RSS

Transformers 2: Sebuah Pembacaan Dekonstruktif

16 May

Transfomers 2 poster

Film saat ini telah menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat modern. Film tidak hanya menjadi sebuah sarana hiburan bagi masyarakat, namun saat ini telah menjadi sebuah produk budaya. Di dalam film sering digambarkan tentang situasi keseharian, fantasi masa depan, fantasi masa lalu, maupun fantasi fiksi yang kesemuanya mencerminkan cara berpikir yang didasari oleh latar belakang budaya tertentu pembuatnya. Film seakan menjadi sebuah cermin akan situasi kultural dan paradigma masyarakat suatu bangsa atau peradaban pada suatu waktu tertentu. Maka tidaklah berlebihan kiranya bila ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa sebuah film dapat membuat kita memahami suatu budaya.

Film sendiri telah berkembang mulai dari film yang sangat sederhana—dengan teknik single shot—pada sekitar akhir abad 19 hingga menjadi sebuah bisnis pertunjukkan massif dengan melibatkan teknologi yang sangat canggih pada saat ini. Tema dan cerita yang diangkat juga telah mengalami perubahan yang sangat signifikan. Mulai dari dokumentasi sederhana realita kegiatan sehari-hari pada akhir abad 19, hingga fantasi fiksi yang futuristik yang menjadi ciri khas film abad 21. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut sesuai dengan berkembangnya cara berpikir masyarakat pada saat itu.

Berbagai macam ideologi yang berkembang di masyarakat dan menjadi trend pada suatu saat tertentu tampaknya banyak mempengaruhi situasi perkembangan film dan kajiannya pada saat itu. Rushton dan Bettinson (14) mengatakan, pada tahun1960an terjadi perubahan pada bidang kajian film dengan munculnya pengaruh dari pergerakan intelektual yang dikenal dengan strukturalisme. Strukturalisme merupakan sebuah metode analisa mengenai logika struktur dari praktek-praktek dan produk-produk budaya. Alih-alih mencoba menemukan makna intrinsik dari penampilan luar, para strukturalis berkomitmen untuk mengungkap hubungan tersembunyi di bawah penampilan luar yang memberikan pemahaman yang lebih substansial dan ilmiah tentang bagaimana praktek-praktek dan produk-produk budaya melahirkan makna. Sebagian besar strukturalisme dipengaruhi oleh pemikiran Ferdinand de Saussure, yang berpendapat bahwa kata-kata tidak memiliki arti intrinsik permukaan, karena makna kata-kata tersebut hanya bisa dipastikan berdasarkan atas hubungan antara perbedaan kata tersebut dari kata yang lainnya. Oleh karena itu, makna dari suatu kata hanya dapat ditentukan dalam kaitannya dengan struktur yang lebih dalam—keseluruhan sistem bahasa—di mana kata tersebut ditempatkan.

Akan tetapi, seiring perkembangan pemikiran manusia, paradigma berpikir ini dikritik oleh suatu gerakan intelektual baru yang bernama pascastrukturalisme atau pos-strukturalisme. Melalui metode dekonstruksinya, pos-strukturalisme menolak anggapan-anggapan dan asumsi-asumsi paradigma strukturalisme tentang bahasa di atas. Pada perkembangan selanjutnya, pemikiran ini nampaknya juga berpengaruh terhadap paradigma kajian film, dimana ditandai dengan munculnya berbagai kajian film dengan menggunakan metode dekonstruksi, termasuk apa yang akan saya lakukan dalam essai ini.

Dalam essai ini saya akan mencoba melakukan pembacaan terhadap film Transformers 2: The Revenge of The Fallen dengan mengaplikasikan metode dekonstruksi. Saya menyakini ada banyak hal yang bisa didekonstruksi dari film ini. Namun, pada essai ini saya hanya akan berfokus kepada ideologi apa yang ingin disampaikan melalui film ini.

Kerangka Teori*

Pos-strukturalisme pertama kali muncul di Prancis pada akhir tahun 1960an. Dua tokoh utama yang sering dikaitkan dengan pemunculan pemikiran ini adalah Jaques Derrida dan Roland Barthes. Roland Barthes awalnya sebenarnya adalah seorang strukturalis, namun pada perkembangannya, karya-karyanya cenderung menunjukkan ciri-ciri pos-strukturalis (Barry 65). Derrida, sebagai tokoh pos-strukturalisme mencoba menawarkan metode dekonstruksi untuk mengatasi problem modernitas (Santoso 257). Dekonstruksi sendiri merupakan sebutan untuk postrukturalisme milik Derrida yang mana merupakan versi postrukturalisme pertama yang mencapai Amerika Serikat (Bertens 93).

Pos-strukturalisme merupakan penolakan simultan dan berkelanjutan terhadap strukturalisme—tidak hanya strukturalisme sastra, namun bahkan strukturalisme antropologi Lévi-Strauss. Pos-strukturalisme tidak dapat dipahami tanpa memahami strukturalisme. Hal ini karena pos-strukturalisme meneruskan perspektif strukturalisme yang anti-humanis dan mengikuti apa yang diyakini oleh strukturalisme, yaitu bahwa bahasa adalah kunci dari pemahaman kita terhadap diri kita sendiri dan dunia. Akan tetapi, meskipun meneruskan anti-humanisme strukturalis dan berfokus kepada bahasa, pos-strukturalisme secara terus-menerus ‘mengacau’ strukturalisme dengan benar-benar mempertanyakan—melakukan dekonstruksi—beberapa asumsi utama dari strukturalisme dan metode-metode yang diambil dari asumsi-asumsi tersebut (Bertens 93).

Pos-strukturalisme membedah sebuah teks dengan mengunakan metode dekonstruksi. Metode dekonstruksi ini ditujukan untuk membongkar sifat totaliter dari sistem, terutama yang tercermin dalam bahasanya (Santoso 257).  Metode dekonstruksi ini bisa disebut juga sebagai pos-strukturalisme ‘terapan’, yang mana merujuk pada cara membaca yang sebuah teks dengan melawan teks itu sendiri—reading the text against itself. Sebuah cara untuk menjelaskan hal ini adalah dengan mengatakan bahwa membaca dekonstruktif bertujuan untuk membuka dimensi yang tak sadar dari teks daripada dimensi yang sadar (Barry 70-1).

Lebih jauh mengenai pembacaan dekonstruktif, J. A. Cuddon (dalam Barry 72) mengatakan bahwa sebuah teks dapat dibaca dan dianggap mengatakan sesuatu jika sangat berbeda dengan apa yang tampaknya dikatakan. Teks tersebut seakan membawa makna signifikansi yang plural atau mengatakan hal-hal yang berbeda dari makna tunggal yang stabil. Jadi, dekonstruksionis melakukan apa yang disebut sebagai pembacaan oposisional, yaitu pembacaan yang bertujuan untuk menguak kontradiksi dan inkonsistensi internal di dalam teks, dengan maksud untuk menunjukkan ketidakbersatuan atau perpecahan (disunity) yang sebenarnya mendasari kesatuan yang nampak pada teks tersebut. Dalam rangka mencapai tujuannya, proses dekonstruksi akan sering memilih dan memusatkan perhatian pada sebuah detil dari teks yang kelihatan insidental—adanya metafora tertentu, misalnya—lalu kemudian menggunakannya sebagai kunci dari keseluruhan teks, sehingga semua hal dibaca melaluinya (Barry 72).

Di dalam kerangka pos-strukturalisme, sebuah teks bisa terdekonstruksi dengan, salah satunya, mengangkat munculnya konflik dalam menginterpretasikan teks tersebut. Munculnya konflik dalam interpretasi dapat mengakibatkan munculnya pamahaman yang lain yang menandakan ketidakstabilan bahasa. Atau, dengan mengangkat pemahaman lain yang membuat teks tersebut pada akhirnya tidak bisa menjawab pertanyaan yang awalnya seperti bisa dijawabnya (Tyson 265).

Cara lain yang bisa digunakan adalah mempertanyakan ideologi apa yang tampaknya ingin diangkat oleh teks tersebut. Dengan menggunakan oposisi biner dan bukti-bukti yang saling bertolak belakang—paradoks, kontradiksi, dst.—yang membangun tema utama teks tersebut, dekonstruksi menunjukkan betapa ideologi yang diangkat dalam teks tersebut sebenarnya terbatasi (Tyson 265).

Metode pendekonstruksian teks seperti di atas dapat memperkaya pembacaan kita terhadap teks tersebut, sehingga dapat membantu kita melihat beberapa ide penting yang diilustrasikan di dalam teks itu yang mana tidak bisa kita baca dengan jelas dan mendalam ketika mengaplikasikan cara membaca yang seperti biasanya, tidak menggunakan metode dekonstruksi. Selain itu, metode dekonstruksi dapat membantu kita dalam melihat betapa bahasa dapat membutakan kita terhadap ideologi yang terdapat di dalamnya (Tyson 266).

Transformer 2: Revenge of The Fallen

Transformers 2: Revenge of The Fallen adalah sebuah sekuel dari film Transformers (2007) yang diproduksi oleh Dreamsworks, Paramount Pictures, Hasbro, dan Di Bonaventura Pictures dan tayang di seluruh belahan dunia pada tahun 2009. Dengan masih dibintangi oleh bintang-bintang Hollywood yang memerankan prekuel Transformers, seperti Shia LaBeouf, Megan Fox, Tyrese Gbson, dan lain-lain, Transformers 2 berhasil meraih box office di berbagai belahan dunia dengan keuntungan lebih dari 800 juta dolar Amerika (“Transformers 2: Revenge of The Fallen”, http//:www.imdb.com).

Melanjutkan prekuelnya, Transformers 2: Revenge of The Fallen menceritakan petualangan Sam Witwicky pasca pertempuran dengan para Decepticon yang berujung dengan terbunuhnya Megatron, sang musuh utama. Dalam film ini diceritakan, para Autobot masih dalam misi mereka mencari dan menghancurkan robot-robot kelompok Decepticon yang masih tertinggal di bumi. Para Decepticon tampaknya masih ingin terus mencari keberadaan energon, sumber utama kehidupan bagi para makhluk planet Cybertron itu. Pemimpin Autobot, Optimus Prime, mengetahui bahwa akan cukup sulit untuk menumpas para Decepticon tanpa adanya bantuan dari para manusia, penghuni asli planet Bumi. Oleh karena itu, ia bersama para Autobot menjalin sebuah kerjasama dengan manusia guna mengadakan operasi-operasi untuk mencari dan menumpas anggota Decepticon yang masih tersisa di bumi. Kesepakatan kerjasama ini diwujudkan dengan pembentukan sebuah pasukan taktis aliansi yang disebut dengan NEST—Networked Elements: Supporters and Transformers (“NEST”, http://tfwiki.net).

Di tengah-tengah usahanya dalam menumpas para Decepticon, aliansi manusia dengan alien ini menemukan bahwa seorang musuh besar dari masa lalu merencanakan untuk kembali melakukan aksi. Musuh baru ini bernama The Fallen, seorang Decepticon pertama yang sangat berambisi untuk mendapatkan energon dengan cara apapun. Dari cerita tentang The Fallen ini diketahui juga bahwa sebenarnya para makhluk planet Cybertron ribuan tahun yang lali mengunjungi bumi. Mereka mengetahui bahwa bumi merupakan planet potensial penghasil energon karena planet ini memiliki matahari yang merupakan bahan baku utama energon. Akan tetapi, jika matahari benar-benar dibuat energon, maka matahari akan padam dan kehidupan bumi akan musnah. Mengetahui ini, para Prime memutuskan untuk menolak mengeksploitasi matahari, kecuali The Fallen. Ia bersikeras menjadikan matahari padam untuk membuat energon. Para Prime mencegah rencana tersebut dengan mengorbankan diri mereka untuk menyembunyikan mesin pembuat energon beserta kuncinya yang disebut Matrix of Leadership.

Di sisi lain, para Decepticon yang masih tersisa nampaknya tidak diam tanpa melakukan apa-apa. Mereka berusaha untuk mencari tubuh pemimpin mereka, Megatron, dan berniat menghidupkannya kembali. Setelah melalui berbagai usaha, akhirnya Decepticon dapat melacak keberadaan tubuh Decepticon dan berhasil menghidupkannya. Megatron akhirnya kembali ke markasnya dan bertemu dengan The Fallen yang sekaligus adalah mentornya. The Fallen mengatakan bahwa ia pernah dan hanya bisa dikalah oleh seorang Prime, oleh karena, itu untuk mewujudkan ambisinya yang tertunda dalam menjadikan matahari sebagai sumber energon, ia menyuruh Megatron untuk menghabisi Optimus Prime.

Di saat yang bersamaan, diketahui Samuel Witwicky menyentuh pecahan All Spark yang membuatnya mengalami hal-hal aneh dan sekaligus menunjukkan padanya dimana lokasi energon yang pernah dilindungi oleh para Prime ribuan tahun yang lalu. Para Decepticon diperintahkan untuk menangkap Sam guna mengetahui posisi energon tersebut. Terjadilah pertempuran yang melibatkan Decepticon dan Autobot, yang pada akhirnya mengakibatkan Optimus Prime terbunuh oleh Megatron.

Sam merasa bersalah atas kematian Optimus. Namun ia tahu bahwa ia tak boleh berhenti. Karena itu ia berusaha mencari cara agar dapat mengalahkan para Decepticon sekaligus menghidupkan Optimus Prime. Berkat bantuan seorang Decepticon tua bernama Jetfire, Sam berhasil mengetahui cara menghentikan Decepticon dan menghidupkan Optimus, sekaligus membuatnya melakukan petualangan di Mesir dan Timur Tengah dalam rangka mencari Matrix of Leadership yang menjadi solusi semua permasalahannya tersebut.

Akhirnya Sam berhasil menemukan kunci tersebut dan berhasil menghidupkan kembali Optimus. Akan tetapi, tiba-tiba saja The Fallen datang dan berhasil merebut Matrix of Leadership yang baru saja menghidupkan Optimus. Hal ini membuat Optimus Prime kembali melemah dan semua usaha Sam beserta teman-temannya terancam sia-sia. Di saat yang genting muncullah Jetfire yang memberikan tubuhnya untuk digunakan kekuatannya oleh Optimus. Berkat bantuan Jetfire, Optimus menjadi jauh lebih kuat dan langsung menghadapi Megatron dan The Fallen yang memiliki kekuatan cenayang. Terjadilah pertempuran hidup dan mati antara seorang Autobot dengan dua pemimpin Decepticon itu. Pada akhirnya, Optimus Prime berhasil melukai Megatron dan membunuh The Fallen yang sekaligus membuatnya memenangkan pertempuran dan berhasil menyelamatkan Bumi dari kemusnahan.

Pembacaan Dekonstruktif atas Film Transformers 2

Sebagai sebuah produk budaya populer, film Transformers 2 ini menyuguhkan berbagai macam hal yang sepertinya dapat memukau para penontonnya. Mulai dari cerita yang ringan—bila dibandingkan dengan film Hamlet (2006)—yang menjadi ciri khas film populer Hollywood, para pemain yang terdiri dari artis-artis Hollywood yang “enak dipandang”, hingga permainan efek visual spektakuler yang bahkan belum bisa ditiru oleh para sineas kita. Transformers 2 memamerkan determinasi teknik sinematografi khas Hollywood yang tak jarang membuat para penonton di tanah air berdecak penuh kekaguman. Akan tetapi, dibalik semua keberhasilan memukau penonton itu, sebenarnya film ini sarat dengan pesan-pesan ideologis yang disisipkan di sepanjang film. Pesan ideologis inilah yang akan saya bahas untuk mengawali pembacaan terhadap film Transformers 2.

Di bagian-bagian awal film kita ditunjukkan bagaimana situasi dan kondisi setelah berakhirnya pertempuran melawan Megatron di Transformers (2007). Di situ, narator, yang juga merupakan suara dari Optimus Prime, menceritakan bahwa pasca pertempuran itu para Autobot terus bekerja mencari sisa-sisa anggota Decepticon yang masih berada di Bumi. Optimus Prime mengumpulkan beberapa anggota Autobot yang belum ada di Bumi dan membentuk sebuah tim Autobot baru guna menjalankan misi ini. Bersama-sama, mereka membentuk sebuah aliansi dengan manusia dan mewujudkannya ke dalam sebuah kesatuan taktis tempur yang rahasia, yang anggotanya terdiri dari para tentara manusia sebagai supporter dan para Autobot yang disebut transformer. Kesatuan taktis ini disebut dengan NEST, singkatan dari Networked Elements: Supporters and Transformers

Yang menarik dari pasukan ini adalah bahwa para pasukan manusia yang tergabung dalam satuan ini merupakan orang-orang berkebangsaan Amerika dan Inggris. Hal ini bisa kita lihat dengan jelas ketika dalam adegan upacara pengembalian jenasah para pasukan yang tewas dalam operasi menumpas Decepticon di Shanghai, terdapat dua bendera yang dikibarkan, yaitu bendera Amerika dan Bendera Inggris. Akan tetapi, bendera Amerika yang berkibar tampak lebih besar daripada bendera Inggris. Hal ini bisa saja disimpulkan bahwa film tersebut sebenarnya ingin menunjukkan bagaimanakah determinasi Amerika dalam mengatasi permasalahan pertahanan yang berkaitan dengan ancaman Decepticon ini, sehingga bendera Amerika diperlihatkan lebih besar daripada bendera lainnya. Jika kita mencermati penggunaan sebuah bendera yang dikibarkan bersama-sama dengan bendera negara lain pada umumnya, kita akan menyadari bahwa selain dalam sebuah upacara pertandingan olahraga, bendera haruslah dikibarkan dengan tinggi yang sama dan ukuran bendera yang sama pula. Sebagai sebuah simbol negara, perlakuan terhadap sebuah bendera adalah penceriminan posisi dan kehormatan negara dari bendera yang bersangkutan. Sehingga jika sebuah bendera dikirbarkan dengan perlakuan yang lebih khusus dari bendera negara lain, maka pastilah negara dari bendera tersebut dianggap memiliki posisi yang lebih utama bila dibandingkan negara lainnya.

Determinasi Amerika pada film ini juga ditunjukkan dengan fakta bahwa komandan dan pimpinan tertinggi dari NEST adalah orang Amerika. Logat bicara mereka tampak dengan jelas membuktikan bahwa mereka menggunakan aksen American English dan bukannya British English. Di sisi lain, banyak dari fasilitas militer yang digunakan oleh NEST adalah fasilitas dan peralatan militer milik Amerika Serikat. Misalnya saja adalah kapal induk yang digunakan oleh militer. Sudah menjadi rahasia umum bahwa yang satu-satunya negara yang memilki kapal induk yang memuat beberapa pesawat jet F-16 dan pesawat intai AWAC hanya Amerika Serikat. Terlebih lagi, pesawat tak berawak Predator yang digunakan untuk melakukan pengintaian dan penyerangan oleh NEST adalah pesawat yang hanya dimiliki oleh Amerika Serikat. Sehingga, dari sini kita bisa melihat bahwa dalam pertempuran melawan Decepticon yang digambarkan di dalam film ini, Amerika Serikat memiliki determiasi yang sangat kuat. Bisa dikatakan bahwa negara Amerika memiliki peran sentral dalam usaha-usaha menjaga perdamaian di film Transformers 2 ini.

Dominasi Amerika Serikat dalam cerita film ini juga digambarkan dengan sangat jelas adegan Galloway, seorang utusan khusus Presiden Amerika Serikat, mendatangi markas NEST. Dalam adegan itu diceritakan bahwa Prsiden telah mengetahui tentang insiden Shanghai, dimana operasi peringkusan seorang anggota Decepticon berlangsung dengan kurang efektif dan rahasia. Hal ini menyebabkan banyak beredar kabar spekulasi tentang kejadian tersebut di internet. Oleh karena itu Presiden Amerika mengirim utusannya, Galloway, untuk meninjau kembali kinerja NEST dan signifikansi dari keberadaan Optimus Prime berserta kawan-kawan di Bumi. Setelah melakukan dialog dengan Optimus Prime sendiri, Galloway berkesimpulan bahwa ancama utama dari Decepticon sebenarnya sudah teratasi, yaitu dengan tewasnya Megatron. Berbagai hal yang menyangkut insiden pertempuran dengan para Decepticon sebelumnya juga telah ditangani dengan sangat baik dan aman. Selain itu, Galloway melihat bahwa alasan dari para Decepticon untuk berada di Bumi dan melakukan kekacauan sudahlah tidak relevan lagi, karena The All Spark yang menjadi biang keladi perseteruan telah musnah. Oleh karena itu, jika ada satu-satunya hal yang membuat Decepticon masih ada di Bumi adalah karena mereka ingin memerangi para Autobot yang juga masih berada di planet tersebut. Sehingga, jika para Autobot pergi, maka seharusnya Decepticon pun juga akan pergi dengan sendirinya. Di sisi lain,pemerintah Amerika melihat bahwa perjanjian yang dilakukan antara Autobot dan manusia berat sebelah karena Amerika tidak diperbolehkan mengakses pengetahuan tentang teknologi senjata dari Autobot, padahal di sisi lain prajurut manusia NEST selalu mensuport peran Autobot dalam setiap operasi yang dilaksanakan. Oleh karena itu, dengan menggunakan mandat yang diberikan oleh Presiden Amerika Serikat, Galloway mengusir Optimus Prime dan pasukannya.

Dari adegan di atas bisa dilihat bagaimanakah peran Presiden Amerika Serikat yang sangat kuat, sehingga bagai saya terkesan arogan. Sang presiden memiliki kewenangan penuh terhadap sebuah kesatuan yang bertugas memerangi ancaman dari para alien planet Cybertron. Presiden Amerika tampaknya memiliki otoritas yang sangat besar dalam menentukan apa yang terbaik bagi manusia. Ia digambarkan berhak mengusir para Autobot yang notabene telah berjasa memerangi ancaman para Decepticon. Secara tidak langsung bisa pula disimpulkan bahwa Amerika dalam hal ini menjadi penentu seluruh nasib umat manusia di bumi—karena apa ingin dilakukan oleh Decepticon adalah memadamkan matari yang merupakan sumber kehidupan makhluk hidup bumi.

Secara simbolis, figur Amerika Serikat sebagai negara yang superior juga direpresentasikan melalui penampakan dan penampilan fisik Optimus Prime. Ketika dalam mode penyamaran, wujud Optimus Prime adalah sebuah mobil truk besar yang lazim digunakan untuk transportasi barang di Amerika. Truk tersebut memilki motif api dan catnya berwarna merah dan biru. Ketika dalam mode robot warna dari cat ini masih juga kelihatan mendominasi warna penampilan Optimus Prime. Warna dari Optimus Prime ini sangat identik dengan warna bendera Amerika Serikat yang didominasi warna biru dan merah, walaupun juga ada warna putih. Dari sini kita bisa melihat bagaimanakah bendera kebangsaan Amerika direpresentasikan dalam tubuh Optimus Prime.

Sebagai seorang pemimpin Autobot, Optimus Prime memiliki beberapa superioritas dibandingkan anggota Autobot yang lain, diantaranya adalah sifat kepemimpinan, heroisme, kelincahan, kemampuan bertempur yang istimewa, serta postur tubuh yang tinggi. Jika ini dikaitkan dengan reperesentasi bendera Amerika dalam tubuh Optimus di atas, maka secara semiotik bisa disimpulkan bahwa dalam film ini, Amerika yang diwakili oleh Optimus Prime adalah sebuah negara yang memiliki banyak kelebihan dibandingkan negara lain. Amerika diindentikkan dengan kemampuan untuk memimpin negara lain dan superioritas di berbagai hal, khususnya pertahanan dan kemampuan berperang. Sebagaimana Optimus Prime yang merupakan makhluk extraterrestrial dengan kecerdasan dan teknologi tinggi, Amerika diidentikkan sebagai sebuah negara maju yang sangat mendeterminasi kemajuan teknologi.

Di sisi lain, negara-negara Arab dan Mesir di dalam film ini direpresentasikan sebagai negara yang masih terbelakang. Mesir hanya digambarkan dan dikenal melalui piramid-piramidnya serta negara di Arab yang lain hanya digambarkan melalui orang-orangnya yang kelihatan terbelakang dengan kehidupan yang sederhana serta kemampuan bahasa Inggris yang tidak dipunyai. Hal ini “diperparah” lagi oleh kalimat dan adegan yang menggambarkan bahwa piramid-piramid yang ada di Mesir bukanlah hasil dari kreativitas nenek moyang mereka, melainkan hasil konstruksi dan teknologi alien yang datang ke Bumi.

Film ini membentuk representasi sebuah oposisi biner yang secara tidak kelihatan menguatkan ideologi bahwa Amerika Serikat adalah sebuah negara maju yang memiliki banyak keunggulan dibanding negara lain, terutama, yang digambarkan dalam film ini, negara-negara Arab. Negara-negara Arab yang penduduknya masih mengunakan unta sebagai sarana transportasi  digambarkan tidak ada bandingannya dengan Amerika yang sudah memakai teknologi tinggi. Oleh karena itu Amerika, dengan berbagai macam determinasinya, layak menjadi “pemimpin” yang berhak memutuskan apa yang baik bagi umat manusia. Amerika yang memiliki determinasi yang sangat kuat tersebut tidak seharusnya menyerah terhadap segala macam ancaman dan tekanan yang sifatnya merugikan. Bahkan, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh salah seorang anggota NEST,  Amerika tidak boleh bernegosiasi dengan para pengancam, termasuk The Fallen. Karena apapun yang akan terjadi, dengan superioritas yang dimiliki, semua pasti akan bisa diselesaikan dengan baik dan menguntungkan Amerika.

Akan tetapi, film ini tampaknya menampilkan sebuah aporia, paradoks dalam menggambarkan legitimasi ideologi tentang superioritas Amerika. Ketika mengetahui bahwa Optimus Prime telah tewas ditangan Megatron, dan The Fallen telah tampil dan mengancam semua orang untuk menyerahkan Samuel Witwicky yang pada saat itu dianggap mengetahui letak dimana energon berada, pemerintah Amerika menjadi kebingungan. Di dalam kebingungan tersebut muncul ide untuk mencari Sam dan bernita menangkap mahasiswa tersebut untuk kemudian menyerahkannya kepada Decepticon, dengan harapan Decepticon akan segera pergi dan ancaman itu dibatalkan. Pemerintah sangat memaksa agar hal ini dilakukan, sedangkan NEST tidak setuju. Maka terjadilah adu mulut antara Galloway dan NEST.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah Amerika di atas nampak seperti menelan kembali mentah-mentah segala macam legitimasi superioritas dalam film ini. Amerika yang digambarkan memiliki berbagai macam superioritas tiba-tiba saja menjadi seperti ketakutan dengan ancaman The Fallen. Mereka seakan tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti apa yang telah dituntut oleh tetua para Decepticon tersebut. Sepertinya mereka menyadari bahwa dengan kematian Optimus Prime, maka kemungkinan melawan Decepticon sangatlah kecil. Ini juga meruntuhkan anggapan bahwa mengusir Optimus dari Bumi dapat menyelesaikan masalah. Dari sini bisa dilihat bahwa sebenarnya superioritas Amerika yang diangkat film ini sebenarnya sangat tergantung oleh keberadaan Autobot. Pasukan Amerika yang dipersenjatai lengkap dan sangat canggih terbukti, di dalam film ini, tidak mampu membuat pemerintah merasa percaya diri untuk melawan The Fallen dan pengikutnya. Di depan Decepticon, Amerika tanpa Autobot tidaklah superior, bahkan sama dengan negara lainnya yang bisa mereka hancurkan.

Alih-alih menyisipkan ideologi tentang superioritas Amerika Serikat, saya lebih melihat film ini sebagai bentuk legitimasi atas ketidakpercayadirian, ketidakmampuan, dan ke-plin-plan-an negeri paman Sam tersebut. Film ini menunjukkan bagaimana tentara Amerika bisa berjuang melawan pihak hanya ketika mereka memilki sekutu yang dapat diandalkan. Sebagai contoh pertama adalah hadirnya pihak Inggris. Sepertinya dalam melawan para alien dari planet Cybertron itu Amerika tidak merasa percaya diri jika berjuang sendiri. Oleh karena itu mereka merasa hadirnya seorang “teman” untuk “menemani” perlawanan mereka, yang dalam hal ini adalah para anggota NEST yang berkebangsaan Inggris. Di sisi yang lain, sebagai contoh kedua, persekutuannya dengan Autobot juga membuat Amerika menjadi jauh percaya diri untuk melawan Decepticon. Namun ketika mengetahui telah ditinggalkan oleh pemimpin sekutunya, mental Amerika langsung merosot.

Sikap plin-plan ditunjukkan Amerika ketika menanggapi ancaman The Fallen. Sebagaimana yang sudah saya bahas di atas, tiba-tiba saja Amerika menjadi negara yang pengecut. Nyali mereka menjadi ciut karena diancam oleh seuatu yang lebih unggul. Di sisi lain, sikap plin-plan ini juga ditunjukkan ketika mengusir Optimus Prime. Pada saat dibutuhkan Optimus Prime telah membantu memerangi Megatron serta mau menjadi sekutu yang loyal memberantas sisa-sisa Decepticon. Akan tetapi, ketika datang saat dimana para kedatangan Autobot dirasa tidak menguntungkan lagi bagi mereka, Autobot diusir.

Dari kesemuanya, sisi lain dari apa yang bisa dilihat atas ideologi tentang superioritas Amerika dalam film Transformers 2 ini adalah bahwa superioritas Amerika tidaklah berada di tangan Amerika sendiri. Amerika tanpa sekutu-sekutunya bukanlah bangsa yang superior. Kemajuan teknologi memang menjadi milik mereka, namun keberanian dan nyali menantang musuhnya sendirian, dalam film ini, tidaklah menjadi karakter Amerika Serikat. Hal ini pun nampaknya juga telah dibuktikan di dunia nyata. Semenjak Perang Dunia I hingga perang melawan Al-Qaeda Amerika tidak pernah maju sendiri. Mereka pasti mengajak teman-teman sekutunya.

Simpulan

Dunia perfilman dan sinema dunia telah berkembang dengan sangat signifikan selama lebih dari satu abad. Banyak hal yang telah dihasilkan, namun banyak pula yang mempengaruhi pencapaian ini. Saat ini film tidak hanya menjadi sebuah media hiburan saja, melainkan telah menjadi sebuah produk budaya yang sangat penting peranannya. Salah satu peran besar film yang dipengaruhi oleh kepentingan kekuasaan dan paradigma berpikir adalah sebagi media penyebaran dan legitimasi ideologi. Dengan menggunakan metode pembacaan dekonstruktif, ideologi-ideologi yang terdapat dalam film itu akan dapat dibaca dengan jelas, serta bahkan dapat memberikan pemahaman yang lain daripada pemahaman sebelumnya.

Dalam film Transformers 2: The Revenge of The Fallen, ideologi tentang superioritas Amerika Serikat terlihat dengan jelas. Dimulai dari pasukan pembela Bumi (NEST) yang hanya terdiri dari orang-orang Amerika dan beberapa orang Inggris, peralatan tempur serba canggih yang khas milik Amerika, hingga representasi Amerika dalam penampilan Optimus Prime sebagai pemimpin para Autobot. Akan tetapi, konsep ideologi superioritas tersebut seakan diruntuhkan sendiri oleh film ini dengan mengetngahkan panggambaran bagaimana lemahnya Amerika Serikat tanpa sekutu-sekutunya.

Referensi

“NEST”. Transformers Wiki. 11 Mei 2011, 06.20. <http://tfwiki.net/wiki/N.E.S.T.&gt; (15 Mei 2011, 15.59).

“Transformers 2: Revenge of The Fallen”. IMDB – The Internet Movie Database. <http://www.imdb.com/title/tt1055369/&gt; (15 Mei 2011, 15.37).

Barry, Peter. Beginning Theory. Manchester: Manchester University Press, 2002.

Bertens, Hans. Litherary Theory: The Basics. Edisi Kedua. New York: Routledge, 2008.

Dixon, Wheeler W. & Foster A. Gwendolin. A Short History of Film. New Jersey: Rutgers University Press, 2008.

Eagleton, Terry. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif. Terj. Harfiah Widyawati dan Evi Styarini. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

Miller, Toby dan Robert Stam (Ed). A Companion to Film Theory. Victoria: Blackwell Publishing, 2004.

Rushton, Richard dan Gary Bettinson. What is Film Theory? An Introduction to Contemporary Debates. Bergshire: McGraw-Hill Open University Press, 2010.

Santoso, Listiyono, dkk. Seri Pemikiran Tokoh: Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.

Tyson, Lois. Critical Theory Today: A User-friendly Guide. Edisi Kedua. New York: Routledge, 2006.

________________________________

Catatan

* Lihat pemaparan mengenai dekonstruksi di blog ini dalam artikel yang berjudul Posmodernisme dan Pascastrukturalisme.

>> Untuk artikel lain yang berkaitan dengan langkah-langkah mengaplikasikan metode dekonstruksi, silahkan baca http://www.info.ucl.ac.be/~pvr/decon.html. Mohon beritahukan apabila link tersebut sudah tidak valid.

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on May 16, 2011 in Just My Thoughts

 

Tags:

5 responses to “Transformers 2: Sebuah Pembacaan Dekonstruktif

  1. fahmi

    June 23, 2011 at 2:56 am

    Selamat Pagi Pak Cahyo!
    Saya boleh mengutip sebagian artikel ini tidak pak buat tugas kuliah introduction to literature? terima kasih.
    Klo boleh saya sangat senang sekali lo pak… heheh

     
    • Pujo Sakti

      June 23, 2011 at 7:29 am

      silahkan saja.. yang jelas, mohon bijaksana dan sesuaikan dengan aturan penulisan akademik dalam mengutip. 🙂
      saya sangat senang anda sudah mampir dan membaca artikel dalam blog ini. terima kasih banyak, semoga bermanfaat dan mendapat nilai intro to lit yang bagus. 😀

       
      • ricky inzaghi f

        February 2, 2013 at 8:57 pm

        siip… ~_~

         
  2. gesang

    September 29, 2011 at 10:37 am

    Salam kenal Pak…
    Klau Bpk tdk keberatan, saya juga ingin mengutip bberapa pendapat Bapak dalam makalah ini.
    Terima kasih sebelumnya…

     
    • Pujo Sakti

      September 29, 2011 at 9:57 pm

      ehmmmmmm! Bapak Gesang Manggala, S.Hum., yang budiman…. saya merasa senang ada seorang dosen yang “bermain-main” di blog saya… 🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: