RSS

Multikulturalisme dalam Film Cin(T)a

16 May

Poster Film Cin(T)a

Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,

Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,

Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa

Itulah bunyi lengkap bait ke 5 pupuh ke 139 kakawin Sutasoma yang dikarang oleh Mpu Tantular pada sekitar abad 13 (“Bhinneka Tunggal Ika,” http://en.wikipedia.org). Bait tersebut pulalah, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, yang menginspirasi founding fathers kita untuk menciptakan sebuah semboyan yang diharapkan bisa menjadi ruh dari sebuah negara yang waktu itu baru saja lahir, yang sebenarnya maknanya berbeda dengan konteks dari bait pada kakawin tersebut[1]. Kata bhinneka tunggal ika diambil sebagai sebuah semboyan yang berarti “berbeda-beda tetapi satu” dengan harapan bahwa yang negara baru lahir itu kelak dapat terus ada oleh karena persatuan yang kokoh walaupun negara yang bernama Indonesia itu terdiri dari berbagai macam perbedaan ras, agama, golongan, dan etnis.

Dari makna kata yang dipilih tersebut, tampaknya para pendiri negara kita pada waktu itu telah memahami bahwa negara ini adalah sebuah negara majemuk yang memiliki berbagai macam elemen yang berbeda, yang jika tidak disikapi dengan bijaksana, akan memungkinkan timbulnya perpecahan yang justru mengakibatkan runtuhnya negara tersebut. Karena itulah diperlukan suatu “pengikat” yang mampu mempersatukan perbedaan tersebut dalam kerangka negara kesatuan (Republik) Indonesia tanpa mengabaikan eksistensi perbedaan-perbedaan yang bersifat humanis tersebut. Maka semboyan bhinneka tunggal ika kiranya merupakan sebuah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan hal di atas sekaligus sebagai ruh dari semangat persatuan itu. Dengan demikian, pada taraf ini, semangat pluralisme dan multikulturalisme, semangat untuk tidak menghilangkan perbedaan, sebenarnya telah ditanamkan oleh bapak-bapak pendiri negara.

Pada pengantarnya untuk buku terjemahan Kymlicka yang berjudul Kewargaan Multikultural (2002), Budi Hardiman mengatakan bahwa dalam sebuah negara yang plural dan multikultur, diperlukan suatu sikap adil dari pemerintah terhadap perbedaan-perbedaan sebagai salah satu syarat utama terciptanya suatu masyarakat majemuk yang bersatu. Akan tetapi, hingga saat ini, hal tersebut tampaknya masih bukan hal yang mudah untuk dilakukan secara total. Ketidakadilan dalam birokrasi bagi etnis maupun golongan tertentu masih mewarnai  kehidupan bernegara kita. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang terlalu memihak kepada golongan tertentu juga masih sering dikeluhkan. Tidak hanya sikap adil otoritas pemerintah yang masih belum bisa dikatakan berhasil, semangat multikulturalisme itu sendiri masih menjadi sesuatu yang dipertanyakan keberadaannya dalam diri sebagian rakyat Indonesia. Setelah bergulirnya era reformasi, banyak anggota masyarakat yang tergabung ke dalam golongan atau organisasi tertentu yang berusaha untuk memaksakan kepentingannya ke kelompok lain dengan dalih kebenaran tunggal yang terkadang sulit untuk dilogika dengan pikiran jernih.

Isu-isu multikulturalisme seperti di atas hingga saat ini tampak selalu saja mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Saking maraknya kejadian meresahkan yang berhubungan dengan pelanggaran dan penegasian semangat multikulturalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, banyak pihak yang mencoba menyoroti hal tersebut dengan berbagai cara. Ada yang melakukannya lewat tulisan, demonstrasi, kampanye melalui internet, aksi langsung degan membuat kebijakan strategis—sebagaimana yang dilakukan mendiang Presiden Abdurrahman Wahid, atau dengan membuat film.

Dari sekian banyak film bertemakan multikulturalisme yang muncul sebagai bentuk keprihatinan terhadap semangat kemajemukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tersebutlah film yang berjudul Cin(T)a. Film ini adalah sebuah film independen yang menceritakan perjalanan cinta dua orang mahasiswa yang berasal dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda. Cina, tokoh utama laki-laki, adalah seorang mahasiswa keturunan Tionghoa yang berasal dari Batak dan pemeluk Kristen. Sedangkan Annisa, karakter utama perempuan, adalah seorang mahasiswi Muslim yang berasal dari etnis Jawa, sekaligus sebagai senior dari tokoh Cina. Kedua karakter tersebut bertemu di sebuah perguruan tinggi dan mulai berteman. Pertemanan itu berkembang menjadi perasaan saling suka sehingga membuat mereka merasa sangat dekat layaknya orang yang sedang pacaran. Akan tetapi, hubungan mereka menemui kendala yang sangat berarti terutama berkaitan dengan agama mereka yang saling berbeda. Pada akhirnya, mereka melihat bahwa perbedaan tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa mereka hindari dan memutuskan untuk merelakan hubungan mereka serta sepakat untuk berteman walaupun sebenarnya berat.

Isu-isu Multikulturalisme dalam Film Cin(T)a

"hidden message"

Isu-isu multikulturalisme yang diangkat oleh film Cin(T)a menurut saya sangat aktual pada saat ini (2011). Banyak hal yang seringkali terjadi pada kehidupan sebagian orang di dunia nyata yang digambarkan terjadi pada tokoh dalam film. Selain itu,  kenyataan bahwa Indonesia adalah negara yang multietnis dan multiras juga digambarkan dengan jelas dalam film ini melalui narasi, deskripsi tokoh, dan dialek serta dialog para tokohnya. Kemajemukan Indonesia digambarkan melalui adegan-adegan yang menggambarkan bagaimana sebuah institusi pendidikan Indonesia berisi mahasiswa yang identitas etnisnya beragam.

Sebagai contoh adalah tokoh Cina. Cina adalah seorang keturunan Tionghoa pada cerita film ini. Hal ini dilegitimasi oleh penggambaran fisik yang sangat sesuai dengan ciri-ciri fisik orang-orang keturunan Tionghoa. Dari dialognya dengan Annisa, tokoh utama perempuan, dapat diketahui pula bahwa Cina bukanlah orang yang berasal dari daerah dekat kampusnya (Bandung, Jawa Barat), melainkan dari Tarutung, Tapanuli, Sumatra Utara. Dialek dan gaya bahasa yang ia gunakan juga mencerminkan bahwa ia berasal dari daerah tersebut. Di sisi lain, teman-teman Cina tampaknya adalah orang-orang yang berasal dari Pulau Jawa, karena dilihat dari dialek yang mereka gunakan, mereka memiliki ciri khas cara berbicara orang-orang di Pulau Jawa, walaupun tidak bisa dipastikan Jawa yang mana.

Tokoh Annisa juga membawa identitas etnis yang sangat khas di Indonesia. Cara berbicara dan dialek yang digunakan Annisa menunjukkan ciri gaya bicara dan dialek yang digunakan oleh sebagian besar penduduk Pulau Jawa, sebagaimana dialek teman-teman Cina. Ketika adegan Annisa menerima telpon ibunya, penonton akan langsung bisa memastikan bahwa Annisa adalah seorang Jawa, karena gaya bicaranya yang halus dan menggunakan bahasa Jawa Krama ketika berbicara dengan ibunya, dimana ciri gaya bahasa ini lumrah dipakai oleh sebagian besar masyarakat Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Penggambaran fisik dan tingkah laku Annisa yang lemah lembut sesuai dengan stereotipe wanita Jawa tradisional menguatkan bahwa ia tak hanya orang dari Jawa, melainkan juga seorang etnis Jawa.

Selain identitas etnis yang diwakilkan oleh para karakter, identitas agama mereka juga berbeda-beda. Di awal film digambarkan bagaimana Cina berangkat kuliah dengan membawa Alkitab yang secara otomatis akan membuat penonton berkesimpulan bahwa dirinya adalah seorang Kristiani. Demikian pula ketika adegan Annisa mengambil air wudhu, sebuah identitas agama telah nampak padanya sebagai seorang Muslim yang langsung bisa disimpulkan oleh penonton. Di lain pihak, teman-teman Cina adalah pemeluk agama Islam, yang identitasnya bisa disimpulkan ketika salah seorang dari mereka mengucapkan kalimat tasbih[2] ketika memperhatikan dari atas sesosok perempuan cantik memasuki gedung kampus.

Apa yang kemudian menarik dari karakter yang berbeda-beda tersebut dia atas adalah bahwa interaksi dari orang-orang tersebut terjadi dengan biasa dan tampak tidak canggung[3]. Perbedaan etnis tampak tidak membuat mereka menjadi terkotak-kotak dan berusaha menutup diri satu sama lain. Cina tampak akrab dengan teman-temannya yang berbeda etnis dan melakukan obrolan-obrolan yang sama sekali tidak menyinggung tentang perbedaan etnis mereka. Ia dan temannya juga tampak saling menyapa setiap kali berpapasan. Keakraban itu memperlihatkan bahwa perbedaan etnis mereka tidak membuat mereka terbebani dalam berinteraksi sosial serta menunjukkan bagaimana mereka menempatkan sesama teman dalam posisi yang sama walaupun berbeda etnis.

Hal yang sama juga ditunjukkan ketika adegan-adegan interaksi Cina dengan Annisa. Keakraban mereka juga tidak tampak terkendala oleh perbedaan etnis. Salah satu hal yang menarik adalah ketika Annisa menanyakan mengapa Cina bekerja sebagai seorang pemijat refleksi di sebuah spa padahal ia adalah seorang keturunan Tionghoa. Pertanyaan Annisa ini sangat berbau stereotipe tentang orang-orang etnis Tionghoa di Indonesia, namun oleh Cina pertanyaan itu dijawab dengan santai dan tanpa beban bahwa tidak semua stereotipe itu benar. Di sisi lain, Annisa langsung memaklumi kenyataan tersebut dan menghargai apa yang dilakukan oleh Cina sebagai sesuatu yang wajar. Tidak ada ekspresi maupun dialog yang menunjukkan Annisa memandang rendah ataupun meremehkan Cina. Di sini nampak bahwa hubungan antara Cina dan Annisa adalah hubungan yang dilandasi sikap saling menghormati dan menghargai walaupun berada di bawah bayangan stereotipe yang sudah terlanjur ada dalam kesadaran mereka.

Interaksi persahabatan antara Cina dan Annisa serta Cina dengan teman-temannya di atas mengisyaratkan bahwa pada titik tersebut semangat multikulturalisme dapat berjalan dengan baik. Terlebih lagi, dalam berkomunikasi mereka tidak terkendala oleh bahasa yang berbeda pada masing-masing etnis karena mereka menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa telah menjadikan mereka bersatu tanpa menghilangkan kenyataan bahwa mereka memiliki perbedaan yang masih terwujud dalam dialek-dialek dan gaya bahasa yang berbeda. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Budi Hardiman bahwa pada negara yang majemuk, kohesi sosial dapat dihasilkan lebih jauh lewat ‘identitas bersama’ yang terbentuk melalui, salah satunya, kesamaan bahasa (dalam Kymlicka xiv). Bahasa yang mereka gunakan telah menjadi identitas bersama mereka sebagai orang Indonesia.

Semangat multikulturalisme yang berjalan dengan baik juga ditunjukkan ketika Cina berusaha untuk memahami perbedaan agama antara dirinya dan Annisa, dimana secara bersamaan, ia juga berusaha memahami bagaimana Annisa menjalankan ibadahnya. Pada awalnya memang terjadi kesalahpahaman. Namun kemudian Cina mampu mengerti dan memaklumi Annisa yang beragama dan beribadah dengan cara yang berbeda dengan dirinya. Puncaknya adalah ketika Cina dan Annisa bersama-sama saling membantu dalam merayakan hari raya Idul Fitri dan Natal yang kebetulan pada saat itu jatuh pada waktu yang sangat berdekatan.

Persahabatan Cina dan Annisa membawa mereka ke dalam perasaan yang jauh lebih mendalam. Mereka menjadi saling menyukai dan mencintai satu sama lain. Akan tetapi, perjalanan cinta mereka tidak berjalan dengan mulus, terutama disebabkan oleh perbedaan agama dan keyakinan yang mereka peluk. Konflik-konflik mulai muncul ketika mereka menyadari bahwa mereka terlalu cinta dengan Tuhan mereka masing-masing dan menemukan bahwa perbedaan agama mereka tidak akan pernah bisa dipertemukan secara total. Selain itu, Annisa merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa menikah dengan orang yang berbeda agama dengannya. Di sisi yang lain, di waktu yang bersamaan, terjadi sebuah peristiwa dimana terjadi pengeboman gereja oleh kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam. Hal ini membuat Cina berpikir dan mengevaluasi sikapnya terhadap perbedaan selama ini. Seakan mengoreksi usahanya untuk bertoleransi selama ini, Cina menjadi pesimis terhadap semboyan bhinneka tunggal ika dan berkesimpulan bahwa mungkin memang tidak ada tempat bagi perbedaan di Indonesia. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah dan menjadi teman baik.

Dalam konteks multikulturalisme keindonesiaan sekarang, pesimisme Annisa terhadap hubungannya dengan Cina adalah sesuatu yang aktual. Banyak diantara masyarakat Indonesia yang mengalami hal serupa dan berakhir sama dengan yang digambarkan dalam film, yaitu berpisah. Selain hukum Islam yang mengharamkan seorang muslimah menikah dengan laki-laki nonmuslim[4], pernikahan antaragama juga tidak pernah diatur oleh undang-undang. Bahkan, melalui UU Perkawinan no 1 tahun 1974, pemerintah telah dengan tegas mengatur bahwa sahnya perkawinan menurut negara adalah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan yang dianut kedua mempelai[5]. Ini berarti, jika seorang wanita muslim menikah dengan pria nonmuslim, dimana diharamkan menurut hukum Islam, maka pernikahan tersebut juga dianggap tidak sah oleh hukum negara. Karena tidak dianggap sah, maka anak dari perkawinan tersebut juga dianggap tidak sah oleh negara[6] serta hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya[7]. Konsekuensi dari hal ini adalah anak dari hasil perkawinan tersebut, karena orang tuanya tidak memiliki akta perkawinan, maka akan sulit untuk mendapatkan akta kelahiran, yang berdampak pada sulitnya mengurus birokrasi terutama yang berkaitan dengan kependudukan kelak di kemudian hari.

Faktor-faktor di atas tampaknya menjadi penyebab perkawinan antaragama sebagai sebuah isu multikulturalisme yang sampai saat ini masih menjadi sorotan. Pemerintah dinilai tidak menghormati hak-hak azasi manusia dengan tidak melegalkan pernikahan antaragama. Padahal, hak azasi manusia, menurut beberapa kaum liberal, merupakan bentuk hak dasar yang harus dipenuhi dalam rangka menyelesaikan isu minoritas dan menegakkan semangat multikulturalisme (Kymlicka 3-4).

Munculnya peristiwa pemboman gereja oleh kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam pada film Cin(T)a yang membuat tokoh Cina menjadi pesimis terhadap pandangannya akan keberagaman juga menunjukkan betapa kehadiran minoritas illiberal yang agresif-totaliter[8] telah mencederai semangat multikulturalisme yang sudah terbangun. Aksi kelompok tersebut, sebagaimana tergambar dalam film, terbukti telah sering mengabaikan hak-hak azasi yang dikaruniakan Tuhan secara langsung kepada manusia. Konsekuensi dari tindakan mereka tidak jarang berakibat jauh lebih besar yang mengakibatkan ketidakpercayaan dan kebencian terhadap agama Islam, sebuah mayoritas dimana minoritas tersebut termasuk di dalamnya.

Budi Hardiman menyarankan bahwa pada kelompok minoritas illiberal di atas, negara haruslah bersikap tegas dan bertindak demi law and order. Sikap tegas ini pada gilirannya bisa diterima, hanya jika negara dipercaya oleh rakyat karena bertindak konsisten dan tidak memihak (dalam Kymlicka xviii). Oleh karena itu, apabila pada masa mendatang masih saja muncul kejadian serupa, berdasarkan apa yang dikatakan Hardiman di atas, maka negara pada saat itu tentulah tidak tegas dan dipercaya oleh rakyatnya karena bertindak inkonsisten dan memihak.

Isu multikulturalisme lain yang diangkat dalam film Cin(T)a adalah diskriminasi birokrasi yang masih kerap terjadi di negeri ini. Di dalam film diceritakan bahwa Cina telah berulang kali mengajukan diri menjadi penerima beasiswa. Sebagai seorang yang berasal dari keluarga tidak mampu namun memiliki prestasi yang luar biasa, seharusnya ia memiliki kesempatan yang sangat besar untuk berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Akan tetapi, pada setiap pengumuman namanya tidak pernah tercantum sebagai penerima beasiswa dan hanya nama-nama yang sangat “Indonesia” dan “pribumi” saja muncul di pengumuman itu.

Hal ini menunjukkan betapa mental masyarakat kita, termasuk birokrasi, belumlah multikulturalis. Di sini, para imigran, khususnya Tionghoa, dan keturunannya—kendatipun telah mendapat status WNI—tetap dianggap ‘asing’ di hadapan mayoritas pribumi (Hardiman dalam Kymlicka xv). Ketidakadilan semacam ini tentunya berdampak buruk bagi kelangsungan dan kemajuan sebuah negara. Bisa jadi banyak orang yang berpotensi memberikan kontribusi kemajuan yang luar biasa bagi negara ini akan memilih untuk pindah ke luar negeri hanya karena perlakuan tidak adil dan diskriminatif dari birokrasi. Inilah tampaknya yang juga terjadi pada tokoh Cina yang akhirnya memilih untuk mencari beasiswa ke Singapura dan mengubur dalam-dalam cita-citanya menjadi gubernur Tapanuli. Pada akhirnya, orang-orang seperti Cina bisa saja membuat negara lain jauh lebih maju dan melupakan identitas asal-usulnya. Tentunya hal ini sangat merugikan bagi sebuah negara yang mengingkari semangat multikulturalisme.

Cin(T)a dan Multikulturalisme Kymlicka

Will KymlickaDalam bukunya Kewargaan Multikultural, Kymlicka telah bercerita panjang lebar tentang bentuk-bentuk multikulturalisme dan berbagai macam pelaksanaannya di negara-negara Eropa dan Amerika. Dari pemaparan tersebut satu hal yang dapat ditarik sebagai kesimpulan adalah bahwa apa yang disebut sebagai multikulturalisme di negara-negara barat seperti Amerika Serikat, Swiss, Perancis, Kanada, Australia, dan Inggris tidaklah benar-benar sama satu sama lain. Masing-masing memiliki kekhasan, baik itu dalam definisinya maupun dalam pelaksanaannya[9]. Kymlicka melihat, bahwa keberagaman definisi dan implementasi dari multikulturalisme itu bisa menimbulkan kebingungan dalam memahami apa arti multikulturalisme itu sendiri secara umum. Oleh karena itu ia berusaha untuk memberikan dasar teoritis bagi multikuturalisme dengan memakai pengertian yang berbeda (Kymlicka 26).

Dalam mendefinisikan multikulturalisme, Kymlicka memusatkan perhatiannya pada jenis ‘multikulturalisme’ yang timbul karena perbedaan bangsa dan etnis. Sehingga, suatu negara disebut multikultural apabila para nggotanya berasal dari berbagai bangsa (suatu negara multibangsa) atau telah beremigrasi dari berbagai bangsa (suatu negara polietnis) dan apabila kenyataan ini merupakan aspek yang penting dari identitas personal dan kehidupan politik. Dalam pengertian ini Kymlicka tidak memasukkan jenis-jenis kantong gaya hidup, gerakan sosial dan perkumpulan sukarela yang biasanya dimasukkan orang lain di dalam lingkup multikulturalisme. Hal ini karena ia menganggap bahwa dengan mengakomodasi perbedaan etnis dan bangsa hanyalah merupakan bagian dari perjuangan yang lebih besar untuk membuat demokrasi yang lebih toleran dan inklusif. Lebih lanjut, Kymlicka mengatakan ia berusaha agar teorinya tersebut dapat mencakup perjuangan melawan marginalisasi hak-hak minoritas kebudayaan yang melintasi garis-garis etnis dan bangsa, sebagaimana yang terjadi pada kaum perempuan, homo dan lesbian, dan para penyandang cacat. Ia melihat bahwa ada analogi penting antara tuntutan keadilan yang diajukan oleh gerakan dan kelompok sosial itu dengan tuntutan yang diajukan oleh kelompok etnis karena keduanya telah dikucilkan dan dikesampingkan karena ‘perbedaan’ mereka (Kymlicka 26-27).

Dari definisi multikulturalisme menurut Kymlicka di atas, jelaslah sudah bahwa film Cin(T)a sesuai dengan pengertian Kymlicka tentang multietnis dan multibangsa[10]. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana interaksi antara Cina yang seorang Batak-Tionghoa dengan Annisa yang seorang Jawa. Film tersebut juga memperlihatkan bagaimana dalam proses interaksi tersebut tidak tampak usaha-usaha memarjinalkan kelompok etnis atau bangsa yang lain. Semua berada pada kedudukan yang setara. Hal ini jelas mendukung semangat multikulturalisme yang diformulasikan oleh Kymlicka.

Akan tetapi, narasi besar dalam film tersebut sebenarnya adalah konflik yang muncul akibat perbedaan agama. Cina yang seorang Nasrani mencintai Annisa yang seorang Muslim. Perbedaan agama ini telah menimbulkan menimbulkan garis-garis batas yang membuat mereka memilih untuk merelakan dan mengakhiri hubungan tersebut, serta di sisi lain permasalahan aktual itu tidak diakomodasi oleh negara. Dalam definisi multikultural Kymlicka di atas, jelas tidak menyebutkan faktor agama ini sebagai salah satu hal yang diperhatikan dalam paradigma multikulturalisme. Pada bab-bab selanjutnya Kewargaan Multikultural, Kymlicka memang membahas beberapa peristiwa yang berkaitan dengan isu keagamaan, akan tetapi, alih-alih menempatkan isu perbedaan agama sejajar dengan isu etnis dan bangsa, Kymlicka cenderung memposisikan agama sebagai isu yang berada di bawah isu etnis[11]. Walaupun ada pendapat yang mengatakan bahwa agama merupakan bagian dari etnisitas[12], namun menurut saya, ciri khas kultur Indonesia telah membuat permasalahan etnis dan agama menjadi sesuatu yang berbeda. Sebagai contoh adalah apa yang digambarkan di dalam film Cin(T)a di atas, dimana permasalahan yang muncul lebih didominasi oleh perbedaan agama daripada perbedaan etnisitas ras.

Sehingga, dengan demikian, film Cin(T)a sebenarnya juga memberikan sebuah definisi baru tentang multikulturalisme Kymlicka, bahwa paradigma multikulturalisme seharusnya tidak hanya melihat perbedaan bangsa dan etnis sebagai permasalahan atau isu-isu multikulturalisme, namun harus juga memasukkan agama sebagai unsur yang harus juga diperhatikan, sejajar dengan isu perbedaan etnis dan bangsa. Dari narasi film tampak jelas bahwa perbedaan agama yang berujung pada sikap fanatisme yang berlebihan telah membawa kelompok-kelompok tertentu menjadi minoritas illiberal yang agresif-totaliter. Kelompok tersebut kemudian melakukan tindakan yang bertentangan dengan semangat toleransi pada multikulturalisme dengan cara-cara yang bahkan melanggar hukum nasional[13]. Ekses dari aksi tersebut pada gilirannya menimbulkan bentuk pesimisme yang lain terhadap semangat multikulturalisme, yang dalam hal ini ditunjukkan dengan evaluasi sikap yang dilakukan oleh tokoh Cina terhadap sikap menghargai perbedaan dan toleransinya selama ini, serta ketidakpercayaannya pada semboyan pluralisme bhinneka tunggal ika.

Simpulan

Film Cin(T)a merupakan sebuah film yang sarat dengan isu-isu multikultural. Salah satu yang paling kuat dibahas dalam film ini adalah isu pernikahan beda agama yang pada konteks keindonesiaan sekarang ini tidak diakomodasi oleh pemerintah padahal telah seringkali menimbulkan persoalan terutama di kalangan masyarakat.

Selain mengangkat isu-isu multikultural, film ini sebenarnya mengukuhkan definisi keberagaman Kymlicka mengenai multietnis dan multibangsa, serta di sisi lain sekaligus memberikan definisi baru mengenai multikulturalisme Kymlicka dengan mengetangahkan faktor agama sebagai sesuatu yang seharusnya diperhatikan setara dengan aspek etnis dan bangsa.

Daftar Pustaka

“Bhinneka Tunggal Ika”. Wikipedia: The Free Encyclopedia. 21 Apr. 2011, 23:43. <http://en.wikipedia.org/wiki/Bhinneka_Tunggal_Ika&gt; (1 Mei 2011, 23:28).

“Ethnic Group”. Wikipedia: The Free Encyclopedia. 24 Apr. 2011, 20:13. <http://en.wikipedia.org/wiki/Ethnic_group&gt; (1 Mei 2011, 23:35).

Kymlicka, Will. Kewargaan Multikultural. Terj. Edlina Hafmini Eddin. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2002.


[1] Menurut terjemahan Dr. Soewito Santoso (“Bhinneka Tunggal Ika,” http://en.wikipedia.org), makna dari bait 5 pupuh 139 tersebut sebenarnya adalah suatu ajaran tentang bagaimana memahami Sang Budha dan Shiwa yang berbeda namun satu. Untuk lebih jelasnya, berikut terjemahan dari bait tersebut dalam bahasa Indonesia:

Dikatakan bahwa Budha dan Shiwa adalah dua dzat yang berbeda.

Mereka memang berbeda, namun bagaimana mungkin untuk mengenali perbedaan mereka dalam sekilas,

sementara kebenaran Jina (Budha) dan kebenaran Shiwa adalah tunggal.

Mereka memang berbeda, tetapi mereka dari jenis yang sama, karena tidak ada kebenaran yang mendua.

[2] Lafal kalimat tasbih adalah “subhanallah” yang berarti Maha Suci Allah. Kalimat ini biasanya diucapkan ketika seorang muslim melihat sesuatu yang menakjubkan atau mengagumkan.

[3] Tentunya kecuali saat adegan ketika tanpa sengaja Cina menyentuh Annisa padahal ia baru saja mengambil air wudhu.

[4] Lihat QS. Al-Baqarah ayat 221.

[5] Lihat UU Perkawinan no 1 tahun 1974 pasal 2 dan 8.

[6] Lihat ibid., pasal 42.

[7] Lihat ibid., pasal 43.

[8] Kelompok minoritas yang menindas anggotanya demi solidaritas sekaligus ingin menguasai kelompok-kelompok lain, jika perlu dengan melawan hukum nasional (Hardiman dalam Kymlicka xviii).

[9] Lihat Kymlicka hal. 14-38.

[10] Bangsa di sini diartikan sesuai dengan definisi Clifford Geertz dalam Welt in Stuecken. Kultur und Politik am Ende des 20. Jahrhunderts (1996), yaitu kumpulan orang dengan bahasa, darah, sejarah dan tanah yang sama.

[11] Lihat Kymlicka hal. 173

[13] Bdk. Kymlicka hal. xviii

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 16, 2011 in Just My Thoughts

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: