RSS

Teori Strukturalisme Genetika

24 Jan

Goldmann menyebut teorinya sebagai teori strukturalisme genetik. Ia percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur (Faruk 12). Istilah strukturalisme genetik sebenarnya merupakan istilah yang erat kaitannya dengan teori perkembangan psikologis oleh seorang psikolog anak bernama Jean Piaget—yang notabene mempengaruhi banyak pemikiran Goldmann dalam mencetuskan strukturalisme genetika—yang aslinya bernama epistemologi genetik (Goldmann 9; “Jean Piaget.” Wikipedia). Menurut Jean Piaget, epistemologi genetik mencoba untuk menjelaskan pengetahuan, dan pengetahuan ilmiah tertentu, berdasarkan sejarahnya (“Jean Piaget.” Wikipedia). Senada dengan Piaget, Goldmann berpendapat bahwa struktur yang dipercayainya terdapat dalam karya sastra bukanlah struktur yang statis, melainkan hasil dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturisasi dan destrukturisasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan (Faruk 12).

Mungkin akan muncul pertanyaan, jika teori Goldmann adalah juga teori strukturalisme, lalu apakah yang membedakannya dengan teori strukturalis yang lain? Menjawab pertanyaan ini Goldmann menulis: strukturalisme genetik menegaskan bahwa struktur-struktur, yang sudah menjadi sebuah aspek universal dari pikiran, kepekaan, dan perilaku manusia, bisa menggantikan manusia sebagai sebuah subjek historis. Hal inilah menurut Boelhower yang membedakan strukturalisme Goldmann dengan strukturalisme komtemporer yang lain. Boelhower menambahkan, dalam pandangan strukturalisme genetika Goldmann, karya sastra yang dilihat sebagai sebuah struktur haruslah dikaitkan subjek historis, bukan dengan subjek lain di luar lingkungan historis (Goldmann 10-11).

Untuk menopang teorinya, menurut Faruk (12), Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling berkaitan satu sama lain sehingga membentuk strukturalisme genetik. Kategori-kategori tersebut adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.

1. Fakta Kemanusiaan (Human Facts)

Prinsip dasar pertama dari strukturalisme genetik adalah fakta kemanusiaan. Fakta kemanusiaan adalah hasil dari perilaku manusia yang dapat dengan jelas dipahami (Goldmann 40), atau dengan kata lain adalah segala hasil aktivitas manusia atau perilaku manusia baik yang verbal maupun fisik, yang berusaha dipahami ilmu pengetahuan. Fakta itu dapat berwujud aktivitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni musik, seni patung, dan sastra (Faruk 12). Goldmann mengatakan aktivitas-aktivitas tersebut sebagai upaya manusia mengubah dunia, dimana tujuan dari aktivitas-aktivitas tersebut adalah untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik antara diri manusia (sebagai subjek) dan dunia. Perilaku manusia di atas menjadi bermakna karena membuat mereka memperbaiki keseimbangannya (equilibrium) (Goldmann 40).

Dalam hubungan manusia dengan lingkungannya (Faruk 13-14; Goldmann 61), selalu terjadi proses timbal-balik yang disebut dengan asimilasi dan akomodasi. Di satu pihak, manusia berusaha mengasimilasi lingkunagn sekitarnya, tetapi di lain pihak usaha itu tidak selalu berhasil karena menghadapi rintangan-rintangan yang antara lain:

  1. Kenyataan bahwa sektor-sektor kehidupan tertentu tidak menyandarkan dirinya pada integrasi dalam struktur yang dielaborasikan
  2. Kenyataan bahwa semakin lama penstrukturan dunia eksternal itu semakin sukar dan bahkan tidak mungkin dilakukan
  3. Kenyataan bahwa individu-individu dalam kelompok yang bertanggung jawab terhadap proses keseimbangan telah mentrnsformasikan lingkungan sosial fisiknya sehingga terjadi proses yang mengganggu keseimbangan dalam proses strukturasi itu.

Menghadapi kendala seperti itu manusia akhirnya menyerah dan melakukan hal sebaliknya, yaitu melakukan proses akomodasi dengan struktur lingkungan tersebut. Dalam proses strukturasi dan akomodasi yang terus-menerus itulah karya sastra memperoleh artinya, sekaligus menjadikan proses tersebut sebagai genesis dari struktur karya sastra (Faruk 14).

2. Subjek Kolektif

Telah dibahas sebelumnya bahwa fakta kemanusiaan merupakan hasil dari aktivitas manusia sebagai subjeknya. Subjek dapat dibagi menjadi dua, sesuai dengan fakta yang dihasilkannya: subjek individual yang menghasilkan fakta individual (libidinal), dan subjek kolektif yang menghasil fakta sosial (historis) (Faruk 14).

Strukturalisme genetika melihat subjek kolektif sebagai sesutau yang penting karena subjek kolektif mampu menghasilkan karya-karya kultural yang besar yang sering menjadi topik utama dalam karya sastra, contohnya revolusi sosial, politik dan ekonomi (Faruk 14-15). Jika kita menggunakan terminology Goldmann, maka fakta-fakta sosial tersebut dihasilkan oleh subjek trans-individual (Goldmann 97), dimana subjek trans-individual bukanlah individu-individu yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan suatu kesatuan, satu kolektivitas (Faruk 15).

2. Pandangan Dunia (World View)

Pandangan dunia adalah sebuah perspektif yang koheren dan terpadu mengenai manusia dengan sesamanya dan dengan alam semesta (Goldmann 111). Pandangan dunia adalah fakta historis dan sosial, yang merupakan keseluruhan cara berfikir, perasaan dan tindakan dimana pada situasi tertentu membuat manusia menemukan diri mereka dalam situasi ekonomi dan sosial yang sama pada kelompok sosial tertentu (Goldmann 112). Karena merupakan fakta sosial yang berasal dari interaksi antara subjek kolektif dengan sekitarnya, pandangan dunia tidak muncul dengan tiba-tiba. Transformasi mentalitas yang lama secara perlahan-lahan dan bertahap diperlukan demi terbangunnya mentalitas yang baru (Faruk 16; Goldmann 112).

3. Struktur Karya Sastra

Sebagaimana yang disampaikan di atas, karya sastra yang besar merupakan produk strukturasi dari subjek kolektif. Karena itulah strukturalisme genetik melihat karya sastra sebagai struktur koheren yang terpadu. Menurut Goldmann, karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner, dimana pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasi-relasi secara imajiner pula. Hal itulah juga yang menurut Goldmann membedakan karya sastra dari filsafat dan sosiologi (Faruk 17).

Dari pernyataan di atas dapat kita simpulkan bahwa Goldmann ternyata memfokuskan perhatiannya pada hubungan antar tokoh dan antara tokoh dengan lingkungannya. Dalam bukunya The Sociology of Literature: Status and Problem of Method, Goldman mengatakan bahwa hampir seluruh karyanya penelitian dipusatkan pada elemen kesatuan, dalam rangka menguak struktur yang koheren dan terpadu yang mengatur keseluruhan karya sastra (Faruk 17).

Dalam kaitannya dengan konsep struktur karya sastra, Goldmann berpendapat bahwa novel merupakan cerita tentang pencarian yang terdegradasi akan nilai-nilai yang otentik dalam dunia yang juga terdegradasi, dan pencarian itu dilakukan oleh seorang pahlawan (hero) yang problematik. Yang dimaksud dengan nilai-nilai yang otentik itu adalah totalitas yang secara tersirat muncul dalam novel. Dengan begitu, nilai-nilai tersebut hanya dapat dilihat dari kecederungan terdegradasinya dunia dan problematiknya sang hero. Itulah sebabnya, nilai otentik hanya berbentuk konseptual dan abstrak , serta hanya berada dalam kesadaran penulisnya (Faruk 18).

Goldmann membagi novel dalam tiga jenis, yaitu novel idealisme abstrak, dimana tokohnya masih ingin bersatu dengan dunia, namun karena persepsi tokoh tersebut bersifat subjektif, idealismenya menjadi abstrak; novel romantisme keputusasaan, dimana kesadaran tokohnya terlampau luas dari dunia sehingga menjadi berdiri sendiri dan terpisah dari dunia; dan yang terakhir adalah novel pendidikan, yang menampilkan pahlawan yang mempunyai kesadaran akan kegagalannya ketika ingin bersatu dengan dunia karena memilki interioritas (Faruk 19).

4. Dialektika Pemahaman-Penjelasan

Dalam perspektif strukturalisme genetik, karya sastra merupakan sebuah struktur koheren yang memiliki makna. Dalam memahami makna itu Goldmann mengembangkan metode yang bernama metode dialektik. Prinsip dasar metode dialektik yang membuatnya berhubungan dengan masalah koherensi di atas adalah pengetahuannya mengenai fakta-fakta kemanusiaan yang akan tetap abstrak apabila tidak dibuat konkret dengan mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan. Untuk itu metode dialektik mengembangkan dua pasangan konsep yaitu “keseluruhan-bagian” dan “pemahaman-penjelasan” (Faruk 19-20).

Dialektik memandang bahwa tidak ada titik awal yang secara mutlak sahih dan tak ada persoalan yang secara mutlak pasti terpecahkan. Setiap gagasan individual akan berarti jika ditempatkan dalam keseluruhan, demikian juga keseluruhan hanya dapat dipahami dengan menggunakan fakta-fakta parsial yang terus bertambah. Dengan kata lain, keseluruhan tidak dapat dipahami tanpa bagian, dan bagian tidak dapat dimengerti tanpa keseluruhan (Faruk 20).

Sebagai sebuah struktur, karya sastra terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil, yang mana dengan mengidentifikasinya akan membantu kita memahami apa sebenarnya karya tersebut. Namun teks sastra itu sendiri merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih besar yang membuatnya menjadi struktur yang berarti. Dalam memahaminya harus juga desertai usaha menjelaskanya dengan menempatkannya dalam keseluruhan yang lebih besar. Inilah sebenarnya konsep dialektika “pemahaman-penjelasan”, dimana pemahaman adalah usaha untuk mengerti identitas bagian, sedangkan penjelasan adalah usaha untuk mengerti makna itu dengan menempatkannya dalam keseluruhan yang lebih besar.

Daftar Pustaka

“Jean Piaget.” Wikipedia. 27 Okt. 2010. <http://en.wikipedia.org/wiki/Jean_ Piaget#Genetic_ epistemology>

Faruk, Dr. Pengantar Sosiologi Sastra: dari Strukturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Jakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

Goldmann, Lucien. Method in the Sociology of Literature. Terj. William Boelhower. Oxford: Basil Blackwell, 1981.

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 24, 2011 in Critical Theory

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: