RSS

Materialisme dan Materialisme Dialektika

29 Dec

Banyak orang yang beranggapan bahwa filsafat bukanlah hal yang penting dan signifikan untuk diketahui dan didalami. Kebanyakan mungkin berpendapat demikian karena filsafat seakan tidak pernah menemukan titik akhir dalam proses dialognya dan terkesan “rewel” karena selalu bertanya hal-hal yang menurut sebagian orang bukanlah sesuatu yang penting untuk ditanyakan. Ilmu pengetahuan bagi mereka adalah hal yang paling penting karena, tidak seperti filsafat, ilmu pengetahuan selalu memberikan jawaban pasti terhadap berbagai pertanyaan dan terkadang dapat membawa mereka kepada sebuah situasi mapan.

Mungkin tidak disadari bahwa sebenarnya justru filsafat-lah yang membuat ilmu pengetahuan bisa muncul dan berkembang hingga mendapat tempatnya seperti sekarang. Filsafat tidak hanya sebagai sebuah proses bertanya dan menjawab, namun di dalamnya juga ada semangat dan hasrat yang begitu besar untuk memahami hakikat, keberadaan, dan semua hal di sekitar di sekitar manusia. Sejarah pemikiran manusia telah membuktikan bahwa melalui sebuah pemikiran filosofis yang sangat sederhana, namun tidak sesuai mainstream pada saat itu, telah membuka jalan bagi tradisi berfilsafat dan ruang bagi berkembangnya ilmu pengetahuan.

Pada awalnya manusia melihat benda-benda di sekitarnya. Keanekaragaman dan karakteristik yang berbeda dari benda-benda tersebut telah membuat para filsuf awal tertarik untuk mengamati sembari bertanya tentang hakikat benda-benda tersebut. Mereka akhirnya menyadari bahwa benda yang mereka kaji tersebut merupakan sebuah kebenaran berdasarkan hasil penginderaan mereka. Kemudian mereka membuat sebuah formulasi tentang hakikat benda tersebut, sehingga lahirlah sebuah pemikiran filosofis awal tentang keberadaan benda-benda. Pemikiran tersebut kemudian dikenal sebagai filsafat materialisme.

Sejarah Singkat

Menurut Richard Vitzthum (“Philosophical Materialism”), materialisme adalah tradisi filsafat tertua dalam peradaban Barat. Berasal dari serangkaian filsuf Yunani pra-Sokrates pada abad ke-6 dan ke-5, materialisme mencapai bentuk klasik secara penuh dalam atomisme dari Democritus dan Epicurus di abad ke-4 SM. Epicurus berpendapat bahwa realitas terdiri dari bagian-bagian yang tak terlihat dan tak terpisahkan dari materi yang jatuh bebas yang disebut atom, yang secara acak bertabrakan dalam kekosongan. Berdasarkan pada hipotesis atom ini, penyair Romawi Lucretius menulis karya sastra materialis pertama sekitar tahun 50 SM, yang terdiri atas 7400 baris puisi filosofis De Rerum Natura, atau yang diterjemahkan sebagai The Nature of Things. Melalui puisi Lucretius inilah filsafat Epicurus dan Democritus mulai dikenal oleh orang-orang pada peradaban barat (Craig 63).

Namun, sebelum Democritus dan Epicurus mengungkapkan pemikiran materialisme mereka tersebut, di belahan bumi yang lain, tepatnya di India, telah muncul pemikiran materialisme (Craig 63), yang dimotori oleh Ajita Kesakambali, Payasi, Kanada, dan para pendukung pemikiran tersebut dari sekolah filsafat Cārvāka dan Nyaya-Vaisesika pada tahun 600-an SM. Kanada bahkan diketahui sebagai penganut awal atomisme. Di China, seiring dengan perkembangan ajaran Konfusius, berkembang pula pemikiran materialisme yang dikembangkan oleh Xun Zi, Yang Xiong, dan Wang Chong (“Materialism.” Wikipedia).

Pada paruh kedua abad 19 materialisme menjadi sebuah pemikiran yang penting. Pada saat itu terdapat dua aliran materialisme, yaitu materialisme yang meneruskan tradisi materialisme pada masa aufklärung dan materialisme yang timbul sebagai reaksi atas idealisme. Materialisme yang pertama ini terutama dianut dalam kalangan ilmu pengetahuan alam dan para pengikutnya menganggap prinsip materialistis sebagai buah dari hasil ilmu pengetahuan. Karena itulah materialisme ini disebut juga sebagai ‘materialisme ilmiah’ dan sangat berpengaruh pada kalangan populer. Penganut materialisme ini antara lain: Ludwig Buechner dengan bukunya yang berjudul Kraft und Stoff (Daya dan Materi), Jakob Moleschott, dan Ernst Haeckel yang terkenal karena mempopulerkan teori evolusi dengan menggunakan prinsip materialistis (Bertens 76). Sedangkan materialisme yang kedua, karena timbul sebagai reaksi atas idealisme, adalah materialisme yang paling mendapat perhatian di dunia filsafat dengan tokoh utamanya Ludwig Feuerbach , yang juga dikenal sebagai seorang penganut Hegel yang berhaluan kiri (Bertens 77). Pemikiran Feuerbach  atas materialisme berdasarkan atas ajaran Hegel yang juga mengispirasi Karl Marx untuk mencetuskan materialisme dialektis. Pemikiran Feuerbach  dan Karl Marx tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam bab berikutnya.

Materialisme

Aliran filsafat materialisme memandang bahwa realitas seluruhnya terdiri dari materi belaka (Bertens 76; Ihsan 184; “Materialism.” Wikipedia). Hal ini berarti bahwa tiap-tiap benda atau kejadian dapat dijabarkan kepada materi atau salah satu proses interaksi material (Bertens 76; “Materialism.” Wikipedia). Dengan demikian, materialisme selalu memberikan titik tekan bahwa materi merupakan ukuran segalanya, melalui paradigma materi ini segala kejadian dapat diterangkan. Artinya, segala kejadian sebagai kategori pokok untuk memahami kenyataan sesungguhnya dapat dijelaskan melalui kaidah-kaidah hokum fisik. Keseluruhan perubahan dan kejadian dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip sains alam semata, karena kenyataan sesungguhnya bersifat materi dan harus dijelaskan dalam frame material juga. Sedangkan satu-satunya dunia yang diketahui atau dapat diketahui adalah dunia yang sampai pada diri melalui indera (Santoso 40).

Materialisme berpegang teguh pada pendapat bahwa kenyataan itu betul-betul ada secara obyekrif, tidak saja berada dalam ide-ide kesadaran manusia (man’s consciousness) (Andi Muawiyah Ramli dalam Santoso 43). Konsekuaensi logisnya adalah Pengetahuan tentang realitas tidak dapat dipisahkan dari kesadaran manusia karena apa yang terjadi di dunia nyata berpengaruh sangat signifikan terhadap konstruksi kesadaran manusia. Bahkan Materialisme mengakui bahwa kenyataan benda berada di luar persepsi kita tentangnya, sehingga kenyataan obyektif adalah penentu tearkhir terhadap ide (Santoso 43).

Telah disinggung di atas bahwa tokoh utama dari filsafat ini adalah Feuerbach . Sebagai seorang Hegelian sayap kiri, Feuerbach  memandang Hegel sebagai puncak rasionalisme modern. Ia mengatakan bahwa dalam rasionalisme, dan khususnya pada Hegel, selalu terdapat suasana religious yang mengakibatkan dunia material, manusia, dan pengenalan inderawi tidak mendapat penghargaan semestinya. Maka dari itu Feuerbach  ingin merancang suatu metafisika materialistis, suatu etika yang bersifat humanistis, dan suatu epistemologi yang menjunjung tinggi pengenalan inderawi.  Dengan demikian ia mau mengganti idealisme dengan materialisme (Bertens 77).

Melalui bukunya yang berjudul Das Wesen des Christentum (1841), Perihal Hakikat Agama Kristen, Feuerbach  melakukan percobaan untuk mengartikan adanya agama dengan menggunakan argumentasi-argumentasi yang bersifat psikologis. Menurut pendapat Feuerbach , kepercayaan manusia akan Allah berasal dari keinginan hati manusia. Karena manusia sendiri tidak merasa bahagia hidup di dunia ini dan mengalami berbagai kekurangan, ia mulai membayangkan di luar dirinya suatu Wujud yang sama sekali sempurna dan bahagia, yaitu Allah. Feuerbach  membalikkan suatu perkataan dalam Alkitab pada kitab Kejadian 1:26 dengan mengatakan “manusia menciptakan Allah menurut citranya sendiri”. Oleh karena itu manusia harus bangun dari impiannya dan mengusahakan dunia yang bahagia dengan menaklukkan alam, sebab kultur dan pengetahuan alam memungkinkan manusia untuk melakukan usaha itu. Kritik Feuerbach  atas agama Kristen ini sangat berpengaruh pada kalangan Atheis abad 19 dan 20, terutama melalui Karl Marx yang sebagian besar mengambil alih gagasan tersebut (Bertens 77).

Materialisme Dialektika

Sebagaimana Feuerbach , materialisme dialektis yang diformulasikan oleh Karl Marx sebenarnya merupakan kritik terhadap dialektika Hegel. Menurutnya, dialektika Hegel adalah dialektika ide, dan Karl Marx ingin menjadikannya dialektika materi. Bagi Hegel dan para penganut idealis pada umumnya, alam merupakan buah hasil Roh, tetapi Marx dan Engels berpendapat bahwa segala sesuatu yang bersifat rohani buah hasil materi dan tidak sebaliknya. Dengan demikian Marx dan Engels memihak pada usaha Feuerbach  untuk mengganti idealisme dengan materialisme (Bertens 79).

Dari uraian pada paragraf di atas, dapat diketahui bahwa materialisme dialektis selalu bertitik tolak dari materi sebagai satu-satunya kenyataan. Dengan demikian dalam materialisme dialektis terdapat asumsi dasar yang mengatakan bahwa benda merupakan suatu kenyataan pokok (fundamental reality) yang selalu terjadi proses pertentangan dan perubahan di dalamnya yang dapat diamati oleh indra, dan terjadi di dunia nyata. Materialisme dialektik Karl Marx berarti keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus-menerus tanpa ada yang mengantarai. Dari proses perubahan tersebut memunculkan suatu keadaan yang berakibat dari adanya pertentangan-pertentangan materi yang dimaksud menjadi sumber keberadaan benda-benda ilmiah tersebut, sehingga senantiasa bergerak dan berubah tiada hentinya. Setiap proses perkembangan terjadi dalam ‘koridor’ dialektis melalui pertentangan-pertentangan di dalamnya (Santoso 43).

Dengan menganut suatu materialisme yang bersifat dialektis, Marx menolak materialisme abad ke-18 dan juga materialisme ilmiah dari abad ke-19 yang keduanya bersifat mekanistis. Menurut materialisme abad ke-18 tidak ada perbedaan prinsipil antara sebuah mesin dan satu makhluk hidup (termasuk manusia), hanya saja, pada manusia mekanisme ini lebih rumit (Bertens 79).

Implikasi Logis

Filsafat materialisme menjadi sebuah pemikiran yang sangat kontroversial karena sebagian orang menganggap ajarannya menentang semua keyakinan tentang agama. Menurut Ensiklopedia Katolik (“Materialism.” Wikipedia), materialisme mengingkari keberadaan dewa dan “jiwa.” Oleh karena itu tidak sesuai dengan agama-agama mayoritas dunia termasuk Kristen, Yahudi, dan Islam. Dalam Buddhisme kepercayaan materialistik dianggap pandangan salah, dan menganggap bahwa pengejaran habis-habisan kekayaan dan komoditas eksternal lainnya yang didorong oleh materialisme adalah berbahaya dan merusak diri sendiri karena karena sistem tersebut mendorong keterikatan pada dunia materi yang pada akhirnya hanya bersifat sementara, sehingga meningkatkan rasa sakit dan penderitaan di dunia.

Hal di atas menyebabkan materialisme menjadi sangat berpengaruh pada kalangan atheis pada abad 19 dan 20, seakan semakin melegitimasi alasan dan landasan pemikiran mereka untuk menjadi atheis.

Evaluasi Logis

Pendekatan materialisme memunculkan adanya keterputusan manusia dengan nilai-nilai transedental (adi-kodrati), karena dunia hanya dipahami sebagai suatu materi atau benda, yang tidak mempunyai hubungan dengan kekuatan-kekuatan di luar dunia. Keterputusan tersebut menjadi awal keterpisahan (aspek kognisi) manusia dan kebenaran agama. Karena di luar batas-batas empiris, agama menjadi kategori yang jauh dari jangkauan kebenaran pengetahuan manusia, karena tidak teruji secara empiris. Di sisi lain, adalah sebuah keniscayaan bahwa manusia tidak mungkin selalu dapat menemukan kategori kebenaran melalui eksperimen empiris dengan panca inderanya (Santoso 49).

Simpulan

Materialisme merupakan sebuah pemikiran yang sangat berpengaruh pada filsafat modern. Pemikiran ini memang menimbulkan banyak kontroversi, namun patut diakui bahwa materialisme, dalam beberapa hal, telah membuktikan bisa digunakan sebagai acuan dalam memahami berbagai fenomena sosial masyarakat modern. Kita bisa melihat bagaimana kajian budaya kontemporer sebenarnya bertolak pada pemikiran materialisme, dan bagaimana budaya populer terbangun juga berdasarkan pada hal yang sama. Ditinjau dari aspek sejarah, harus diakui pula bahwa materialisme telah menginspirasi banyak pemikir untuk menemukan ilmu-ilmu modern.


Daftar Pustaka

“Materialism.” Wikipedia: the free encyclopedia. Wikimedia Foundation Inc., 2 Nov 2010. <http://en.wikipedia.org/wiki/Materialism#History_of_materialism&gt;

Bertens, K. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1998.

Craig, Edward. Philosophy: A very Short Introduction. London: Oxford University Press, 2002.

Ihsan, Fuad. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.

Santoso, Listiyono, dkk. Seri Pemikiran Tokoh: Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.

Vitzthum, Richard C. Philosophical Materialism. Kuliah di depan Himpunan Mahasiswa Atheis Universitas Maryland. 14 Nov 1996. <http://www.infidels.org/library/modern/richard_vitzthum/materialism.html&gt;

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2010 in Critical Theory

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: