipati terhadap produk-produk budaya global, malahan harus belajar dari produk-produk tersebut agar mendapatkan keuntungan bagi diri kita dan budaya lokal kita. Think globally, act locally.

 

 

Referensi

“Budaya Global: Sebuah Perayaan atau Perlawanan”. Susanti. 20 Des. 2010 <http://susanti1505.multiply.com/journal/item/1&gt;

“McDonalds.” 20 Des. 2010. <http://www.mcdonalds.com/us/en/home.html&gt;.

“Repoeblik Telo.” 20 Des. 2010. <http://www.spat-indonesia.or.id/repoeblik-telo/index.php?prm=&gt;.

Ritzer, George dan Barry Smart. Handbook of Social Theory. London: SAGE Publication, Ltd., 2003.


Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2010 in Just My Thoughts

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: