RSS

Postmodernisme

29 Dec

Menurut sejarahnya, postmodern mulai menjadi sesuatu yang marak diperbincangkan pada dekade 1980an (Barry 81). Tidak ada buku yang bisa memberikan sebuah definisi mapan dengan satu kalimat yang sederhana mengenai apa itu postmodern sebenarnya. Jikalaupun ada, maka yang terjadi adalah definisi postmodern yang berdasarkan pendekatan dan sudut pandang tertentu, yang pada akhirnya hanya memberikan pengertian terminologi yang hanya sesuai dengan konteks pendekatan tersebut. Karena itulah terminologi postmodern memiliki banyak definisi. Bahkan sampai sekarang ternyata terminologi tersebut masih susah untuk dibatasi hanya pada satu pengertian saja, karena memang pada dasarnya semangat postmodern ini adalah tidak terikat pada pengertian (Santoso 323-327).

Untuk memahami postmodern, kita bisa boleh mengabaikan begitu saja makna modern. Prof. K. Bertens (384-385) menegaskan bahwa untuk mengerti apa yang dimaksud “postmodern”, kita harus terlebih dahulu mengerti apa itu “modern”. Mengutip pernyataan Lyotard, seorang filsuf Preancis yang paling berpengaruh dalam perkembangan postmodern, Prof. Bertens mengatakan bahwa modernitas merupakan proyek intelektual dalam sejarah dan kebudayaan barat, yang mencari kesatuan di bawah suatu ide pokok yang terarah kepada kemajuan. Modernitas ditandai oleh adanya grands récits atau métarécits, kisah-kisah besar yang mempunyai fungsi mengarahkan serta menjiwai masyarakat modern, mirip dengan mitos-mitos yang mendasari masyarakat primitif dulu. Dengan narasi-narasi besar inilah, modernitas membangun kemapanan sebagai tujuan akhir dari modernisasi itu sendiri.

Lantas, bagaimanakah sebenarnya postmodern? Di tengah kemapanan dan pesona yang ditawarkan oleh proyek modernisasi dengan rasionalitasnya, postmodern justru (di)tampil(kan) dengan sejumlah evaluasi kritis dan tajam terhadap impian-impian masyarakat modern. Munculnya postmodern merupakan suatu sinyal atas hadirnya sejumlah pemikir, filsuf, dan intelektual yang berusaha melakukan dekonstruksi atas basis dasar pengetahuan modern. Artinya, nilai yang ditawarkan oleh postmodern adalah betapa gagasan –gagasan dasar, seperti filsafat, rasionalitas, dan epistemologi, dipertanyakan lagi secara radikal. Dengan demikian, terminologi postmodernisme lebih berkaitan dengan suatu sikap kritis atas segala bentuk kemapanan (status quo) yang diciptakan oleh proyek modernisasi (Santoso 320-322).

Jean Francois Lyotard

Menurut Lyotard, postmodern merupakan suatu periode dimana segala sesuatu di-deligitimasi-kan (Sugiharto dalam Santoso 324). Postmodern mendeligitimasi sistem totaliter yang biasanya bersifat hegemonis dan pro status quo agar tidak memberangus munculnya kebenaran-kebenaran yang bukan sekadar kebenaran tunggal. Ketika posisi pengetahuan dilegitimasikan oleh narasi-narasi besar seperti kebebasan, kemajuan, emansipasi, dan sebagainya, maka kini narasi-narasi besar tersebut telah mengalami nasib yang sama dengan narasi-narasi besar (metanarasi) sebelumnya—seperti religi, dialektika ruh, subjektivitas, dan sebagainya—yang menjadi patokan filsafat modern, yaitu mengalami kehilangan kekuatannya dan menjadi sulit dipercaya (Santoso 324-325). Sederhananya, postmodern menyadari bahwa dalam ranah rasionalitas tidak ada kebenaran yang yang bersifat tunggal dan absolut. Oleh karena itu postmodern menolak kebenaran tunggal dan memperjuangkan adanya berbagai realitas lain yang juga benar.

Postmodernisme sebagai epistemologi ditandai oleh keragaman argumen. Menurut Lyotard, postmodern berarti mencari ketidakstabilan. Kalau pengetahuan modern mencari kestabilan melalui metodologi, dengan “kebenaran” sebagai titik akhir pencarian, maka pengetahuan postmodern ditandai oleh runtuhnya kebenaran, rasionalitas, dan objektivitas. Prinsip dasarnya bukan benar-salah, tetapi sebagai paralogy atau membiarkan segala sesuatunya terbuka, untuk kemudian sensitif terhadap perbedaan-perbedaan. Tampaknya, semangat dekonstruksi Derrida berpengaruh pada prinsip pengetahuan postmodern untuk selalu melakukan revisi kritis pada setiap bentuk pengetahuan (Santoso 326).

Daftar Pustaka

Barry, Peter. Beginning Theory: An Introduction to Literary and Cultural Theory. Manchester: Manchester University Press, 2002.

Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer: Prancis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.

Santoso, Listiyono, dkk. Seri Pemikiran Tokoh: Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2010 in Critical Theory

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: