RSS

Posmodernisme dan Pascastrukturalisme

16 May

Istilah ‘posmodernisme’ telah lama menjadi subjek perdebatan, terutama pada 1980-an dan 1990-an. Beberapa orang melihatnya hanya sebagai kelanjutan dan pengembangan ide-ide modernisme, yang lain telah melihat dalam seni posmodern sebagai perpecahan radikal dengan seni modern klasik, sementara beberapa orang yang lain melihat secara retrospeksi sastra dan budaya masa lalu melalui kaca mata posmodern dan mengidentifikasi teks serta para penulis sebagai sesuatu yang sudah posmodern (Selden, dkk. 197).

Istilah posmodernisme sendiri diperkenalkan oleh Jean-Francois Lyotard melalui bukunya yang berjudul The Post-Modern Condition (1979), sebagai sebuah momentum baru dalam sejarah budaya. Posmodernisme sangat skeptisJean Francois Lyotard terhadap alasan mengenai masyarakat industri dan menolak premis-premisnya. Lyotard juga mencirikan posmodernisme sebagai skeptisisme terhadap apa yang disebut ‘metanarrative’ (Rivkin dan Ryan 355). Menurut Lyotard, postmodern merupakan suatu periode dimana segala sesuatu di-deligitimasi-kan (Sugiharto dalam Santoso 324). Postmodern mendeligitimasi sistem totaliter yang biasanya bersifat hegemonis dan pro status quo agar tidak memberangus munculnya kebenaran-kebenaran yang bukan sekadar kebenaran tunggal. Ketika posisi pengetahuan dilegitimasikan oleh narasi-narasi besar seperti kebebasan, kemajuan, emansipasi, dan sebagainya, maka kini narasi-narasi besar tersebut telah mengalami nasib yang sama dengan narasi-narasi besar (metanarasi) sebelumnya—seperti religi, dialektika ruh, subjektivitas, dan sebagainya—yang menjadi patokan filsafat modern, yaitu mengalami kehilangan kekuatannya dan menjadi sulit dipercaya (Santoso 324-325). Postmodern menyadari bahwa dalam ranah rasionalitas tidak ada kebenaran yang yang bersifat tunggal dan absolut. Oleh karena itu postmodern menolak kebenaran tunggal dan memperjuangkan adanya berbagai realitas lain yang juga benar.

Di tengah kemapanan dan pesona yang ditawarkan oleh proyek modernisasi dengan rasionalitasnya, postmodern justru (di)tampil(kan) dengan sejumlah evaluasi kritis dan tajam terhadap impian-impian masyarakat modern. Munculnya postmodern merupakan suatu sinyal atas hadirnya sejumlah pemikir, filsuf, dan intelektual yang berusaha melakukan dekonstruksi atas basis dasar pengetahuan modern. Artinya, nilai yang ditawarkan oleh postmodern adalah betapa gagasan –gagasan dasar, seperti filsafat, rasionalitas, dan epistemologi, dipertanyakan lagi secara radikal. Dengan demikian, terminologi postmodernisme lebih berkaitan dengan suatu sikap kritis atas segala bentuk kemapanan (status quo) yang diciptakan oleh proyek modernisasi (Listiyono Santoso dalam Santoso, dkk. 320-322).

Postmodernisme sebagai epistemologi ditandai oleh keragaman argumen. Menurut Lyotard, postmodern berarti mencari ketidakstabilan. Kalau pengetahuan modern mencari kestabilan melalui metodologi, dengan “kebenaran” sebagai titik akhir pencarian, maka pengetahuan postmodern ditandai oleh runtuhnya kebenaran, rasionalitas, dan objektivitas. Prinsip dasarnya bukan benar-salah, tetapi sebagai paralogy atau membiarkan segala sesuatunya terbuka, untuk kemudian sensitif terhadap perbedaan-perbedaan. Tampaknya, semangat dekonstruksi Derrida berpengaruh pada prinsip pengetahuan postmodern untuk selalu melakukan revisi kritis pada setiap bentuk pengetahuan (Santoso 326).

Hal tersebut di atas tampak membuat posmodernisme disalahkan karena tidak mengambil sikap atas isu-isu nilai. Menurut Lyotard, semua nilai adalah topik perdebatan, dan perdebatan haruslah terus menerus tanpa henti. Satu-satunya hal yang salah adalah menutup perdebatan tersebut (Rivkin dan Ryan 355).

Pentingnya Mengetahui dan Mempelajari Posmodernisme

Around The World in 80 Days

Phileas Fogg, tokoh utama dalam film Around the World in 80 Days (2004), adalah seorang ilmuwan yang sangat imajinatif. Sebagai seorang penemu, ia telah menghasilkan banyak karya yang tidak biasa pada saat itu, yang berasal dari imajinasi-imajinasinya. Suatu ketika, saat mobil-mobil bermesin uap merupakan kendaraan tercanggih yang lumrah digunakan di masyarakatnya, Phileas Fogg terobsesi untuk membuat kendaraan yang lebih cepat. Ia mengatakan di depan anggota Royal Academy of Science—sebuah perhimpunan para ilmuwan dan penemu di Inggris—bahwa ia bisa membuat sebuah kendaraan yang jauh lebih cepat dari kecepatan kendaraan yang ada saat ini dan berdasarkan perhitungannya, seseorang mampu bepergian keliling dunia hanya dalam waktu 80 hari. Bagi sebagian besar anggota perhimpunan tersebut, ide Phileas Fogg bagaikan sebuah mimpi di siang bolong yang hampir mustahil terwujud menjadi kenyataan. Bahkan seorang ilmuwan yang paling berpengaruh di perhimpunan itu mengatakan padanya bahwa saat itu adalah saat dimana manusia sudah menemukan segala hal yang berharga untuk ditemukan, oleh karena itu tidak dibutuhkan adanya penemuan baru lagi. Selain itu, Phileas dikenal sebagai penemu yang sering gagal dalam menciptakan sesuatu, sehingga bagi kebanyakan ilmuwan lain Fogg hampir dipastikan mustahil bisa menemukan kendaraan baru yang lebih cepat sekaligus mustahil juga bepergian keliling dunia dalam 80 hari. Namun demikian, para ilmuwan yang tidak percaya tersebut menantang Fogg untuk membuktikan bahwa ia sanggup melakukan perjalanan keliling dunia dalam 80 hari sebagaimana yang ia katakan sebelumnya, dengan syarat bahwa jika ia tidak berhasil maka ia tidak diperbolehkan lagi untuk melakukan penemuan-penemuan. Sang ilmuwan imajinatif dengan lantang menyambut tantangan tersebut walaupun sebenarnya ia sendiri juga menyadari bahwa akan sangat sulit untuk mewujudkan hal tersebut dikarenakan oleh keterbatasan sarana dan prasarana yang ada pada saat itu. Akhirnya, dengan kegigihan dan bantuan dari seorang teman, Phileas Fogg berhasil mewujudkan imajinasinya mengelilingi dunia dalam 80 hari walaupun banyak pihak, khususnya dari Royal Academy of Science, yang selalu berusaha untuk menggagalkan usahanya tersebut.

 Dari cerita film di atas bisa dilihat bahwa dunia Phileas Fogg hidup adalah sebuah dunia modern. Banyak penemuan sudah ditemukan, termasuk mesin uap yang menandai batas awal era modernisasi dalam sejarah nyata umat manusia. Manusia bagaikan berada pada masa keemasannya dikarenakan oleh banyaknya hal “modern” yang telah ditemukan dan dibuat sehingga mereka merasa saat itu adalah saat dimana penemuan baru sudah tidak diperlukan lagi. Mereka merasa sudah cukup dengan apa yang mereka capai dan merasakan suatu titik kemapanan dalam berbagai hal. Pada kalangan ilmuwan di film itu, sebuah standarisasi telah ditentukan berdasarkan pencapaian umum yang telah dicapai pada saat itu, sehingga muncul sebuah narasi besar yang seakan mengatakan bahwa pencapaian lain yang melampaui hal tersebut merupakan sebuah kemustahilan.

Di sisi lain, apa yang dilakukan oleh Phileas Fogg adalah sebuah bentuk perilaku yang bercirikan posmodernisme. Keinginannya untuk menemukan dan melakukan sesuatu yang melampaui batas pencapaian umum pada saat itu merupakan sebuah pemberontakan terhadap status quo masyarakatnya yang modern. Ia menolak segala anggapan yang mengatakan bahwa tidak mungkin ada pencapaian yang bisa dilakukan di saat berbagai macam hal sudah dicapai dan ditentukan standar tertingginya. Imajinasi-imajinasi sang ilmuwan telah melampaui standar tertinggi tersebut dan dengan “mencengangkan” mampu ia wujudkan dalam hal nyata. Dengan kata lain, apa yang dilakukan dan dicapai oleh Phileas Fogg sebenarnya merupakan sebuah bukti bahwa pencapaian yang melampaui standar tersebut bukanlah hal yang mustahil. Hal ini sekaligus meruntuhkan narasi besar yang mendasari rasionalitas para ilmuwan yang menentang dan tidak mempercayainya tersebut.

Ilustrasi dari film di atas setidaknya cukup memberikan gambaran umum tentang pentingnya kita mengetahui dan mempelajari pemikiran posmodernisme. Apa jadinya seandainya kita hidup sebagai rakyat biasa pada film tersebut dan tidak mengenal serta memahami pemikiran yang bercirikan posmodernisme sebagaimana yang dilakukan oleh si tokoh utama? Hampir bisa dipastikan kita akan mengikuti arus pemikiran utama para ilmuwan dalam film itu yang beranggapan bahwa pencapaian modern yang telah dicapai merupakan sebuah hasil final yang mustahil untuk dilampaui. Pemikiran kita juga akan terdistorsi oleh rasionalitas arus utama yang beranggapan bahwa kita sudah tidak memerlukan hal lain untuk dicapai, karena segala hal yang kita perlukan sudah kita capai. Kita merasa sudah berada dalam suatu situasi kemapanan dalam beraktivitas dan berfikir. Kita akan berada pada posisi yang bisa dibilang sangat pasif, karena hanya akan melakukan hal-hal yang sudah terdefinisi standarnya. Semua orang akan cenderung untuk selalu mengikuti standar itu, karena hanya standar itulah yang merupakan kebenaran yang diakui oleh masyarakat. Segala macam inovasi lain yang dianggap tidak sesuai dengan kebenaran standar tersebut akan dicoba untuk diberangus, sebagaimana yang terjadi pada sang tokoh utama di film itu. Standar itu menjadi sebuah kebenaran absolut yang yang tidak boleh ditawar. Kreativitas kita mungkin hanya akan berputar-putar di dalam kerangka standar itu, sehingga praktis yang terjadi adalah pengulangan-pengulangan yang bersifat  monoton. Pada akhirnya, apa yang kita lakukan serta kreativitas yang kita kembangkan akan menjadi sebuah bentuk kebosanan. Tidak ada hal baru yang dilakukan, tidak ada hal baru yang diciptakan.

Sebaliknya, jika kita bisa menjadi seperti Phileas Fogg dan berpikiran sebagaimana jalan pikirannya, kita akan bisa menemukan jalan keluar dari “kebosanan” intelektualitas akibat dari situasi modernitas di atas. Dengan paradigma pemikiran revolusioner bergaya posmodern seperti itu, kita akan mampu mengembangkan kreativitas kita tanpa harus terkungkung dalam batas-batas standar modernisme yang menjadi arus utama paradigma masyarakat. Pikiran kita akan merasa bebas untuk melakukan segala macam kreativitas dan mewujudkan segala macam imajinasi, bahkan yang dianggap tidak mungkin sekalipun. Seandainyapun masyarakat menganggap kreatifitas yang imajinatif tersebut sebagai sebuah kemustahilan yang berlawanan dengan paradigma tradisi, kita tidak akan mudah menyerah dan berhenti begitu saja, karena kita menyakini bahwa relasi kebenaran tidaklah bergantung pada paradigma mainstream. Kita akan melihat segala hal secara lebih terbuka karena kita percaya bahwa sekecil apapun realitas, bisa jadi itu adalah juga kebenaran. Kita bisa menjadi orang yang lebih percaya diri dengan visi kita sehingga tekad untuk terus maju dan berinovasi secara intelektual tidak akan berhenti hanya karena terhalang oleh tradisi.

Posmodernisme akan cenderung mendorong kita untuk melihat segala sesuatu, terutama permasalahan, dari berbagai sisi yang berbeda. Dialog-dialog yang selalu ditawarkan oleh posmodern akan membawa kita pada kekritisan terhadap permasalahan tersebut dan cara penyikapannya. Pada gilirannya, sikap itu akan membuat seseorang bisa menjadi lebih bijaksana dalam memandang setiap permasalahan, karena segala hal dipertimbangkan. Dengan demikian, seseorang tidak akan dengan mudah berpihak kepada suatu kebenaran, terutama kebenaran yang selalu menegasikan potensi kebenaran yang lain, dimana kebenaran yang lain tersebut mungkin saja seharusnya mampu diposisikan sebagai sesama kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan atau bahkan dilemahkan. Dengan kata lain, dalam hal ini, posmodern dapat menjadi jawaban atas permasalahan kebijaksanaan dan keadilan.

Paradigma posmodernisme di atas bagi sebagian orang, termasuk karakter Phileas Fogg, mungkin bisa begitu saja muncul akibat dari rasa percaya diri yang kuat dan kesadaran hati nurani. Akan tetapi, bagi kebanyakan orang, paradigma tersebut tidak bisa muncul begitu saja karena kuatnya pengaruh dari pemikiran mainstream. Oleh karena itu diperlukan adanya pendidikan atau pembelajaran mengenai posmodernisme yang akan memberikan gambaran tentang pemikiran yang melampaui batas-batas modernisme tersebut.

Implikasi Logis

Sebagai sebuah epistemologi, posmodern tentunya memiliki implikasi-implikasi logis, baik itu implikasi positif maupun implikasi negatif. Dari semua implikasi tersebut, yang patut dicatat di sini adalah bahwa sebagai sebuah rasionalitas yang mengkritik modernisme, posmodern telah membuka jalan bagi jawaban atas persoalan-persoalan yang muncul pada kehidupan yang berada di bawah modernisme. Dengan kata lain, sekaligus sebagai implikasi positifnya secara umum, posmodern menawarkan jawaban-jawaban atas permasalahan akibat proyek modernisme yang cenderung totaliter. Hal ini jugalah, menurut saya, yang menjadi alasan mengapa posmodern perlu dan layak untuk dipelajari dan diketahui.

Sudah menjadi sifat dasarnya, manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Manusia selalu berusaha untuk mengembangkan potensi dirinya dan berbuat untuk sesuatu yang lebih baik dalam rangka mendukung kehidupannya di dunia. Rasionalitas membuat manusia akan selalu bertanya mengenai segala sesuatu yang menimbulkan pertanyaan sampai ia menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Tidak bisa dipungkiri, apa yang dicari manusia sebenarnya merupakan sebuah bentuk kemapanan, yang dalam hal ini berupa jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Akan tetpai, ketika sebuah kemapanan dicapai, kembali lagi, rasionalitas dan sifat dasar manusia melihatnya sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya memuaskan. Kemapanan hanyalah sebuah pemberhentian sementara dari kehausan intelektualitas manusia. Hal ini terjadi pada modernitas yang menawarkan sebuah situasi yang sarat akan kemapanan. Ketika kemapanan itu mencapai pada sebuah titik jenuh tertentu, muncul posmodernisme yang menawarkan keleluasaan dan kesempatan bagi kehausan intelektualitas serta rasionalitas manusia. Posmodernisme kembali mempertanyakan hal-hal yang dianggap sudah selesai oleh modernisme, atau bahkan mencoba menyelesaikan hal-hal yang tidak dapat diselesaikan oleh rasionalitas modern.

Pemikiran-pemikiran posmodern yang selalu skeptis terhadap narasi-narasi besar memunculkan kecenderungan untuk melihat narasi-narasi kecil. Sebuah kebenaran tidak lagi ditentukan oleh legitimasi sebuah narasi besar, namun lebih ditentukan oleh bagaimanakah narasi-narasi kecil menyusun kebenaran tersebut. Kebenaran pengetahuan tidak lagi tidak lagi bersifat homology (kesatuan), melainkan paralogy (keragaman). Hal in meyebabkan posmodern selalu menuntut untuk diadakannya pengkajian atau pembacaan ulang terhadap terminologi yang selama ini digunakan. Pengkajian ulang ini kemudian menggeser berbagai otoritas yang pernah secara hegemonik membelenggu ‘peluang’ pilihan pengetahuan manusia. Pada titik ini ada suatu asumsi yang menarik bahwa masyarakat modern dihadapkan pada tawaran (alternatif) akan kebenaran yang diakuinya sebagai pilihan (Santoso 321).

Keadaan di atas tentunya sesuai dengan semangat dasar untuk mengakui adanya pluralitas dalam masyarakat. Situasi homogen dengan satu parameter kebenaran pengetahuan sesungguhnya ‘mereduksi’ makna pluralitas dan kontraproduktif dengan keragaman pengetahuan manusia. Dari sinilah muncul pemahaman atas relativitas kebenaran, dimana kebenaran tidak lagi ‘terlahir’ dari satu rahim, melainkan bisa dimunculkan dari banyak rahim. Modernitas, dengan indikator kebenaran sains melalui rasionalitasnya, dalam kenyataannya, memunculkan situasi chaos yang justru mengarah pada situasi yang irasional (Santoso 321-2).

Posmodernisme membawa manusia kepada situasi dimana perbedaan-perbedaan justru menjadi sebuah fenomena yang diangkat dan dibahas dengan ramai. Dalam perspektif posmodern, perbedaan bukan lagi menjadi sesuatu yang harus diberangus, melainkan harus didialogkan. Situasi posmodern ini mendorong kajian-kajian keilmuan dan paradigma pemikiran lainnya yang bersifat menolak totalitas menjadi lebih berkembang. Tidaklah mengherankan jika pada akhirnya paradigma-paradigma seperti multikulturalisme, pluralisme, dan kosmopolitanisme menjadi sesuatu yang sangat dijunjung pada era posmodern. Hal ini tentu saja tidak semata karena ingin terus menyulut semangat posmodernisme, namun lebih kepada bukti bahwa betapa posmodernisme telah berhasil menarik perhatian masyarakat dan menempatkan dirinya ke posisi sebagai ‘pejuang’ dan ‘pelindung’ keadilan serta hak azasi manusia. Posmodern menjamin bahwa yang kecil dan minoritas tidaklah harus tersingkir dan tertindas, melainkan memberikan ruang yang terbuka bagi si kecil dan si minoritas untuk memperjuangkan haknya untuk hidup.

Kebenaran rasionalitas sains yang dijunjung tinggi oleh modernitas telah dibongkar oleh posmodern. Posmodern menunjukkan bahwa kebenaran tidak hanya bisa dimonopoli oleh empirisme sains, namun juga bisa ditentukan oleh hal lain yang terkadang tidak bisa diketahui dengan jelas ukurannya. Mungkin benar bahwa rasionalitas sains bisa menjawab tuntutan manusia akan segala kemudahan dan kepraktisan dalam hidup, namun sains pastinya tidak akan bisa menyelesaikan persoalan keadilan yang tidak akan pernah bisa diukur dengan teknologi alat ukur apapun. Akan menjadi sangat irasional jika menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan keadilan dan perikemanusiaan dengan menggunakan hitung-hitungan komputer. Saat inilah, rasionalitas lain yang lebih ‘manusiawi’, misalnya humaniora, mengambil alih. Dengan demikian, posmodern memberikan ruang yang luas dan peluang penghargaan terhadap ilmu-ilmu tentang budaya dan manusia  yang bersifat non-sains.

Akan tetapi, di sisi lain dan terlepas dari hal di atas, posmodern sebenarnya juga menciptakan peluang untuk terjadinya situasi chaos yang lain. Di dalam sebuah dunia yang posmodern, dimana minoritas diakui keberadaannya dengan dilandasi semangat untuk tidak saling memberangus, semua memiliki kesempatan yang sama untuk berteriak menyuarakan suaranya. Suara minoritas dan suara mayoritas, dalam cita-cita posmodern, memiliki hak yang sama untuk terus eksis dan bertahan. Usaha untuk bertahan itu bisa saja membuat yang minoritas menjadi semakin kuat dan menjadi mayoritas, sedangkan yang mayoritas bisa saja menjadi yang minoritas. Di sisi lain, semangat posmodern bisa saja tiba-tiba terlupakan ketika si minoritas yang kini jadi mayoritas mencapai sebuah status quo. Keinginan untuk mempertahankan status quo tersebut bisa jadi malah membuat kelompok tersebut menciderai semangat posmodernisme, sehingga terjadi pemberangusan terhadap minoritas yang lain. Hal seperti ini mungkin saja bisa terjadi karena tidak semua orang memiliki motivasi yang sama dari awal hingga akhir. Kecenderungan motivasi bisa saja berubah seiring berjalannya waktu dan godaan kemapanan yang begitu kuat. Oleh karena itu, harus ada sikap antisipatif dalam menyikapi hal ini.

Hubungan Posmodernisme dengan Televisi dan Film

Tidak bisa dipungkiri, televisi dan film saat ini merupakan dua media yang sangat digemari oleh masyarakat. Televisi dan film telah menjadi dua buah sarana hiburan yang sangat efektif, murah, sekaligus instan. Kubey dan Csikszentmihalyi (dalam Storey 9) mencatat, setidaknya saat ini masyarakat seluruh dunia telah mencapai 3,5 milyar jam yang digunakan untuk menonton televisi. Ini membuat acara menonton televisi menjadi sebuah kegiatan yang paling populer dilakukan saat waktu senggang. Film sendiri juga telah menjadi sebuah hiburan yang selalu ditunggu-tunggu oleh jutaan penggemarnya. Sehingga tidaklah mengherankan apabila muncul protes manakala ada sebuah perusahaan pengekspor film yang menghentikan pasokan film Hollywood ke Indonesia karena disebabkan oleh ketentuan pajak baru pemerintah yang mereka nilai tidak rasional.

Televisi dan film, pada kenyataannya, telah berkembang menjadi dua buah media yang sangat besar perannya tidak hanya dalam menjadi sarana hiburan, tetapi juga sebagai media penyebar budaya populer. Jangkauan televisi yang begitu luas berdampak pada cepatnya arus informasi yang bisa diakses oleh masyarakat, yang pada akhirnya mempercepat pula penyebaran suatu budaya populer. Tak sedikit anak-anak muda yang menjadi Beliebers, fans berat Justin Bieber, karena menyaksikan bagaimana memukaunya penampilan sang artis bagi mereka melalui tayangan televisi. Di lain pihak, sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak anak muda yang melihat budaya populer Amerika Serikat sebagai sebuah panutan dalam kehidupan sehari-hari sebagai efek dari melihat film-film yang diproduksi oleh Hollywood.

Dalam kaitannya dengan posmodernisme, televisi dan film telah menjadi sebuah media yang sangat besar pula perannya dalam membawa semangat posmodernitas menyebar ke seluruh dunia. Di lain pihak, seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, paradigma-paradigma posmodernisme sebenarnya juga telah mempengaruhi perkembangan kedua media ini di saat yang bersamaan.

Sebagaimana yang telah saya singgung di atas, proyek posmodernitas telah memicu bertambahnya perhatian terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan manusia dan kebudyaan. Hal ini menyebabkan pula bergesernya trend tema yang diangkat dalam media massa dan film. Saat ini perhatian masyarakat lebih tertarik kepada issu-issu kemanusiaan, dan hanya sebagian kecil orang yang melihat perkembangan teknologi sebagai perhatian utama. Yang lebih menarik lagi, perkembangan teknologi ini malah digunakan sebagai sarana untuk lebih memberikan perhatian terhadap issu-issu tersebut.

Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu televisi di Indonesia menayangkan bagaimanakah perjuangan seorang perempuan yang harus menjalani proses hukum akibat dari tuntutan sebuah rumah sakit yang tidak terima atas curahan hati wanita tersebut kepada teman-temannya karena merasa kurang puas terhadap pelayanan rumah sakit tersebut. Perempuan tersebut dituntut membayar uang ganti rugi kepada rumah sakit sebanyak 1 milyarkarena telah dianggap mencemarkan nama baik rumah sakit tersebut.

Para pemirsa televisi yang menyaksikan kejadian ini melihat bahwa telah terjadi sebuah ketidakadilan dan usaha pembelengguan kebebasan berbicara dan berpendapat. Tidak sedikit pula yang melihat kejadian tersebut sebagai sebuah tindakan arogan dari pihak rumah sakit yang hanya berorientasi pada keuntungan sepihak, karena sebenarnya tidak ada kerugian yang nyata yang diderita rumah sakit tersebut. Yang lain melihatnya sebagai sebuah aksi nyata bagaimana hukum tidak bisa bertindak dengan adil, sesuai hati nurani, dalam menghadapai permasalahan yang melibatkan seorang perempuan dari keluarga sederhana dengan rumah sakit yang memiliki aset milyaran rupiah. Sebuah aksi pun akhirnya digalang oleh para pemirsa televisi ini melalui facebook, yang notabene adalah sebuah produk teknologi informasi. Tak disangka, dukungan kepada perempuan itu mengalir deras melalui dunia maya. Banyak orang yang mengecam tindakan arogan rumah sakit dan ketidakadilan persidangan. Ada juga yang memprakarsai aksi berupa pengumpulan koin yang nantinya akan digunakan untuk membayar tuntutan denda tersebut. Televisi yang terus menyiarkan perkembangan kasus itu membuat semakin banyak orang Indonesia yang mengetahui. Di luar dugaan, dukungan terhadap perempuan itu terus mengalir dari berbagai lapisan masyarakat di seantero Indonesia. Banyak daerah yang mendirikan posko pengumpulan koin kepedulian tersebut. Koin yang terkumpul pun mencapai nilai yang fantastis. Pada akhirnya, melihat respon masyarakat yang begitu luar biasa dan massif, pihak rumah sakit memutuskan untuk mencabut semua tuntutan, dan perempuan itu terbebas dari semua tuduhan.

Contoh di atas telah membuktikan bagaimana peran televisi yang mendorong kristalisasi semangat posmodernisme di kalangan masyarakat Indonesia baru-baru ini. Di lain pihak, televisi mengetahui bahwa masyarakat saat ini tengah tertarik dengan perjuangan semangat posmodernisme, sehingga tema-tema yang diangkat pun selalu yang bersifat humaniora dan perjuangan melawan ketidakadilan. Hal ini bisa dibuktikan dari maraknya acara yang menonjolkan kemiskinan, ketidakadilan hukum, perlakuan diskriminatif pemerintah, dsb.

Di dunia film, khususnya film Hollywood, posmodern juga bisa dirasakan sangat besar pengaruhnya. Munculnya paradigma posmodernisme telah mengubah cara pandang para penonton terhadap kualitas suatu film. Bak gayung bersambut, paradigma ini juga mengubah cara pandang para sineas dalam menciptakan sebuah film baru dengan standar cerita yang baru pula. Film-film tidak lagi hanya bercerita tentang bagaimanakah keseruan sebuah perkelahian antara sang jagoan dan si musuh utama, namun juga bercerita bagaimana sebenarnya sisi kemanusiaan dari dua orang tersebut. Film-film posmodern tidak hanya menunjukkan bagaimana seorang jagoan tiba-tiba menjadi jagoan, dan seorang penjahat tiba-tiba menjadi jahat, namun juga menggambarkan dengan komprehensif bagaimanakah latar belakang kehidupan manusiawi kedua karakter tersebut yang pada akhirnya memicu mereka untuk menjadi baik atau menjadi jahat. Dalam perspektif film ini, tidak semua penjahat adalah setan yang sangat jahat, dan tidak semua jagoan adalah malaikat yang sempurna dan tidak pernah melakukan kesalahan. Semua tema film diangkat dengan merujuk pada kenyataan kemanusiaan manusia pada umumnya.

Sebagai contohnya adalah film trilogi Spider-Man yang prekuelnya mulai ditayangkan pada tahun 2002. Sebelumnya, film Spider-Man selalu disajikan dalam bentuk serial televisi baik itu animasi atau kartun, maupun yang tidak. Pada film Spider-Man versi serial, sang tokoh utama, Peter Parker, selalu digambarkan sebagai seorang yang baik, pahlawan super yang selalu bersembunyi di balik identitas sebagai seorang wartawan dan mahasiswa. Serial-serial Spider-Man ini selalu menonjolkan bagaimanakah kebaikan melawan kejahatan melalui adu jotos dan kecerdikan. Pihak yang jahat selalu digambarkan terobsesi dengan kejahatannya, sedang sang manusia laba-laba selalu digambarkan dengan segala kebosanan dan anecdote yang terjadi selama ia menjadi ‘manusia biasa’. Ketika menjadi superhero, ia akan berubah menjadi sosok yang melakukan segalanya dengan kekuatannya demi kebaikan.

Black SpidermanBerbeda dengan film-film serial tersebut, film Spider-Man versi layar lebar tahun 2002 lebih mengedepankan bagaimanakah perasaan dan emosi masing-masing karakter. Film ini tidak hanya menampilkan special effects adegan perkelahian, yang menurut saya pada waktu itu, sangat mengagumkan, namun juga memperlihatkan bagaimanakah setiap karakter merasakan emosinya sendiri ketika menghadapi permasalahan. Penonton seakan diajak untuk menyelami perasaan Peter Parker ketika membiarkan seorang penjahat kabur hanya karena ia merasa jengkel terhadap manajemen tempat pertarungan dimana ia berusaha mendapatkan uang untuk membeli mobil sebagai alat mencari perhatian perempuan yang disukainya, Mary Jane. Di saat yang lain penonton juga ditunjukkan betapa akhirnya Peter Parker sangat menyesal akan kematian pamannya yang malah dibunuh oleh penjahat yang telah dibiarkannya kabur itu. Suasana hati Peter Parker ketika mengingat pesan terakhir pamannya juga digambarkan dengan sangat mendalam, sehingga saya pun yakin tidak sedikit penonton yang mengingat adegan itu sebagai adegan yang paling menyentuh sepanjang film.

Di sekuel yang lain, yaitu Spider-Man 2 dan 3, penonton diajak untuk melihat bagaimanakah para penjahat, yaitu Dr. Oct dan The Sandman, memiliki emosi yang sama dengan manusia pada umumnya. Film ini menunjukkan bahwa seorang penjahat dalam cerita superhero tidak selalu terobsesi dengan kejahatannya dan bahkan ia melakukan kejahatan tersebut karena suatu alasan yang dalam perspektifnya sangat kuat. Seorang penjahat super awalnya bisa menjadi jahat karena ia terpaksa. Bagi Dr. Oct, misalnya, ia menjadi jahat karena ia merasa penelitiannya sudah tidak didukung lagi oleh Harry Osborn karena sebuah kegagalan demonstrasi. Ia merasa penelitian itu adalah hidupnya, sehingga ia bertekad untuk meneruskan proyeknya tersebut dengan cara apapun, termasuk merampok bank. Sedangkan bagi The Sandman alias Flint Marko, motivasinya menjadi penjahat adalah ketidakberdayaannya dalam mencari uang untuk berobat putrinya yang sedang sakit. Ia terpaksa merampok, dan untuk itu ia harus dipenjara. Kerinduannya dan rasa khawatirnya kepada putrinya mendorongnya untuk melarikan diri sampai akhirnya ia terperosok ke dalam sebuah wahana eksperimen pasir yang membuatnya menjadi The Sandman. Pada akhir film terungkap bahwa ia tak pernah berniat untuk melakukan tindak kejahatan jika karena tidak merasa terpaksa.

Film trilogi Spider-Man tersebut seakan membawa penontonnya kepada sensasi baru dalam menyaksikan sebuah film Superhero. Di satu sisi, penonton menginginkan sang jagoan selalu menang melawan orang-orang yang melakukan kejahatan, di sisi lain penonton sedikit dibingungkan oleh perasaan maklum terhadap alasan ‘keterpaksaan’ para penjahat itu dalam proses menjad ‘jahat’. Pada akhirnya sang manusia laba-laba memang selalu bisa melanjutkan kehidupannya dengan bahagia untuk sementara, namun dalam trilogi itu tidak ada kepastian absolut yang menunjukkan bahwa Spider-Man selalu menang melawan para ‘penjahat’. Yang ada adalah sikap ‘mengalah’ dari beberapa ‘penjahat’ ataupun pemakluman yang muncul pada diri sang superhero—dimana, tentu saja, ini tidak berlaku ketika Spider-Man melawan Green Goblin dalam prekuel film itu. Mungkin hal yang tersisa pada penonton setelah menyaksikan film ini adalah berbagai pertanyaan yang biasanya tidak muncul ketika menyaksikan film-film lain. Apapun itu, pada dasarnya film ini memberikan kebebasan kepada penontonnya untuk menyimpulkan: apakah akan menganggap sang superhero adalah satu-satunya panutan sempurna untuk dikagumi, ataukah malah merasa kasihan dengan para ‘penjahat’ itu.

Pascastrukturalisme dan Dekonstruksi

Pascastrukturalisme, atau pos-strukturalisme, dan dekonstruksi adalah paradigma pemikiran yang memiliki ciri dan membawa semangat posmodernisme. Pos-strukturalisme dan dekonstruksi mengkritik situasi kemapanan yang diusung oleh proyek modernitas, dalam hal ini adalah pemikiran strukturalisme.

Pos-strukturalisme pertama kali muncul di Prancis pada akhir tahun 1960an. Dua tokoh utama yang sering dikaitkan dengan pemunculan pemikiran ini adalah Jaques Derrida dan Roland Barthes. Roland Barthes awalnya sebenarnya adalah seorang strukturalis, namun pada perkembangannya, karya-karyanya cenderung menunjukkan ciri-ciri pos-strukturalis (Barry 65). Derrida, sebagai tokoh pos-strukturalisme mencoba menawarkan metode dekonstruksi untuk mengatasi problem modernitas (Santoso 257). Dekonstruksi sendiri merupakan sebutan untuk postrukturalisme milik Derrida yang mana merupakan versi postrukturalisme pertama yang mencapai Amerika Serikat (Bertens 93).

Jacques Derrida

Pos-strukturalisme merupakan penolakan simultan dan berkelanjutan terhadap strukturalisme—tidak hanya strukturalisme sastra, namun bahkan strukturalisme antropologi Lévi-Strauss. Pos-strukturalisme tidak dapat dipahami tanpa memahami strukturalisme. Hal ini karena pos-strukturalisme meneruskan perspektif strukturalisme yang anti-humanis dan mengikuti apa yang diyakini oleh strukturalisme, yaitu bahwa bahasa adalah kunci dari pemahaman kita terhadap diri kita sendiri dan dunia. Akan tetapi, meskipun meneruskan anti-humanisme strukturalis dan berfokus kepada bahasa, pos-strukturalisme secara terus-menerus ‘mengacau’ strukturalisme dengan benar-benar mempertanyakan—melakukan dekonstruksi—beberapa asumsi utama dari strukturalisme dan metode-metode yang diambil dari asumsi-asumsi tersebut (Bertens 93).

Menurut Terry Eagleton (192), strukturalisme umumnya puas jika ia dapat mebagi-bagi teks menjadi oposisi biner—tinggi/rendah, terang/gelap, Alam/Budaya, dan sebagainya—dan menyingkap logika cara kerjanya. Pos-strukturalisme mencoba menunjukkan bagaimana oposisi demikian, agar dapat tetap di tempatnya, terkadang malah membalik atau meruntuhkan dirinya sendiri, atau perlu membuang ke pinggiran teks detail-detail tertentu yang mengusik, yang dapat dibuat kembali dan menyusahkannya.

Pos-strukturalisme membedah sebuah teks dengan mengunakan metode dekonstruksi. Metode dekonstruksi ini ditujukan untuk membongkar sifat totaliter dari sistem, terutama yang tercermin dalam bahasanya (Santoso 257). Metode dekonstruksi ini bisa disebut juga sebagai pos-strukturalisme ‘terapan’, yang mana merujuk pada cara membaca yang sebuah teks dengan melawan teks itu sendiri—reading the text against itself. Sebuah cara untuk menjelaskan hal ini adalah dengan mengatakan bahwa membaca dekonstruktif bertujuan untuk membuka dimensi yang tak sadar dari teks daripada dimensi yang sadar (Barry 70-1).

Lebih jauh mengenai pembacaan dekonstruktif, J. A. Cuddon (dalam Barry 72) mengatakan bahwa sebuah teks dapat dibaca dan dianggap mengatakan sesuatu jika sangat berbeda dengan apa yang tampaknya dikatakan. Teks tersebut seakan membawa makna signifikansi yang plural atau mengatakan hal-hal yang berbeda dari makna tunggal yang stabil. Jadi, dekonstruksionis melakukan apa yang disebut sebagai pembacaan oposisional, yaitu pembacaan yang bertujuan untuk menguak kontradiksi dan inkonsistensi internal di dalam teks, dengan maksud untuk menunjukkan ketidakbersatuan atau perpecahan (disunity) yang sebenarnya mendasari kesatuan yang nampak pada teks tersebut. Dalam rangka mencapai tujuannya, proses dekonstruksi akan sering memilih dan memusatkan perhatian pada sebuah detil dari teks yang kelihatan insidental—adanya metapora tertentu, misalnya—lalu kemudian menggunakannya sebagai kunci dari keseluruhan teks, sehingga semua hal dibaca melaluinya (Barry 72).

Ketika berbicara mengenai strukturalisme, kita membahas bagaimana para strukturalis mencari, di dalam teks, fitur-fitur seperti paralel, echo, refleksi, dan seterusnya. Efek dari melakukan hal ini adalah seringkali untuk menunjukkan kesatuan tujuan yang ada di dalam teks, seolah-olah teks tersebut mengetahui apa yang ingin ia lakukan dan telah mengarahkan segalanya ke arah tujuan ini. Sebaliknya, para dekonstruksionis bertujuan untuk menunjukkan bahwa teks sedang bertempur dengan dirinya sendiri: bagaikan sebuah rumah yang dibagi dan timbul perpecahan. Para dekonstruksionis mencari bukti kesenjangan, pecahan, celah, dan diskontinuitas dari segala hal (Barry 72). Apa yang dicari kemudian oleh pos-strukturalis adalah penemuan ketidakharmonisan dalam suatu teks. Oleh karena itu, para praktisi pos-strukturalisme akan mencari kontradiksi, paradoks, konflik, aporia, dan seterusnya (lih. Barry 72-3) dalam sebuah teks. Bisa dikatakan bahwa siasat dari kritik dekonstruksi adalah menunjukkan bagaimana teks akan mempermalukan logikanya sendiri; dan dekonstruksi menunjukkan hal ini dengan menempel pada poin-poin ‘gejala’, aporia atau impasnya makna, dimana teks mengalami kesulitan, melepaskan diri, menawarkan untuk mengontradiksi dirinya sendiri (Eagleton 193).

Dalam membedah teks, seorang praktisi pos-strukturalisme akan berusaha untuk mencari ‘textual subsconscious’, dimana makna yang ingin diungkapkan oleh teks mungkin saja secara langsung berbeda dari makna yang tertangkap di permukaan. Untuk melakukan hal ini, ia akan memfokuskan perhatian fitur-fitur permukaan pada kata-kata—kesamaan suara, akar makna-makna kata, sebuah metafora yang ‘mati’ dan membawanya ke permukaan, sehingga mereka menjadi penting untuk makna secara keseluruhan. Seorang pos-strukturalis juga akan berusaha menunjukkan bahwa teks ditandai dengan perpecahan daripada persatuan, serta berkonsentrasi pada satu bagian dan menganalisanya dengan sangat intensif sehingga tidak mungkin untuk mempertahankan sebuah pembacaan ‘univocal’ dan bahasa meledak menjadi ‘makna yang beragam’. Pos-strukturalis selanjutnya akan mencari perubahan dan perpecahan dari berbagai macam hal pada teks dan melihatnya sebagai bukti bahwa ada yang direpresi atau disembunyikan atau dilupakan diam-diam oleh teks. Diskontinuitas ini jading disebut sebagai ‘fault-lines’ (kesalahan baris), sebuah metafora geologi yang mengacu pada patahan pada formasi bebatuan yang memberikan bukti atas gerakan atau aktivitas sebelumnya (Barry 73). Kebiasaan tipikal Derrida sendiri dalam membaca adalah menangkap sebuah fragmen yang sepertinya berada di pinggir karya—catatan kaki, istilah, atau citra minor yang sering muncul, acuan yang kasual—dan mengerjekannya dengan rajin hingga fragmen tersebut mengancam akan mencerai-beraikan oposisi yang mengatur teks secara keseluruhan (Eagleton 192-3).

Di dalam kerangka pos-strukturalisme, sebuah teks bisa terdekonstruksi dengan, salah satunya, mengangkat munculnya konflik dalam menginterpretasikan teks tersebut. Munculnya konflik dalam interpretasi dapat mengakibatkan munculnya pamahaman yang lain yang menandakan ketidakstabilan bahasa. Atau, dengan mengangkat pemahaman lain yang membuat teks tersebut pada akhirnya tidak bisa menjawab pertanyaan yang awalnya seperti bisa dijawabnya (Tyson 265).

Cara lain yang bisa digunakan adalah mempertanyakan ideologi apa yang tampaknya ingin diangkat oleh teks tersebut. Dengan menggunakan oposisi biner dan bukti-bukti yang saling bertolak belakang—paradoks, kontradiksi, dst.—yang membangun tema utama teks tersebut, dekonstruksi menunjukkan betapa ideologi yang diangkat dalam teks tersebut sebenarnya terbatasi (Tyson 265).

Metode pendekonstruksian teks seperti di atas dapat memperkaya pembacaan kita terhadap teks tersebut, sehingga dapat membantu kita melihat beberapa ide penting yang diilustrasikan di dalam teks itu yang mana tidak bisa kita baca dengan jelas dan mendalam ketika mengaplikasikan cara membaca yang seperti biasanya, tidak menggunakan metode dekonstruksi. Selain itu, metode dekonstruksi dapat membantu kita dalam melihat betapa bahasa dapat membutakan kita terhadap ideologi yang terdapat di dalamnya (Tyson 266).

Dekonstruksi menolak konsep-kosep totalitas dan esensi, sehingga menghasilkan kebenaran yang plural, unik, dan relatif. Akan tetapi, metode pendekonstruksian di atas pada akhirnya justru dikhawatirkan akan menjebak pembaca dalam ambiguitas dan mengarah pada nihilisme. Sifat paradoks, kontradiksi, inkonsistensi, ambivalensi, dilematik, dan tidak pasti pemikiran Derrida inilah yang dikhawatirkan akan menggiring pembaca menuju situasi yang serba tidak pasti dan ambigu. (Santoso 256-7).

Simpulan

Tidak terpungkiri, modernitas telah membawa manusia ke tingkat dimana teknologi mengalami kemajuan yang sangat pesat, lebih dari masa-masa sebelumnya. Di saat yang bersamaan, rasionalitas manusia, sebagai ‘mesin’ utama penghasil teknologi, sangat dijunjung tinggi. Kecenderungan ini pada perkembangannya menyebabkan munculnya konsep-konsep totalitas dan status quo yang menjadi ciri khas modernisme.

Di tengah-tengah hegemoni konsep-konsep modernisme tersebut muncullah pemikiran-pemikiran posmodern yang membawa kritik serta evaluasi tajam terhadap perjalanan proyek modernitas yang dinilai gagal menjalankan cita-citanya. Posmodernisme melihat bahwa modernitas yang pro hegemoni dan status quo malah menyebabkan bentuk kesengsaraan yang lain, terutama bagi kelompok-kelompok dan narasi-narasi yang termarjinalkan. Oleh karena itu, dengan menolak metanarasi, posmodernisme mencoba membuktikan bahwa kebenaran pengetahuan tidak selayaknya menjadi sebuah monopoli. Ada sisi kebenaran-kebenaran pengetahuan lain yang juga benar, yang selama ini terpinggirkan oleh narasi besar tersebut. Dengan ini posmodernisme bercita-cita akan hadirnya sebuah keadilan dan harmonisasi di tengah-tengah perbedaan. Inilah, pula yang membuat posmodernisme layak dan (sepertinya) wajib untuk dipelajari.

Paradigma pemikiran posmodern tampaknya kemudian menjadi disukai oleh masyarakat. Dengan membawa semangat keadilan dan perayaan perbedaan, posmodern terbukti banyak mempengaruhi pemikiran masyarakat masa ini, termasuk juga pada bisnis film dan televisi. Hal ini berakibat pada munculnya perubahan-perubahan tren yang kembali memunculkan isu-isu yang berkaitan dengan humaniora yang selama ini terpinggirkan. Televisi dan film semakin banyak yang mengambil tema-tema tersebut, yang justru membawa nuansa baru dalam dunia hiburan di seluruh dunia.

Di bidang bahasa dan sastra, pemikiran posmodernisme ditandai dengan munculnya gugatan atas strukturalisme yang telah menjadi ikon proyek modernisme. Bentuk gugatan ini dalah munculnya pemikiran pascastrukturalisme dengan metode dekonstruksinya. Pascastrukturalisme menolak anggapan strukturalisme yang mengatakan bahwa teks memiliki kesatuan. Sebaliknya, pascastrukturalisme menunjukkan bahwa sebenarnya teks dan bahasa merupakan sesuatu yang tidak pernah stabil. Hal ini tentu saja membawa cara pemahaman yang baru atas sebuah teks dan bahasa.


Daftar Pustaka

Barry, Peter. Beginning Theory. Manchester: Manchester University Press, 2002.

Bertens, Hans. Litherary Theory: The Basics. Edisi Kedua. New York: Routledge, 2008.

Eagleton, Terry. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif. Terj. Harfiah Widyawati dan Evi Styarini. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

Rivkin, Julie dan Michael Ryan. Literary Theory: An Athology. Edisi Kedua. Victoria: Blackwell Publishing, Ltd., 2004.

Santoso, Listiyono, dkk. Seri Pemikiran Tokoh: Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.

Selden, Raman, dkk. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Edisi Kelima. Edinburg: Pearson Education, Ltd., 2005.

Storey, John. Cultural Studies and The Study of Popular Culture: Theories and Methods. Edinburgh: Edinburgh University Press, 1996.

Tyson, Lois. Critical Theory Today: A User-friendly Guide. Edisi Kedua. New York: Routledge, 2006.

Advertisements
 
 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: