RSS

Humaniora dan Posmodernisme

09 Feb

Pada tahun 1959 Charles Percy Snow, seorang novelis dan ilmuwan sains Inggris, memberikan kuliah dan menerbitkan sebuah buku di Universitas Cambridge, Inggris, yang berjudul The Two Cultures and the Scientific Revolution. Perkuliahan dan buku tersebut langsung memicu diskusi dan perdebatan yang panas di kalangan para ilmuwan karena menganggap humaniora sebagai sebuah misi intelektual yang tidak tegas dan tidak mampu memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan  masyarakat yang hidup di negara dengan tingkat perekonomian yang rendah. Para humanis merasa sangat terganggu dengan hal tersebut, apalagi Snow juga menyatakan, tanpa dilengkapi bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, bahwa kedamaian dan kesejahteraan dunia akan lebih meningkat jika melatih lebih banyak ilmuwan sains dan insinyur-insinyur teknik dengan mengurangi ahli sejarah, filsuf, dan kritikus sastra. Tiga tahun kemudian, F.R. Leavis, seorang kritikus sastra yang dikagumi di Universitas Cambridge, memberikan bantahan keras terhadap pernyataan Snow tersebut. Ia menyindir Snow sebagai seorang ahli kimia yang gagal, penulis novel yang tidak berkompeten, dan komentator sosial yang tidak memahami permasalahan serius dunia (Kagan 1).

Pandangan tak berdasar C.P. Snow di atas kenyataannya merupakan sesuatu yang juga masih mendominasi pemikiran (mungkin) kebanyakan orang yang lahir sebagai hasil produk modernitas. Kita bisa melihat, para orang tua saat ini begitu kebingungan untuk memberikan pelajaran tambahan bidang-bidang ilmu eksak, seperti matematika dan turunannya, untuk putra-putrinya. Mereka berusaha sedapat mungkin mencari lembaga bimbingan belajar yang memberikan solusi cara belajar paling efektif. Mulai dari metode smart solution yang aneh itu[1], sampai dengan metode sempoa—atau yang dengan bahasa (yang dianggap) lebih keren namun dipaksakan dikenal dengan sebutan mental aritmatika[2]. Mereka seakan merasakan sebuah bencana jika mendapati nilai rapor putra-putri mereka kurang dari rata-rata, khususnya pada mata pelajaran-mata pelajaran tersebut. Apapun yang terjadi, nilai-nilai mata pelajaran eksak haruslah bagus. Pemikiran ini timbul mungkin karena, antara lain, pandangan bahwa kehidupan putra-putri mereka akan dipastikan sejahtera jika mampu mengusai ilmu-ilmu eksak. Banyak orang tua yang berpikir bahwa menjadi kaya di masa depan adalah dengan menjadi dokter, programer komputer, ahli elektronika, atau insinyur mesin. Di lain pihak, menjadi ahli bahasa, pemikir kritis, ahli sejarah, atau budayawan bukanlah sebuah pilihan dalam benak mereka untuk putra-putrinya. Kenapa? Karena pilihan-pilihan kedua tersebut selalu identik dengan gaji rendah, prestise yang kurang, tukang bicara sedikit bekerja, dan sebagainya. Terminologi “sejahtera” bagi anak-anak mereka selalu diartikan sebagai kehidupan yang kaya raya secara materiil.

Hal di atas membuat kebanyakan orang memandang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, yang merupakan dasar pengetahuan bagi pekerjaan-pekerjaan pilihan kedua tersebut, sebagai rumpun ilmu kelas dua serta dan seringkali dianggap remeh serta cenderung disepelekan bahkan sampai saat ini. Sebagai contoh, sistem pendidikan di tingkat SMA dibedakan menjadi IPA dan IPS. Siswa-siswa yang berhak masuk ke kelompok kelas IPA adalah mereka yang menguasai materi-materi pelajaran bidang eksak (matematika, kimia, biologi, dan fisika) dengan baik, sedangkan yang berhak masuk ke kelompok kelas IPS adalah mereka yang menguasai dengan baik mata pelajaran sosial, seperti sejarah, ekonomi, dan geografi. Karena siswa yang pandai matematika serta pelajaran eksak lainnya masuk IPA, dan yang “pandai” pelajaran sosial masuk IPS[3], maka kelompok kelas IPA selalu dianggap sebagai kelompok kelas unggulan, tempatnya para siswa yang pandai.

Anggapan-anggapan di atas tentu saja bukanlah sesuatu yang berdasar kuat. Jika dilihat kembali, pepatah “tak kenal maka tak sayang” tampaknya berlaku pada stereotipe mengenai ilmu-ilmu humaniora. Para orang tua sepertinya hanya melihat ilmu humaniora dengan cara yang praktis dan tidak mendalam. Sebagaimana C.P. Snow, mereka tampaknya belum memahami apa sebenarnya humaniora itu, bagaimanakah perannya terhadap kehidupan umat manusia, dan apa yang telah dihasilkan oleh ilmu tersebut. Oleh karena itu, diperlukan adanya usaha penyadaran yang terus-menerus tentang apa dan bagaimana humaniora itu, serta pentingnya kajian ilmu humaniora dalam perkembangan kehidupan manusia.

Ilmu Humaniora

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat, humaniora berarti “ilmu pengetahuan (agama, filsafat, sejarah, bahasa, dan sastra, pelbagai cabang seni, dsb) yang berusaha menafsirkan makna kehidupan manusia di dunia dan berusaha menafsirkan martabat kepada penghidupan dan eksistensi manusia”. Sedangkan menurut kamus Merriam-Webster, humaniora—yang dalam bahasa Inggris disebut humanities—adalah cabang kajian (sebagaimana filsafat, seni, dan bahasa) yang menyelidiki konsep-konsep dan persoalan-persoalan manusia yang berbeda dengan proses-proses alami (seperti fisika atau kimia) dan hubungan-hubungan sosial (seperti dalam antropologi atau ekonomi). Senada dengan definisi ini, Woodhouse (Mustansyir 211), mengatakan bahwa humanities merupakan sekelompok disiplin pendidikan yang isi dan metodenya dibedakan dari ilmu-ilmu fisik dan biologi, dan juga paling tidak dibedakan dari ilmu-ilmu sosial. Kelompok kajian humanities meliputi bahasa, sastra, seni, filsafat, dan sejarah.

Dari pengertian-pengertian di atas, kita bisa menyimpulkan setidaknya dua hal. Yang pertama, humaniora adalah ilmu yang mengkaji hakikat manusia beserta persoalan-persoalan manusiawi mereka dengan tujuan untuk meraih kualitas kehidupan yang lebih baik. Karena humaniora mempelajari tentang manusia, oleh karena itu, objek material ilmu ini sebenarnya adalah manusia itu sendiri.

Yang kedua, humaniora terdiri dari cabang-cabang ilmu lain, diantaranya bahasa, sastra, filsafat, sejarah, dan seni. Ilmu-ilmu ini pada dasarnya sama-sama mengkaji tentang manusia, namun dengan cara yang berbeda-beda[4]. Sebagai contoh, bahasa mengkaji manusia melalui perilaku komunikasi verbal yang dilakukannya. Sastra mengkaji manusia melalui karyanya yang berupa tulisan-tulisan bernilai tinggi yang mencerminkan kedalaman berfikir dan olah rasa. Filsafat mengkaji manusia melalui pemikiran-pemikiran bijaksananya yang selalu ingin menemukan hakikat kebenaran dan eksistensinya. Sejarah mengkaji manusia dengan menyelidiki segala hal yang ditiggalkannya yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi, kehidupan, ataupun peristiwa yang terjadi di masa lalu. Sedangkan seni mengkaji manusia dengan melihat karya-karyanya yang artistik dan bernilai estetika tinggi yang merupakan perwujudan dari implementasi yang mendalam terhadap potensi kemanusiaan yang berupa cipta, rasa, karya, dan karsa.

Humaniora merupakan rumpun keilmuan yang memiliki karakteristik yang khas. Jerome Kagan (4) memformulasikan karakteristik humaniora sebagai sebuah kajian yang tertarik memahami reaksi manusia pada kejadian-kejadian yang dialami dan makna-makna yang disematkannya pada pengalaman-pengalaman yang dialaminya sebagai sebuah fungsi dari budaya, era historis, dan sejarah hidup. Lebih jauh, dalam artikelnya pada jurnal filsafat Wisdom, Rizal Mustansyir (212) mengatakan:

Humaniora merupakan studi yang memusatkan perhatiannya pada kehidupan manusia, menekankan unsur kreativitas, kebaharuan, orisinalitas, keunikan, Humaniora berusaha mencari makna dan nilai, sehingga bersifat normatif. Dalam bidang humaniora rasionalitas tidak hanya dipahami sebagai pemikiran tentang suatu objek atas dasar dalil-dalil akal, tetapi juga hal-hal yang bersifat imajinatif, sebagai contoh: Leonardo da Vinci mampu menggambar sebuah lukisan yang mirip dengan bentuk helikopter jauh sebelum ditemukan pesawat terbang.

Lalu, seberapa pentingkah kajian ilmu humaniora terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni? Jawabnya, tentu saja penting! Humaniora, menurut saya, merupakan ruh dari semua ilmu. Betapa tidak, humaniora merupakan satu-satunya rumpun ilmu yang mempelajari manusia dengan tujuan untuk memahami hakekat manusia itu sendiri agar bisa lebih memanusiakan manusia. Sedangkan di lain pihak, rumpun ilmu lain hanyalah bertujuan untuk memudahkan kehidupan manusia di dunia melalui kajian-kajian dan penemuan-penemuan. Dengan kata lain, sains dan ilmu sosial memudahkan kehidupan manusia, sedangkan makna serta hakikat tentang manusia dan kehidupan itu sendiri dijelaskan oleh humaniora. Tentunya, manusia tidak akan pernah bisa mengembangkan segala macam potensinya (termasuk di bidang sains dan ilmu sosial) jika tidak pernah memahami tentang hakikat dan keberadaanya.

Salah satu alasan kenapa humaniora saya sebut sebagi “ruh” ilmu lain, karena humaniora memberikan arah dan makna bagi keberadaan dan perkembangan ilmu lain. Sebagai contoh, dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, humaniora memberikan pandangannya melalui kajian-kajian etika ketika teknologi kloning baru muncul dan populer. Apakah logis, jika kloning diperbolehkan untuk diterapkan kepada manusia secara luas sehingga nilai-nilai dasar yang menjadikan seseorang disebut manusia menjadi kabur? Apakah etis, manusia bertindak seolah-olah menjadi Tuhan dengan sewenang-wenang membuat makhluk baru tanpa melalui proses reproduksi? Apakah berperikemanusiaan jika manusia membuat makhluk baru dan membiarkannya mati sebelum waktunya karena tidak sempurnya teknologi rekayasa kloning[5]?

Sebuah contoh lagi adalah dalam bidang teknologi komunikasi. Sebagaimana kita ketahui, teknologi informasi dan komunikasi manusia saat ini sudah sedemikian maju, sehingga seseorang tidak perlu bertemu muka langsung untuk mengadakan pertemuan atau rapat. Semuanya bisa dilakukan jarak jauh dan tanpa kabel. Akan tetapi, tiba-tiba saja kita secara tidak sadar telah melakukan sesuatu yang sangat besar dalam kehidupan kita melalui teknologi tersebut. Di satu sisi teknologi tersebut memang mendekatkan kita dari yang jauh. Namun di sisi lain, tanpa kita sadari teknologi itu juga menjauhkan kita dari orang yang sudah dekat secara spasial dengan kita. Kita selalu sibuk membalas tweet[6] dari orang-orang yang terkadang mukanya saja tidak kita ketahui, sedangkan di sebelah kita duduk seorang sahabat baik—yang juga sedang melakukan hal yang sama—yang selalu membantu kita disaat kita membutuhkan bantuan. Tiba-tiba saja kita kurang berinteraksi secara fisik bahkan dengan orang yang sangat dekat dengan kita.

Humaniora melihat fenomena tersebut dan berusaha mengingatkan kita melalui kajian-kajiannya bahwa kita terancam kehilangan predikat kita sebagai makhluk sosial, makhluk mulia ciptaan Tuhan yang senantiasa saling membantu satu sama lain melalui interaksi fisik. Kajian humaniora memberikan arah bagi teknologi tersebut agar digunakan sesuai dengan tujuan kebaikan manusia dan memanusiakan manusia. Humaniora juga memberikan makna bagi kehidupan kita dengan cara mengingatkan kita untuk selalu menjaga nilai kemanusiaan kita sebagai manusia yang sekaligus membuat kita berbeda dan lebih mulia dari pada makhluk lain.

Di sisi lain, humaniora ternyata juga memiliki peran lain yang sangat vital dalam teknologi informasi dan komunikasi. Peran bahasa dalam komunikasi dan transfer informasi merupakan sesuatu yang tak dapat diragukan perannya. Tak bisa dibayangkan bagaimanakah sebuah informasi disampaikan tanpa menggunakan bahasa (Mustansyir 213), atau bagaimana komunikasi verbal bisa berjalan tanpa menggunakan bahasa.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, sekali lagi humaniora berperan memberikan arah dan hakikat tujuan pengembangan tersebut. Humaniora senantiasa menjaga agar segala perkembangan ilmu pengetahuan selalu didasarkan atas kepentingan kebaikan umat manusia. Humaniora juga selalu menjaga agar dalam perkembangan tersebut manusia tetap menjadi subjek yang mengendalikan ilmu pengetahuan demi terciptanya kehidupan manusia yang lebih baik. Tak akan bisa dibayangkan bagaimana jadinya nanti jika teknologi robotik dan kloning menjadi sedemikian maju, sehingga tercipta manusia-manusia cyborg[7] atau robot-robot dengan kecerdasan buatan yang menyamai manusia, sehingga tiba-tiba dunia didominasi oleh bukan manusia lagi, melainkan oleh mesin-mesin ciptaan manusia. Manusia tiba-tiba menjadi tersingkir dari dunianya dan menjadi subordinat terhadap ciptaannya sendiri. Humaniora mengajak kita merenungkan hal ini, salah satunya, dengan cara memberikan suatu gambaran fiksi hal tersebut dalam bentuk film-film seperti trilogi Terminator dan trilogi Matrix.

Dalam perkembangan bidang seni, pentingnya humaniora sudah tidak disangsikan lagi, karena pada dasarnya seni juga termasuk ke dalam rumpun keilmuan humaniora, sebagaimana tersinggung dalam pengertian humaniora di atas. Seni selalu berasal dari manusia dan keindahannya ditujukan untuk dinikmati indera manusia. Hal ini sangat sejalan dengan kajian humaniora yang selalu menjadikan manusia sebagai subjek. Dengan humaniora, seni menjadi lebih kaya, indah, dan bermakna karena selalu berpegang pada nilai-nilai kehidupan manusia. Etika dalam humaniora juga menjaga agar seni tidak membuat kehidupan manusia hancur oleh perpecahan dan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan.

Beberapa tahun yang lalu kita melihat dan mendengar bagaimana seorang berkebangsaan Denmark membuat karikatur-karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut menimbulkan kemarahan dan protes yang luar biasa dari umat Islam di seluruh dunia. Hingga banyak orang tiba-tiba saja menjadi terpanggil untuk melakukan jihad karena merasa benar-benar tersinggung oleh kejadian tersebut. Peristiwa tersebut mulai mereda ketika banyak sekali pihak di luar umat muslim yang ternyata juga memandang hal tersebut sebagai suatu yang tidak sepatutnya dan tidak beretika. Tidak akan bisa dibayangkan apa yang mungkin bisa terjadi jika dalam seni tidak ada unsur etika yang dilibatkan. Karikatur-karikatur semacam itu bisa saja dianggap sebagai sebuah karya seni, tanpa menghiraukan bahwa ada pihak yang berkeberatan dan rela mati untuk membela apa yang dipercayainya tersebut. Pada akhirnya hal tersebut bisa mengakibatkan perpecahan dan peperangan yang nilai dampaknya akan jauh lebih besar dari pada nilai seni karikatur itu sendiri.

Humaniora dan Posmodernisme

Perkembangan konsep humaniora modern sebenarnya berawal dari jaman Yunani Kuno. Konsep tersebut berasal dari paideia Yunani Klasik, yang merupakan suatu program pendidikan umum yang berasal dari kaum sofis pada pertengahan abad ke-5 SM, yang menyiapkan para pria muda untuk menjadi warganegara aktif dalam polis. Tidak hanya itu, konsep humaniora juga berasal dari terminologi Cicero humanitas (yang berarti secara harfiah “sifat manusia”), yang merupakan program pelatihan bagi calon orator yang pertama kali ditetapkan di De Oratore pada tahun 55 SM. Pada perkembangan selanjutnya, konsep-konsep tersebut diadopsi dan diadaptasi oleh berbagai pemikir, mulai dari St. Augustine, para pemikir abad pertengahan, hingga para pemikir abad 19 seperti Wilhelm Dilthey dan Heinrich Rickert (“humanities”, Encyclopædia Britannica 2007). Pemikiran-pemikiran para filsuf tersebut telah membuat konsep sederhana paideia dan humanitas berkembang hingga menjadi konsep humaniora pada saat ini. Bahkan, di era modern seperti sekarang ini, konsep humaniora juga terus berkembang dan dipengaruhi oleh pikiran-pikiran kritis modern. Seiring dengan munculnya pemikiran posmodernisme yang merupakan perwujudan dari ketidakpuasan terhadap proyek-proyek modernitas, humaniora juga turut berkembang menjadi sebuah kajian yang berusaha mengkaji hal-hal yang melampui batas-batas modernitas.

Secara umum, konsep dasar posmodern adalah menolak kemapanan-kemapanan yang ditawarkan oleh modernitas. Listiyono Santoso (dalam Santoso dkk. 320-322) mengatakan bahwa di tengah kemapanan dan pesona yang ditawarkan oleh proyek modernisasi dengan rasionalitasnya, postmodern justru (di)tampil(kan) dengan sejumlah evaluasi kritis dan tajam terhadap impian-impian masyarakat modern. Munculnya postmodern merupakan suatu sinyal atas hadirnya sejumlah pemikir, filsuf, dan intelektual yang berusaha melakukan dekonstruksi atas basis dasar pengetahuan modern. Artinya, nilai yang ditawarkan oleh postmodern adalah betapa gagasan –gagasan dasar, seperti filsafat, rasionalitas, dan epistemologi, dipertanyakan lagi secara radikal. Dengan demikian, terminologi postmodernisme lebih berkaitan dengan suatu sikap kritis atas segala bentuk kemapanan (status quo) yang diciptakan oleh proyek modernisasi.

Menurut Lyotard, postmodern merupakan suatu periode dimana segala sesuatu di-deligitimasi-kan (Sugiharto dalam Santoso 324). Postmodern mendeligitimasi sistem totaliter yang biasanya bersifat hegemonis dan pro status quo agar tidak memberangus munculnya kebenaran-kebenaran yang bukan sekadar kebenaran tunggal. Ketika posisi pengetahuan dilegitimasikan oleh narasi-narasi besar seperti kebebasan, kemajuan, emansipasi, dan sebagainya, maka kini narasi-narasi besar tersebut telah mengalami nasib yang sama dengan narasi-narasi besar (metanarasi) sebelumnya—seperti religi, dialektika ruh, subjektivitas, dan sebagainya—yang menjadi patokan filsafat modern, yaitu mengalami kehilangan kekuatannya dan menjadi sulit dipercaya (Santoso 324-325). Sederhananya, postmodern menyadari bahwa dalam ranah rasionalitas tidak ada kebenaran yang yang bersifat tunggal dan absolut. Oleh karena itu postmodern menolak kebenaran tunggal dan memperjuangkan adanya berbagai realitas lain yang juga benar.

Postmodernisme sebagai epistemologi ditandai oleh keragaman argumen. Menurut Lyotard, postmodern berarti mencari ketidakstabilan. Kalau pengetahuan modern mencari kestabilan melalui metodologi, dengan “kebenaran” sebagai titik akhir pencarian, maka pengetahuan postmodern ditandai oleh runtuhnya kebenaran, rasionalitas, dan objektivitas. Prinsip dasarnya bukan benar-salah, tetapi sebagai paralogy atau membiarkan segala sesuatunya terbuka, untuk kemudian sensitif terhadap perbedaan-perbedaan. Tampaknya, semangat dekonstruksi Derrida berpengaruh pada prinsip pengetahuan postmodern untuk selalu melakukan revisi kritis pada setiap bentuk pengetahuan (Santoso 326).

Pada kenyataan masa kini, ilmu pengetahuan (sains) telah berkembang dengan sangat luar biasa sehingga menjadi sebuah rumpun ilmu yang sangat rumit karena telah menjadi sangat terspesialisasi. Sebagai contoh, ilmu kedokteran saat ini telah menjadi ilmu yang memiliki kajian spesialis yang sangat banyak, mulai dari organ bagian kepala yang terdiri spesialis THT-KL[8], spesialis mata, dst; organ-organ dalam manusia yang terdiri dari hematologi-onkologi, hepatologi, kardiovaskular, dst; spesialis ilmu kesehatan anak; sub-spesialis THT-KL; dan masih banyak lagi (“Dokter Spesialis”, http://id.wikipedia.org). Sebagai layaknya ilmu eksak, ilmu-ilmu spesialis di atas selalu mengkaji setiap objek kajiannya berdasarkan kenyataan-kenyataan empiris, setiap fenomena non-empiris, yang biasanya dikaji oleh oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora, tidak akan masuk pada pertimbangan pengkajian.

Akan tetapi, seiring munculnya semangat posmodern dewasa ini, paradigma ilmu-ilmu sains sepertinya juga turut terpengaruhi dan mulai berubah. Paradigma posmodern, yang tidak pernah menerima sebuah kemapanan dalam kebenaran tunggal dan selalu melihat kemungkinan adanya kebenaran-kebenaran lain, sedikit banyak telah mempengaruhi sikap dan paradigma ilmu-ilmu sains terhadap fenomena non-empiris. Ilmu-ilmu sains saat ini mulai melihat objek-objek kajian humaniora dan ilmu-ilmu sosial, yang terkadang non-empiris, sebagai objek potensial kajian. Hal ini salah satunya ditandai dengan dibukanya program studi (diploma III) pengobatan tradisional (Battra) yang berada di bawah Fakultas Kedokteran di Universitas Airlangga.

Dalam sebuah diskusi, seorang teman yang saat ini (2011) sedang dalam proses menyelesaikan pendidikan program doktoral pada bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Airlangga, mengatakan bahwa saat ini terdapat tren kejenuhan kajian pada ilmu-ilmu sains. Saking terspesialisasinya ilmu-ilmu tersebut, para praktisinya mulai merasa “kehabisan” bahan kajian. Di luar negeri, khususnya Australia, para praktisi dan peneliti ilmu kesehatan mulai tertarik dengan hal-hal yang berbau tradisional dan sedikit non empiris. Salah satu fenomena yang terjadi adalah munculnya kajian ethnomedicine. Banyak para peneliti dari Australia yang datang dan ”berpetualang” ke pelosok-pelosok Indonesia untuk mempelajari khasanah pengobatan tradisional suku-suku di Indonesia. Mereka tertarik melihat bagaimana beberapa penyakit diatasi oleh penduduk setempat dengan menggunakan kearifan-kearifan lokal yang mereka miliki. Objek-objek kajian mereka yang dulunya selalu bersifat empiris, pada saat ini menjadi tidak mutlak lagi. Mereka mulai melihat dan mengkaji bagaimana bisa seseorang di suatu komunitas tertentu merasa telah disembuhkan dari sakit kepala sebelah hanya dengan dibacakan mantra tertentu dan disembur air putih.

Munculnya posmodernisme dan tren penelitian tersebut tentunya telah memberikan keuntungan bagi cabang-cabang ilmu humaniora dan termasuk juga ilmu-ilmu sosial. Kini, orang-orang mulai melihat humaniora sebagi sebuah ilmu yang sangat berguna bagi perkembangan ilmu-ilmu lain, khususnya sains. Para peneliti ethnomedicine saat ini mulai membuka hasil-hasil kajian humaniora sebagai dasar dan pertimbangan bagi mereka untuk melakukan penelitian dan pengembangan keilmuan. Mereka juga mulai membaca sejarah suatu suku tertentu untuk menyelidiki rahasia keberhasilan suku tersebut dalam mengatasi wabah penyakit mematikan, semisal demam berdarah. Di lain pihak, munculnya posmodernisme juga membuat orang-orang mulai berpikir dan berusaha menjaga kualitas kemanusiaan mereka, dalam hubungannya dengan sesama manusia dan dengan lingkungan sekitar. Banyak orang yang sudah mulai peduli dengan kemajuan teknologi yang tidak hanya memberikan kemudahan bagi manusia saja, namun juga memberikan manfaat bagi lingkungan. Manusia mulai bepikir tentang bagaimana membuat dirinya lebih manusia dengan segala macam kemajuan yang diperoleh, namun di sisi lain berusaha untuk mempertahan eksistensinya di dunia dengan cara menjaga lingkungan tempat hidupnya. Cara-cara berpikir yang sejalan dengan konsep humaniora tersebut tampaknya mulai menjadi tren kehidupan masyarakat saat ini.

Penutup

Humaniora dalam perannya sebagai sebuah ilmu tampaknya mulai diperhitungkan oleh masyarakat luas. Hal ini salah satunya ditandai dengan banyaknya beasiswa untuk mahasiswa humaniora—yang di Amerika lebih dikenal dengan jurusan liberal arts—khususnya untuk yang belajar ke luar negeri. Di lain pihak, banyak cendekiawan yang mulai memahami bahwa humaniora telah memberikan pengaruh dan makna yang sangat penting bagi kemajuan ilmu-ilmu lain. Hal ini juga tidak terlepas dari munculnya sebuah fenomena paradigma berpikir posmodern yang membawa kembali relasi-relasi kebenaran humaniora yang sempat “terlupakan” oleh dominasi ilmu-ilmu sains selama abad 20.

Daftar Pustaka

“C. P. Snow.” Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005.

“humanities.” Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica, 2011.

“Dokter Spesialis”. Wikipedia: The Free Encyclopedia. 23 Jan. 2011, 04:58. <http://id.wikipedia .org/wiki/Dokter_spesialis> (27 Jan. 2011, 17:49).

“humaniora.” Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi keempat. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

“humanity.” Merriam Webster’s Distionary and Thesaurus. Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica, 2011.

“Kedokteran”. Wikipedia: The Free Encyclopedia. 1 Des. 2010, 23:03. <http://id.wikipedia.org/ wiki/Kedokteran> (27 Jan. 2011, 17:41).

“Mental Calculation”. Wikipedia: The Free Encyclopedia. 20 Jan. 2011, 17:54. <http://en.wikipedia. org/wiki/Mental_calculation> (26 Jan. 2011, 14:59).

Kagan Jerome. The Three Cultures: Natural Sciences, Social Sciences, and Humanities in the 21st Century. Cambridge: Cambridge University Press, 2009.

Mustansyir, Rizal. “Refleksi Filosofis Atas Perkembangan Ilmu-ilmu Humaniora”. Wisdom. Jilid 35, No 3, Tahun 2003. 12 Des. 2006. <http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewFile /7/5> (17 Jan. 2011, 13:03).

Santoso, Listiyono, dkk. Seri Pemikiran Tokoh: Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.


[1] Sesungguhnya metode smart solution tidak benar-benar memberikan solusi cerdas bagi para siswa yang mempelajarinya. Ketika mempelajari smart solution, yang terjadi sesungguhnya seorang siswa malah diharuskan untuk menghafalkan sekian banyak rumus baru yang merupakan rumus asli yang diringkas dan dimodifikasi dari sebuah operasi bilangan. Selain itu, satu rumus hasil smart solution tidak akan pernah bisa diterapkan pada operasi bilangan dengan dasar operasi sama namun berbeda besar bilangan atau ragam modifikasi operasinya.

[2] Dikatakan “dipaksakan” karena sesungguhnya kata “mental aritmatika” berasal dari bahasa Inggris mental arithmetic yang berarti melakukan penghitungan menggunakan mental atau bayangan (“Mental Calculation” http://en.wikipedia.org). Mental arithmetic jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia seharusnya menjadi “aritmatika mental” dan bukan “mental aritmatika, karena kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda.

[3] Tidak sepenuhnya siswa yang masuk IPS pandai pelajaran-pelajaran ilmu sosial. Seringkali terjadi ketika tiba saat penjurusan kelas, sebagian besar siswa di suatu sekolah memilih mendaftarkan dirinya untuk masuk kelompok IPA. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh sterotipe bahwa siswa kelas eksak adalah siswa yang pandai. Yang terjadi adalah, ternyata kapasitas kelas IPA sangat terbatas, oleh karena itu diadakanlah seleksi. Dari hasil seleksi didapatkan urutan nilai para siswa dalam penguasaan pelajaran eksak. Siswa dengan urutan nilai tertinggi langsung dimasukkan ke kelas IPA sampai memenuhi kuota jumlah siswa, sisanya langsung masuk ke kelas IPS. Terkadang siswa yang gagal masuk IPA sebenarnya memiliki nilai-nilai mata pelajaran sosial yang tidak lebih bagus daripada nilai-nilai pelajaran eksaknya.

[4] Sekaligus disebut juga sebagai objek formal ilmu humaniora.

[5] Kambing hasil kloningan pertama di dunia, Dolly, mati secara mengejutkan dan dengan umur yang relatif pendek. Penelitian terakhir menemukan bahwa Dolly mewarisi segala hal dari kambing yang menjadi gen source-nya, termasuk umur dan daya tahan jaringan tubuh, sehingga mengakibatkan Dolly mati walaupun sebenarnya dalam hitungan normal ia masih termasuk kambing muda.

[6] Istilah yang merujuk pada “pesan antarpengguna” dalam microblogging Twitter.

[7] Cyborg yang saya maksudkan di sini adalah cyborg yang benar-benar kecerdasan buatan (mesin) dan bukan oleh kemauan manusia yang ada di dalamnya.

[8] Telinga, Hidung, Tenggorok, dan bedah Kepala-Leher.

 

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on February 9, 2011 in Just My Thoughts

 

Tags:

6 responses to “Humaniora dan Posmodernisme

  1. Regina

    April 1, 2011 at 7:34 pm

    terima kasih, Mr.! saya mendapatkan bahan referensi yang bagus dan mudah dimengerti. ^^

     
    • Pujo Sakti

      April 1, 2011 at 7:47 pm

      sama-sama…
      terima kasih juga telah menyempatkan diri untuk mampir di blog ini. 🙂

       
  2. Lhabila

    June 14, 2011 at 10:58 am

    Terimakasihhh saya sudah dapat bahan prsentasi dr site ini

     
    • Pujo Sakti

      June 16, 2011 at 4:02 am

      sama-sama… semoga bermanfaat…

       
  3. hachi

    August 18, 2011 at 6:52 pm

    di radio nederlan siaran Indonesia, kalau dulu sih sering ada tuh humaniora
    krn cuma bincang-bincang di radio jadi terasa nggak terlalu berat.

    artikel ini kelihatannya gampang tapi ternyata berat juga

     
    • Pujo Sakti

      August 21, 2011 at 12:08 pm

      berarti yang anda pikirkan memang sama dengan saya… hehehe… tp memang inilah perkembangannya. pada akhirnya disadari bahwa kajian keilmuan bidang ini sebenarnya sangatlah luas dan kompleks, yang dalam banyak hal justru dapat memberikan alternatif solusi terhadap permasalahan yang tidak bisa diselesaikan oleh sains. sehingga tidaklah mengherankan jika dewasa ini banyak kajian keilmuan bidang humaniora yang berdiri menjadi disiplin ilmu atau fokus studi tersendiri di tingkat pendidikan tinggi di seluruh dunia.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: