RSS

Penelitian Etnografis Melalui Pendekatan Interpretif

29 Dec

Setelah kepergian Radcliff-Brown pada tahun 1955, antropologi Inggris terpecah menjadi empat. Beberapa peneliti pada generasi antropologi selanjutnya tetap melanjutkan garis penelitian Radcliffe-Brown, sebagaimana yang dilakukan oleh Fortes dan Goody. Sebagian peneliti yang lain, seperti Firth, menekankan penelitian pada tindakan individual terhadap struktur sosial—sebuah pendekatan yang diambil sebagian dari fungsionalisme versi awal penelitian lapangan Malinowski. Garis pemikiran ini berkembang menjadi prosesualisme (processualism) dan transaksionalisme (transactionalism). Sebagian lagi mengambil beberapa ide strukturalis Levi-Strauss, lalu mengadaptasikannya untuk kepentingan baru pada proses sosial. Akhirnya, sisanya, yaitu sebagian besar peneliti mengikuti Evans Pritchard dalam penolakannya terhadap ide antropologi sebagai sains, dan mendukung pendekatan interpretif yang menempatkan secara tegas antropologi ke dalam kajian humaniora (Barnard 158).

Di Amerika Serikat, Clifford Geertz mengajukan interpretivisme menurut gayanya sendiri (Barnard 158). Pada tahun 1970an, ia dan banyak ahli antropologi lain mulai berpindah dari penjelasan-penjelasan ekologi dan ekonomi untuk menerangkan suatu kebudayaan, dan mulai fokus pada pengkajian simbol kebudayaan tertentu. Pendekatan ini disebut juga sebagai antropologi simbolik (“Anthropology”; “Culture” Microsoft Encarta 2006). Pada perkembangannya, interpretivisme Geertz ini diikuti oleh para ahli antropologi selanjutnya.

Konsep Dasar

Kata “interpretivisme” (interpretivism) berasal dari kata interpretive yang menurut Alan Barnard (202) berarti sebuah metode atau pendekatan yang berdasarkan interpretasi. Sedangkan interpretivism berarti sebuah perspektif yang menekankan penafsiran budaya dalam pencarian struktur formal (202).

Pada pendekatan interpretivisme, para antropolog berusaha untuk menggambarkan makna-makna tertentu yang disematkan orang-orang ke dalam objek, perilaku, dan emosi. Alih-alih mencari logika universal yang mendasari semua budaya, interpretif berusaha untuk menemukan logika internal tertentu yang digunakan oleh orang-orang tersebut untuk menafsirkan budaya mereka sendiri (“Culture” Microsoft Encarta 2006). Secara lebih sederhana, kajian-kajian interpretif seringkali berfokus pada satu ritual atau simbol penting dalam suatu masyarakat. Para antropolog menggunakan usaha pendekatan ini untuk menunjukan bagaimana satu ritual atau simbol tersebut membentuk atau merefleksikan keseluruhan kebudayaan. Geertz, misalnya, berusaha untuk menunjukkan bagaimana kebudayaan masyarakat Bali bisa dipahami dengan  membahas ritual penting masyarakat Bali dalam pementasan dan bertaruh pada sabung ayam (“Anthropology” Microsoft Encarta 2006).

Pendekatan Interpretif Evans-Pritchard

Sir Edward Evan Evans-Pritchard adalah seorang antropolog sosial terkemuka di Inggris, terutama dikenal karena penelitiannya tentang kebudayaan di Afrika. Setelah belajar sejarah modern di Universitas Oxford, Evans-Pritchard meneruskan pendidikannya pada program pascasarjana bidang antropologi di fakultas Ilmu Politik dan Ekonomi, London School (“Evans-Pritchard, Sir Edward” Encyclopædia Britannica 2007). Di sinilah ia belajar di bawah bimbingan C. G. Seligman dan Bronislaw Malinowski (Barnard 159). Ia kemudian melakukan penelitian lapangan di antara orang-orang Zande dan Nuer di Sudan selatan. Dari penelitian ini ia menghasilkan buku-buku tentang orang-orang yang ditelitinya. Dua diantara buku-bukunya tersebut, yaitu Witchcraft, Oracle, and Magic Among the Azande (1937) dan The Nuer (1940), telah membuatnya meraih reputasi di bidang antropologi (“Evans-Pritchard, Sir Edward” Encyclopædia Britannica 2007). Witchcraft, Oracle, and Magic Among the Azande dan satu bukunya yang lain, Nuer Religion (1956), merupakan upaya untuk memahami dan berhubungan dengan alam pikiran subjek penelitiannya. Catatannya atas dua suku tersebut melambangkan keadaan antropologi Inggris pada waktu itu dan menginspirasi generasi penerusnya (Barnard 159).

Witchcraft, Oracle, and Magic Among the Azande merupakan sebuah etnografi proses berpikir masyarakat Zande. Evans-Pritchard berpendapat bahwa orang-orang Zande sangat terobsesi dengan sihir, sehingga dengan memahami kepercayaan mereka dan bagaimana kepercayaan tersebut digunakan untuk menjelaskan sebab-akibat, kita akan dapat memahami masyarakat mereka. Jika sebuah kotak penyimpan gandum jatuh dan membunuh orang yang duduk di bawahnya, salah satu penyebabnya mungkin saja penyangga yang sudah dimakan rayap, namun pertanyaan tentang mengapa kotak itu jatuh ke atas orang tersebut pada waktu itu haruslah dijawab dengan sihir milik siapa yang terlibat (Evans-Pritchard 1937: 69-72 dalam Barnard 159-160).

Nuer Religion membahas tentang definisi kwoth. Secara metafora, kwoth dapat merujuk kepada berbagai macam roh, termasuk entitas pada masyarakat Nuer yang oleh Evans-Pritchard diterjemahkan sebagai “Tuhan”. Sepanjang Nuer Religion, Evans-Pritchard mengajak pembacanya ikut serta dalam sebuah kegiatan membayangkan dan merasakan esensi dari kepercayaan Nuer melalui kata-kata, simbolisme, dan ritual-ritual yang mencirikan sistem sebagaimana yang digambarkan oleh judul dari buku tersebut. Namun, untuk diingat, “agama Nuer” di sini bukanlah sebuah konsep orang-orang Nuer, melainkan konsep dari para antropolog (Barnard 160).

Antropologi Evans-Pritchard sangat berbeda dengan antropologi mainstream di Inggris pada saat itu. Evans-Pritchard menerapkan antropologinya dalam kerangka teoritis umum milik Radcliffe-Brown. Namun ia menolak gagasan Radcliffe-Brown yang melihat antropologi sebagai sains dan berpendapat bahwa antropologi merupakan seni. Pada tahun-tahun berikutnya, Evans-Pritchard mengembangkan gagasan antropologi sebagai “terjemahan terhadap budaya”. Apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang antropolog adalah bisa sedekat mungkin dengan pikiran kolektif dari masyarakat yang mereka kaji, kemudian “menterjemahkan” ide-ide asing yang mereka temukan ke dalam ide-ide yang setara dengan yang ada di dalam kebudayaan mereka sendiri (Barnard 160).

Pada beberapa hal Evans-Pritchard mengkritik analogi “ilmu alam” dan alih-alih menawarkan visi dari objek antropologi sebagai totalitas sistem moral dan simbol, yang menurutnya sangat berbeda dengan sistem manapun yang ditemukan di alam. Sistem-sistem tersebut tidak diatur oleh hukum alam, meskipun sistem-sistem itu menyebabkan struktur sosial dan pola budaya (Barnard 161). Kritik ini sekaligus memperlihatkan penolakannya terhadap pendekatan ekologi.

Pendekatan Interpretif Clifford Geertz

Clifford James Geertz dikenal sebagai seorang antropolog budaya Amerika, seorang ahli pidato yang terkemuka, dan pendukung antropologi simbolik atau antropologi interpretif. Setelah bertugas di angkatan laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II (1943-45), Geertz belajar di Antioch College, Ohio (meraih gelar B.A. pada tahun 1950), dan Universitas Harvard (meraih gelar Ph.D. pada tahun 1956). Ia mengajar ataupun meraih beberapa beasiswa pada sejumlah sekolah sebelum bergabung menjadi staff antropologi padata Universitas Chicago (1960-70). Mulai tahun 1970 ia menjadi profesor ilmu sosial di Institute for Advance Study pada Universitas Princeton (“Geertz, Clifford” Encyclopædia Britannica 2007).

Di Chicago, Geertz mendapatkan reputasinya sebagai seorang antropolog simbolik (interpretif) yang memberikan perhatian utama pada peranan pikiran—atas simbol-simbol—dalam masyarakat. Ia berpendapat bahwa simbol menuntun tindakan (“Geertz, Clifford” Encyclopædia Britannica 2007). Dalam bukunya yang berjudul The Interpretation of Cultures (1973), Geertz (5) menulis:

The concept of culture I espouse, and whose utility the essays below attempt to demonstrate, is essentially a semiotic one. Believing, with Max Weber, that man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun, I take culture to be those webs, and the analysis of it to be therefore not an experimental science in search of meaning. It is explication I am after, construing social expression on their surface enigmatical. But this pronouncement, a doctrine a clause, demands itself some explication.

Dalam tulisannya itu Geertz menekankan bahwa konsep pendekatan antropologinya pada dasarnya merupakan sebuah pendekatan semiotik. Ia juga menegaskan bahwa metode yang ia gunakan dalam pencarian suatu makna bukanlah berdasarkan eksperimen sains, namun mencari penjelasan yang menafsirkan ekspresi sosial pada permukaan misterius dari suatu fenomena budaya.

Konsep dari Geertz di atas berasal dari pemahamannya tentang budaya yang merupakan sebuah sistem dari konsepsi yang diwariskan yang diekspresikan dalam bentuk simbolik melalui cara manusia berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan tentang kehidupan dan sikap mereka terhadap kehidupan (Geertz 89; “Geertz, Clifford” Encyclopædia Britannica 2007).

Geertz mendorong ide bahwa sebuah gambaran masyarakat adalah seperti sebuah teks. Ia juga berpendapat bahwa antropologi sebagai sebuah pemahaman terhadap “lokal” dalam interaksi yang tegang dengan “global”, dan antropologi yang menekankan pada hal-hal kecil, termasuk hal-hal sepele pada kebudayaan. Geertz berpendapat pula bahwa kebudayaan adalah sebuah sistem simbol, yaitu sistem dimana didalamnya aksi sosial berlangsung dan kekuatan politik dibangun (Barnard 163). Fungsi dari kebudayaan adalah untuk memaksakan makna pada dunia dan membuatnya bisa dipahami. Sedangkan peran antropolog adalah mencoba—walaupun kesuksesan penuh adalah mustahil—untuk menafsirkan simbol-simbol di atas yang ada pada setiap kebudayaan (“Geertz, Clifford” Encyclopædia Britannica 2007).

Sebagai seorang antropolog, Geertz melakukan penelitian etnografi terhadap masyarakat di Jawa, Bali, dan Maroko. Pada bukunya yang berjudul Kinship in Bali (1975), Geertz menantang gagasan tentang kekerabatan sebagai suatu sistem otonom yang dapat dipahami lintas-budaya dan berpendapat agar hal tersebut dimasukkan ke dalam sebuah domain simbolik. Dalam Islam Observed (1968), Geertz mengalihkan perhatiannya pada perbandingan, dalam upaya untuk memahami Islam dalam konteks kedua negara dimana ia memiliki pengalaman etnografis: Indonesia dan Maroko. Tidak seperti Evans-Pritchard, ia tidak menahan “metode komparatif” sebagai ketidamungkinan (Barnard 162-163).

Dalam beberapa karyanya yang baru, Geertz telah berkelana lebih jauh dalam interpretivisme melalui re-interpretasi karya-karya etnografi para peneliti lain. Dalam karyanya pemenang penghargan yang berjudul Works and Lives (1988), Geertz membahas tulisan-tulisan Evans-Pritchard, Malinowski, Levi-Strauss, dan Benedict. Melalui analisa terhadap imagery (perumpamaan) dan metafora dari para pengarang yang dipilihnya, Geertz berpendapat bahwa antropologi adalah hanya “sejenis menulis”.

Daftar Pustaka

“Evans-Pritchard, Sir Edward.” Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica, 2010.

“Geertz, Clifford.” Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica, 2010.

Barnard, Alan. History and Theory in Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press, 2004.

Bodley, John H. “Anthropology.” Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005.

Bodley, John H. “Culture.” Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005.

Geertz, Clifford. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2010 in Critical Theory

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: