RSS

Teori Transactional Reader-response

27 Jan

Apakah “sastra” itu? Terry Eagleton dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif , mengatakan bahwa sastra adalah tulisan yang dinilai tinggi. Saya tidak ingin membahas tentang pengertian ini, namun saya tertarik pada kata “tulisan” dalam pengertian tersebut. Dengan kalimat yang sangat sederhana, jika saya boleh menyimpulkan, karya sastra adalah selalu berbentuk tulisan atau teks. Jika teks tersebut telah mendapat predikat sebagai karya sastra, tentunya sesuai dengan pengertian di atas, maka teks itu pastilah memiliki nilai yang tinggi. Kenapa memiliki nilai yang tinggi? Karena pastilah teks tersebut memiliki makna tertentu. Lalu, bagaimana sebuah teks dapat bermakna?

Sebagai jawaban pertanyaan tersebut, menurut Martin McQuillan (84), sebuah teks hanya akan menjadi bermakna jika teks tersebut dibaca, atau saat ketika pembaca berinteraksi dengan kata-kata pada halaman teks tersebut dalam rangka memproduksi makna. Ia menyebut kegiatan membaca sebagai sebuah partisipasi aktif dari pembaca untuk membangun makna dari secarik tulisan. Membaca, oleh karena itu, merupakan sesuatu dimana pembaca memiliki peran di dalamnya dan merupakan sesuatu yang terjadi selama periode waktu tertentu. Dalam terminologi McQuillan, membaca hanya terjadi ketika pembaca benar-benar membaca (berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan makna) sebuah teks yang benar-benar ada.

Apa yang diungkapkan oleh McQuillan di atas menunjukkan begitu pentingnya peranan pembaca dalam pemaknaan sebuah karya sastra. Karena itulah, tak bisa disangkal lagi bahwa pembaca sebenarnya adalah pemberi nilai pada sebuah karya sastra. Tinggi rendahnya nilai sebuah karya sastra ditentukan oleh bagaimana respon para pembaca teks tersebut. Berdasarkan dari hal-hal tersebut, muncullah sebuah konsep teori tentang respon para pembaca yang lebih dikenal sebagai Reader-response Theory.

Dalam perjalanannya, teori respon pembaca mengalami banyak perkembangan. Berbagai macam variasi dari teori ini muncul dengan perspektif dan fokus kajian yang berbeda-beda. Salah satu teori yang sekaligus akan menjadi fokus pembahasan kali ini adalah teori Transactional Reader-response. Sama seperti teori respon pembaca pada umumnya, teori ini juga melihat pembaca sebagai objek yang sangat penting dalam pembentukan makna. Lalu, apa yang spesial dari teori ini? Pertanyaan tersebut akan terjawab dalam pembahasan di bagian selanjutnya.

Sejarah dan Konsep Dasar Reader-response.

Teori respon pembaca (reader–response theory) kontemporer dikembangkan dari hermeneutika filosofis dan fenomenologi tahun 1950-an (Gregory 174). Namun, perhatian pada proses membaca sebenarnya sudah muncul selama tahun 1930-an sebagai reaksi terhadap kecenderungan yang tumbuh untuk menolak peran pembaca dalam penciptaan makna, yang merupakan prinsip formal dari New Criticism yang mendominasi praktek kritis pada 1940-an dan 1950-an. Dalam New Criticism, makna sebuat karya sastra terletak pada teks itu sendiri dan terlepas dari apapun. Makna tersebut  bukanlah hasil dari niatan pengarang dan tidak pula bisa berubah oleh respon pembaca. New Criticsberpendapat bahwa perhatian terhadap respon pembaca akan membuat rancu pengertian antara apakah teks tersebut sebenarnya dengan apa yang dilakukan oleh teks tersebut (what the text is with what the text does). Teori respon pembaca berpendapat bahwa arti sebuah teks tidak dapat dipisahkan dari apa yang dilakukan (dikatakan) oleh teks tersebut. Teori yang tidak mendapatkan banyak perhatian hingga 1970-an tersebut setidaknya meyakini dua hal: (1) bahwa peran pembaca tidak dapat dipisahkan dari pemahaman kita terhadap karya sastra, dan (2) bahwa para pembaca tidaklah secara pasif mengkonsumsi makna yang disajikan oleh sebuah teks sastra objektif; melainkan secara aktif menciptakan makna yang mereka temukan dalam karya sastra (Tyson 170).

Keyakinan bahwa para pembaca secara aktif membuat makna, sebagaimana di atas, tentu saja berarti bahwa pembaca yang berbeda dapat dapat membaca sebuah teks yang sama dengan cara yang berbeda. Bahkan, para ahli teori respon pembaca meyakini bahwa seorang pembaca yang membaca sebuah teks pada dua kesempatan yang berbeda mungkin akan menghasilkan makna yang berbeda pula. Hal ini dikarenakan banyaknya variabel yang memberikan kontribusi terhadap pengalaman kita atas teks tersebut, misalnya pengetahuan yang kita peroleh dari pembacaan pertama dan kedua, pengalaman pribadi yang muncul di sela-sela kedua pembacaan tersebut, pergantian mood (suasana hati) di saat jeda dua pembacaan itu, ataupun pergantian tujuan dalam membaca teks tersebut (Tyson 170).

Sebagai contoh untuk memperjelas uraian di atas, ada seorang pengusaha kaya yang berniat membeli sebuah mobil mewah. Oleh pihak dealer ia diberi sebuah brosur mengenai spesifikasi dan keunggulan mobil yang dibelinya. Ketika selesai membaca brosur tersebut sang pengusaha menjadi tertarik dengan segala fasilitas dan kemewahan yang akan ia dapatkan jika membeli mobil itu. Akhirnya ia membeli mobil tersebut. Baru dua bulan berselang, badai krisis ekonomi yang dahsyat melanda, sehingga mengakibatkan kebangkrutan bisnisnya. Saat itu ia kehilangan segalanya dan terbebani hutang yang sangat besar serta harus menyelesaikan hutang tersebut secepatnya. Ia mencoba mencari jalan keluar, namun belum mendapatkannya juga. Tanpa sengaja, ia menemukan brosur mobil mewah yang pernah ia beli. Ia pun membaca kembali brosur mobil tersebut dan menemukan bahwa yang membuat mahal mobil itu adalah spesifikasinya yang mewah, yang sebenarnya di sisi lain juga menjadikannya memiliki kelemahan, yaitu mudah dicuri dengan beberapa peralatan khusus yang sederhana. Sang mantan pengusaha berpendapat bahwa untuk mengatasi masalah keuangannya, ia bisa mencuri sebuah mobil dengan tipe sama dengan di brosur, lalu menjualnya.

Hal di atas memberikan gambaran bahwa ketika sang pengusaha masih kaya ia memaknai apa yang tersurat di dalam brosur sebagai suatu bentuk kesempatan melegitimasi statusnya sebagai orang kaya, yaitu dengan cara membeli mobil mewah tersebut. Akan tetapi, ketika jatuh miskin dan memerlukan uang dalam jumlah yang sangat besar dalam waktu yang cepat, ia memaknai teks dalam brosur tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk melakukan tindak kejahatan dalam rangka menyelesaikan persoalan finansialnya. Pengalaman yang muncul di sela dua waktu pembacaan brosur oleh pengusaha tersebut serta perubahan mood dan motivasi yang mengikutinya telah membuat sang pengusaha berubah dalam memaknai isi dari brosur itu. Dengan kata lain, teks tersebut pada akhirnya berubah maknanya bagi si pengusaha. Hal ini menegaskan bahwa sebuah teks tertulis bukanlah sebuah objek, walaupun memiliki keberadaan secara fisik, namun  merupakan sebuah peristiwa yang terjadi di dalam diri seorang pembaca, yang mana respon pembaca tersebut merupakan hal paling penting dalam pembentukan makna teks (Tyson 172).

Teori Transactional Reader-response.

Teori respon pembaca transaksional (transactional reader-response) seringkali dihubungkan dengan Louise Rosenblatt, karena ia banyak sekali menyumbangkan pemikiran-pemikiran dalam perkembangan teori ini.Transactional reader-response membahas tentang transaksi antara teks dengan pembaca. Rosenblatt tidak menolak pentingnya teks dalam mendukung pembaca, namun ia berpendapat bahwa keduanya dibutuhkan dalam penciptaan makna (Tyson 173).

Lalu, bagaimanakah transaksi tersebut berjalan? Sebagaimana yang telah dibahas di atas, makna dari sebuah teks muncul pada pembaca dengan dipengaruhi oleh berbagai variabel. Sebuah teks bertindak sebagai suatu stimulus atau rangsangan dimana kita meresponnya dengan cara kita sendiri. Perasaan, ingatan, dan asosiasi akan muncul ketika kita membaca. Semua hal tersebut mempengaruhi kita dalam memahami dan memaknai sebuah teks. Karya sastra yang pernah kita baca sebelumnya, semua pengetahuan kita, dan bahkan kondisi fisik serta suasana hati kita saat ini juga mempengaruhi hal pemahaman dan pemaknaan tersebut. Ketika kita membaca, teks bisa berlaku sebagai cetak biru (blueprint) yang bisa digunakan untuk memperbaiki interpretasi kita ketika menyadari bahwa kita telah membuat sebuah penafsiran yang terlalu jauh dengan apa yang ditulis pada teks. Proses memperbaiki interpretasi ini biasanya berakibat pada kembalinya kita untuk membaca lagi bagian sebelumnya dalam rangka mempertimbangkan beberapa berkembangan dari teks yang telah kita temukan. Jadi, sebuah teks memandu kita untuk melakukan koreksi secara mandiri atas penafsiran kita dalam rangka membangun interpretasi yang lengkap. Sehingga penciptaan sebuah karya sastra, merupakan sebuah produk transaksi antara pembaca dan teks, yang mana keduanya sama-sama penting di dalam proses tersebut (Tyson 173).

Pada bukunya yang berjudul The Reader, The Text, The Poem, Rosenblatt memperkenalkan dua strategi pembacaan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi motif dari para pembaca dan “transaksi” mereka dengan karya sastra. Yang pertama adalah pembacaan estetik (aesthetic reading), dimana pembaca mencurahkan perhatian khusus pada apa yang terjadi selama ia membaca (Davis dan Womack 54-5). Ketika kita membaca dalam mode estetik ini, kita mengalami sebuah hubungan pribadi dengan teks yang membuat perhatian kita fokus pada kehalusan emosi dari bahasanya dan mendorong kita untuk membuat penilaian (Tyson 173). Strategi yang kedua adalah pembacaan nonestetik (nonaesthetical reading), dimana pembaca memfokuskan perhatian pada jejak-jejak pengetahuan dan data yang akan tetap ada setelah proses membaca. Rosenblatt menyebut strategi ini sebagai sebuah pembacaan efferent, dimana pembaca membuat diri mereka sendiri tertarik pada apa yang akan diperoleh secara materi dari pengalaman membaca tersebut (Davis dan Womack 55). Ketika kita membaca dengan mode efferent, kita berfokus pada informasi yang termuat pada teks, seakan-akan teks tersebut adalah sebuah gudang fakta dan ide yang bisa kita bawa kemana-mana. Oleh karena itu, dalam rangka memunculkan transaksi antara teks dan pembaca, pendekatan atau strategi pembacaan kita terhadap teks haruslah secara estetik daripada efferent. Tanpa pendekatan estetik, tidak mungkin ada transaksi antara pembaca dan teks yang dapat dianalisa (Tyson 173-4).

Para pengikut Wolfgang Iser (seorang ahli sastra dari Jerman) mungkin akan menjelaskan apa yang oleh Rosenblatt disebut sebagai blueprint dan fungsi stimulus dari teks dengan istilah-istilah pemaknaan yang selalu ditawarkan oleh setiap teks: makna determinate dan makna indeterminate. Makna determinate merujuk pada apa yang disebut sebagai fakta dari teks, peristiwa-peristiwa tertentu pada alur cerita, atau deskripsi fisik yang jelas yang disediakan oleh kata-kata pada sebuah halaman. Kebalikannya, makna indeterminate, mangacu pada “celah” (“gaps”) pada teks—misalnya aksi yang tidak dijelaskan secara gamblang atau seakan-akan memiliki beberapa penjelasan—yang memungkinkan atau bahkan mengundang para pembaca untuk menciptakan penafsiran menurut mereka sendiri. Dengan demikian, pendekatan efferent Rosenblatt bergantung seluruhnya pada makna determinate, sedangkan pendekatan estetiknya bergantung baik pada makna determinate maupun makna indeterminate (Tyson 174).

Interaksi antara makna determinate dan indeterminate berakibat pada sejumlah pengalaman yang terus-menerus pada pembaca: retrospeksi, atau berpikir kembali ke apa yang sudah kita baca sebelumnya di dalam teks; antisipasi atas apa yang akan terjadi berikutnya, pemenuhan atau kekecewaan atas antisipasi kita; revisis atas pemahaman kita terhadap tokoh atau peristiwa; dan seterusnya. Pada suatu titik di sebuah karya sastra makna determinate sering muncul, namun di titik selanjutnya bisa saja makna indeterminate yang menjadi lebih sering keluar. Hal tersebut terjadi sejalan dengan sudut pandang kita yang berubah menjadi berbagai macam perspektif yang dihadirkan oleh, sebagai contoh, narator, tokoh-tokoh, dan peristiwa-peristiwa dari alur cerita yang tak terurai. Jadi, menurut Iser, teks itu sendiri menuntun kita melalui berbagai proses yang terlibat dalam penafsiran makna teks tersebut (Tyson 174).

Menurut para ahli teori transaksional, pembaca yang berbeda muncul dengan interpretasi yang berbeda namun dapat diterima (acceptable interpretation). Hal ini terjadi karena teks memungkinkan untuk munculnya berbagai makna yang dapat diterima, yaitu yang memiliki dukungan tekstual. Akan tetapi, karena adanya teks nyata yang terlibat dalam proses ini yang menjadi acuan respon kita, tidak semua pembacaan dapat diterima, bahkan beberapa pembacaan bisa saja lebih diterima dari yang lain (Tyson 174).

Aplikasi Singkat Teori Transactional Reader-response

THIRD GOD (to Wong). Water Seller, is it so hard to find a place to stay?

WONG. Nothing could be easier. It’s just me. I don’t go about it right.

THIRD GOD. Really? (He returns to the others. A Gentleman passes by.)

WONG. Oh dear, they’re catching on. (He accosts the Gentleman.) Excuse the intrusion, dear sir, but three Gods have just turned up. Three of the very highest. They need a place for the night. Seize this rare opportunity—to have real gods as your guests!

GENTLEMAN (laughing). A new way of finding free rooms for a gang of crooks.

(Exit Gentleman.)

WONG. (shouting at him).Godless rascal! Have you no religion, gentlemen of Setzuan? (Pause) Patience, illustrious ones! (Pause.) There’s only one person left. Shen Te, the prostitute. She can’t say no. (Calls up to a window.) Shen Te!

(Shen Te opens the shutters and looks out.)

WONG. They’re here, and nobody wants them. Will you take them?

(Prolog.86-108)

Kutipan drama di atas diambil dari karya Bertholt Brecht yang berjudul The Good Woman of Setzuan, adegan prolog, baris 86 sampai dengan 108. Sebagai gambaran umum, pada adegan tersebut dikisahkan, ada tiga orang dewa yang datang ke bumi dan menunaikan sebuah tugas penting, yaitu mencari satu orang baik di bumi sebagai syarat kesepakatan para dewa yang lain agar bumi tidak dihancurkan karena dianggap sudah tidak ada manusia baik di bumi. Seiring dengan berjalannya waktu, ketiga dewa tersebut tiba di sebuah kota bernama Setzuan, dan hari telah beranjak gelap. Di saat seperti itu mereka disambut oleh seorang penjual air, yang bernama Wong, yang telah mengetahui jati diri mereka sebagai dewa dan tujuan mereka datang ke bumi. Wong kemudian membantu ketiganya untuk mencari tempat menginap. Ia mencoba meminta bantuan kepada orang-orang Setzuan agar membantu para dewa tersebut.

Setelah membaca kutipan adegan di atas, dengan menggunakan pendekatan efferent, seorang pembaca dapat dengan mudah melihat bahwa dewa ketiga bisa melihat kesulitan Wong dalam mencari bantuan. Pembaca juga bisa melihat bahwa Wong dengan gigih berusaha membujuk seorang laki-laki yang lewat agar ia mau menolong dewa-dewa tersebut, namun si lelaki menolak mentah-mentah walaupun Wong sudah mengatakan bahwa orang-orang yang memerlukan pertolongan tersebut adalah benar-benar dewa. Laki-laki tersebut juga menunjukkan ketidakpercayannya terhadap apa yang dikatakan oleh Wong. Pada akhir kutipan pembaca bisa menyaksikan bahwa ternyata Wong masih memiliki orang terakhir yang dapat ia harapkan untuk menolong para dewa itu, yaitu seorang prostitusi bernama Shen Te.

Melalui pendekatan efferent, seorang pembaca bisa mendapatkan makna determinate seperti di atas. Namun, ketika yang bersangkutan ditanya mengenai mengapa Shen Te dijadikan pilihan terakhir oleh Wong, maka makna determinatetersebut tidak bisa memberikan cukup jawaban. Pembaca harus membaca dan melihat kembali adegan sebelum kutipan di atas serta mencermati setiap makna kalimat untuk menemukan makna indeterminate. Hal ini bisa dilakukan dengan mengaplikasikan pendekatan estetik.

Melalui pendekatan estetik, pembaca bisa memperhatikan bahwa alasan kenapa Shen Te menjadi orang terakhir yang dipilih oleh Wong adalah karena ia seorang prostitusi. Sebagaimana dikisahkan sebelumnya, alasan ketiga dewa tersebut adalah untuk mencari “orang baik” di bumi sebagai syarat agar bumi tidak dimusnahkan oleh para dewa. Hal tersebut telah diketahui oleh Wong, si penjual air. Manakala ia mendapati para dewa tersebut sampai di Setzuan ketika hari mulai gelap, Wong segera berinisiatif untuk mencari bantuan. Karena para dewa itu datang dengan membawa misi mulia, yaitu mencari “orang baik” di dunia, Wong tidak ingin mengecewakan mereka. Oleh karena itu, hal pertama yang ia lakukan adalah meminta pertolongan kepada orang-orang yang dianggapnya “baik”, salah satunya seorang laki-laki yang di dalam drama disebut GentlemanGentleman sendiri biasanya digunakan sebagai sebutan bagi laki-laki yang terhormat dalam budaya Eropa. Ketika si Gentleman menolak permohonannya untuk menolong tiga dewa, Wong menjadi geram dan hampir seperti kehabisan akal. Akhirnya, sebagai pilihan terakhir, ia memilih Shen Te. Shen Te sendiri menjadi pilihan terakhir Wong dikarenakan pekerjaannya sebagai prostitusi yang dianggap sebagai pekerjaan yang tidak baik. Prostitusi yang identik dengan citra wanita “nakal” membuat Wong pada awalnya segan untuk mempertemukan Shen Te dengan tiga dewa itu. Ia khawatir, jika dewa-dewa tersebut tahu siapa sebenarnya Shen Te, mereka akan marah dan langsung membatalkan misi mereka, yang tentunya berakibat pada hancurnya kehidupan manusia termasuk dirinya.

Daftar Pustaka

Brecht, Bertolt. The Good Woman of Setzuan. 1948. Terj. Eric Bentley. Types of Drama: Plays and Context. Ed. Sylvan Barnet, dkk. Edisi Kedelapan. New York: Longman, 2001. 1009-38.

Castle, Gregory. The Blackwell Guide to Literary Theory. Malden, USA: Blackwell Publishing, 2007.

Davis, Todd F. dan Kenneth Womack. Transitions: Formalist Criticism and Reader-Response Theory. New York: Palgrave, 2002.

Eagleton, Terry. Teori Sastra: Sebuah Pengatar Komprehensif. Terj. Harfiah Widyawati dan Evi Setyarini. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

McQuillan, Martin. “There is No Such Thing as Reader-response Theory”. Introducing Literary Theories: A Guide and Glosary. Ed. Julian Wolfreys. Edinburgh: Edinburgh University Press, 2001. 84-97.

Mews, Siegfried. “Bertolt Brecht.” Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005.

Tyson, Lois. Critical Theory Today: A User-friendly Guide. Edisi Kedua. New York: Routledge, 2006.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2011 in Critical Theory

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: