RSS

Budaya Hibrid

08 Jul

Sepanjang sejarah, peradaban manusia selalu diwarnai dengan berbagai macam penaklukan dan pendudukan oleh suatu bangsa atau golongan tertentu terhadap bangsa atau golongan yang lain. Aktivitas pengkolonian tersebut terjadi dengan berbagai macam alasan dan sebab, mulai dari faktor ekonomi, keagamaan, hingga kejayaan. Ketiga faktor tersebut sangat populer di sekitar abad 17 sebagai alasan beberapa negara di Eropa untuk melakukan explorasi dan kolonisasi pada bangsa-bangsa di Afrika dan Asia, termasuk Indonesia (“Colonialism and Colonies”, Microsoft Encarta).

Dalam proses kolonisasi, bagi pihak pengkoloni, ada satu hal lagi yang mengukuhkan ketiga motif kolonisasi di atas, yaitu oposisi biner antara pengkoloni dan terkoloni, yang dalam konteks kolonisasi di Asia adalah antara barat (Eropa) dan timur (Asia). Dalam oposisi biner ini pihak pengkoloni selalu diidentifikasi sebagai pihak yang superior, sedangkan pihak terkoloni adalah sebagai pihak yang inferior. Dari pandangan tersebut, muncullah sesuatu yang dikenal sebagai ideologi kolonialis, dimana pihak pengkoloni mengganggap dirinya sebagai pihak yang superior yang percaya bahwa hanya kebudayaan Anglo-Eropa mereka lah yang beradab, canggih, dan metropolitan. Sehingga, penduduk asli yang merupakan pihak terkoloni dianggap sebagai masyarakat yang primitif, terbelakang, dan belum berkembang. Karena teknologi yang lebih maju, para pengkoloni percaya bahwa keseluruhan budaya mereka jauh lebih maju, sehingga mereka mengabaikan agama, adat-istiadat, dan kode-kode perilaku masyarakat yang mereka taklukkan. Para pengkoloni tersebut melihat diri mereka sendiri sebagai pusat dunia, sedangkan masyarakat yang dijajahnya berada pada pinggir dunia tersebut (Tyson 419).

Para penjajah itu melihat diri mereka sebagai perwujudan dari bagaimanakah seharusnya manusia itu, jati diri manusia yang sesungguhnya; sedangkan penduduk pribumi dianggap sebagai “liyan” yang berbeda dan karenanya lebih rendah daripada manusia. dalam kajian pascakolonialisme, praktek menilai semua orang yang berbeda dan dianggap lebih rendah daripada manusia itu disebut dengan “othering”, dan membagi dunia menjadi antara “kita” (yang “beradab”) dan “mereka” (“liyan” atau “orang primitif”). Orang-orang primitif dalam hal ini biasanya dianggap sebagai orang-orang yang jahat dan rendah, akan tetapi, terkadang juga dipandang memiliki kecantikan dan kebangsawanan primitif yang lahir dari kedekatan dengan alam atau eksotis. Namun bagaimanapun juga orang-orang pirimitif tersebut tetap dianggap sebagau liyan, karena tidak sepenuhnya manusia. Saat ini, sikap di atas—penggunaan budaya Eropa sebagai standar dimana semua budaya yang lain secara negatif dikontraskan—disebut sebagai “Eurosentrisme” (Tyson 419-20).

Ideologi kolonialis yang secara inheren Eurosentris, merupakan kekuatan meresap pada sekolah-sekolah yang didirikan oleh pengkoloni Eropa di daerah-daerah koloninya untuk menanamkan nilai-nilai dan budaya Eropa pada masyarakat asli, sehingga diharapkan dapat mencegah pemberontakan. Seseorang akan sulit untuk memberontak terhadap sistem atau orang yang telah diprogramkan padanya melalui beberapa generasi bahwa orang atau sistem tersebut superior.rencana tersebut sangat sukses dan menghasilkan penciptaan ‘subjek kolonial’ (colonial subject), yaitu orang-orang terkoloni yang tidak mau melawan penjajahan kolonial karena mereka diajarkan untuk percaya pada superioritas para penjajah dan inferioritas diri mereka sendiri. Banyak dari orang-orang ini yang mencoba untuk meniru penjajah mereka, sebanyak mungkin, dalam berpakaian, berbicara, perilaku, dan gaya hidup. Para kritikus pasca kolonial menyebut fenomena ini sebagai “mimikri”, yang mencerminkan keinginan individu terjajah untuk diterima dalam budaya penjajah dan pengalaman memalukan mereka terhadap budayanya sendiri. Para ahli pasca kolonialisme sering menggambarkan para subjek kolonial ini sebagai orang-orang yang memiliki kesadaran ganda atau visi ganda, suatu kesadaran atau cara memahami dunia yang terbagi antara dua budaya yang antagonis: budaya pengkoloni dan budaya masyarakat asli (Tyson 421).

Dari sini pulalah terjadi sebuah tabrakan budaya antara budaya penduduk asli dengan budaya para penjajah yang tidak jarang menghasilkan sebuah corak budaya baru yang hibrid, yang bercampur satu sama lain. Budaya hibrid ini pada akhirnya tumbuh dan berkembang di masyarakat terjajah dan seringkali menggantikan budaya asli masyarakat tersebut. (Tyson 422).

 

Referensi:

Cell, John W. “Colonialism and Colonies.” Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005.

Tyson, Lois. Critical Theory Today: A User-friendly Guide. Edisi Kedua. New York: Routledge, 2006.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 8, 2011 in Critical Theory

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: