RSS

Multikulturalisme dalam Film Cin(T)a


Poster Film Cin(T)a

Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,

Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,

Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa

Itulah bunyi lengkap bait ke 5 pupuh ke 139 kakawin Sutasoma yang dikarang oleh Mpu Tantular pada sekitar abad 13 (“Bhinneka Tunggal Ika,” http://en.wikipedia.org). Bait tersebut pulalah, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, yang menginspirasi founding fathers kita untuk menciptakan sebuah semboyan yang diharapkan bisa menjadi ruh dari sebuah negara yang waktu itu baru saja lahir, yang sebenarnya maknanya berbeda dengan konteks dari bait pada kakawin tersebut[1]. Kata bhinneka tunggal ika diambil sebagai sebuah semboyan yang berarti “berbeda-beda tetapi satu” dengan harapan bahwa yang negara baru lahir itu kelak dapat terus ada oleh karena persatuan yang kokoh walaupun negara yang bernama Indonesia itu terdiri dari berbagai macam perbedaan ras, agama, golongan, dan etnis.

Dari makna kata yang dipilih tersebut, tampaknya para pendiri negara kita pada waktu itu telah memahami bahwa negara ini adalah sebuah negara majemuk yang memiliki berbagai macam elemen yang berbeda, yang jika tidak disikapi dengan bijaksana, akan memungkinkan timbulnya perpecahan yang justru mengakibatkan runtuhnya negara tersebut. Karena itulah diperlukan suatu “pengikat” yang mampu mempersatukan perbedaan tersebut dalam kerangka negara kesatuan (Republik) Indonesia tanpa mengabaikan eksistensi perbedaan-perbedaan yang bersifat humanis tersebut. Maka semboyan bhinneka tunggal ika kiranya merupakan sebuah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan hal di atas sekaligus sebagai ruh dari semangat persatuan itu. Dengan demikian, pada taraf ini, semangat pluralisme dan multikulturalisme, semangat untuk tidak menghilangkan perbedaan, sebenarnya telah ditanamkan oleh bapak-bapak pendiri negara.

Pada pengantarnya untuk buku terjemahan Kymlicka yang berjudul Kewargaan Multikultural (2002), Budi Hardiman mengatakan bahwa dalam sebuah negara yang plural dan multikultur, diperlukan suatu sikap adil dari pemerintah terhadap perbedaan-perbedaan sebagai salah satu syarat utama terciptanya suatu masyarakat majemuk yang bersatu. Akan tetapi, hingga saat ini, hal tersebut tampaknya masih bukan hal yang mudah untuk dilakukan secara total. Ketidakadilan dalam birokrasi bagi etnis maupun golongan tertentu masih mewarnai  kehidupan bernegara kita. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang terlalu memihak kepada golongan tertentu juga masih sering dikeluhkan. Tidak hanya sikap adil otoritas pemerintah yang masih belum bisa dikatakan berhasil, semangat multikulturalisme itu sendiri masih menjadi sesuatu yang dipertanyakan keberadaannya dalam diri sebagian rakyat Indonesia. Setelah bergulirnya era reformasi, banyak anggota masyarakat yang tergabung ke dalam golongan atau organisasi tertentu yang berusaha untuk memaksakan kepentingannya ke kelompok lain dengan dalih kebenaran tunggal yang terkadang sulit untuk dilogika dengan pikiran jernih.

Isu-isu multikulturalisme seperti di atas hingga saat ini tampak selalu saja mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Saking maraknya kejadian meresahkan yang berhubungan dengan pelanggaran dan penegasian semangat multikulturalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, banyak pihak yang mencoba menyoroti hal tersebut dengan berbagai cara. Ada yang melakukannya lewat tulisan, demonstrasi, kampanye melalui internet, aksi langsung degan membuat kebijakan strategis—sebagaimana yang dilakukan mendiang Presiden Abdurrahman Wahid, atau dengan membuat film.

Dari sekian banyak film bertemakan multikulturalisme yang muncul sebagai bentuk keprihatinan terhadap semangat kemajemukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tersebutlah film yang berjudul Cin(T)a. Film ini adalah sebuah film independen yang menceritakan perjalanan cinta dua orang mahasiswa yang berasal dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda. Cina, tokoh utama laki-laki, adalah seorang mahasiswa keturunan Tionghoa yang berasal dari Batak dan pemeluk Kristen. Sedangkan Annisa, karakter utama perempuan, adalah seorang mahasiswi Muslim yang berasal dari etnis Jawa, sekaligus sebagai senior dari tokoh Cina. Kedua karakter tersebut bertemu di sebuah perguruan tinggi dan mulai berteman. Pertemanan itu berkembang menjadi perasaan saling suka sehingga membuat mereka merasa sangat dekat layaknya orang yang sedang pacaran. Akan tetapi, hubungan mereka menemui kendala yang sangat berarti terutama berkaitan dengan agama mereka yang saling berbeda. Pada akhirnya, mereka melihat bahwa perbedaan tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa mereka hindari dan memutuskan untuk merelakan hubungan mereka serta sepakat untuk berteman walaupun sebenarnya berat.

Isu-isu Multikulturalisme dalam Film Cin(T)a

"hidden message"

Isu-isu multikulturalisme yang diangkat oleh film Cin(T)a menurut saya sangat aktual pada saat ini (2011). Banyak hal yang seringkali terjadi pada kehidupan sebagian orang di dunia nyata yang digambarkan terjadi pada tokoh dalam film. Selain itu,  kenyataan bahwa Indonesia adalah negara yang multietnis dan multiras juga digambarkan dengan jelas dalam film ini melalui narasi, deskripsi tokoh, dan dialek serta dialog para tokohnya. Kemajemukan Indonesia digambarkan melalui adegan-adegan yang menggambarkan bagaimana sebuah institusi pendidikan Indonesia berisi mahasiswa yang identitas etnisnya beragam.

Sebagai contoh adalah tokoh Cina. Cina adalah seorang keturunan Tionghoa pada cerita film ini. Hal ini dilegitimasi oleh penggambaran fisik yang sangat sesuai dengan ciri-ciri fisik orang-orang keturunan Tionghoa. Dari dialognya dengan Annisa, tokoh utama perempuan, dapat diketahui pula bahwa Cina bukanlah orang yang berasal dari daerah dekat kampusnya (Bandung, Jawa Barat), melainkan dari Tarutung, Tapanuli, Sumatra Utara. Dialek dan gaya bahasa yang ia gunakan juga mencerminkan bahwa ia berasal dari daerah tersebut. Di sisi lain, teman-teman Cina tampaknya adalah orang-orang yang berasal dari Pulau Jawa, karena dilihat dari dialek yang mereka gunakan, mereka memiliki ciri khas cara berbicara orang-orang di Pulau Jawa, walaupun tidak bisa dipastikan Jawa yang mana.

Tokoh Annisa juga membawa identitas etnis yang sangat khas di Indonesia. Cara berbicara dan dialek yang digunakan Annisa menunjukkan ciri gaya bicara dan dialek yang digunakan oleh sebagian besar penduduk Pulau Jawa, sebagaimana dialek teman-teman Cina. Ketika adegan Annisa menerima telpon ibunya, penonton akan langsung bisa memastikan bahwa Annisa adalah seorang Jawa, karena gaya bicaranya yang halus dan menggunakan bahasa Jawa Krama ketika berbicara dengan ibunya, dimana ciri gaya bahasa ini lumrah dipakai oleh sebagian besar masyarakat Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Penggambaran fisik dan tingkah laku Annisa yang lemah lembut sesuai dengan stereotipe wanita Jawa tradisional menguatkan bahwa ia tak hanya orang dari Jawa, melainkan juga seorang etnis Jawa.

Selain identitas etnis yang diwakilkan oleh para karakter, identitas agama mereka juga berbeda-beda. Di awal film digambarkan bagaimana Cina berangkat kuliah dengan membawa Alkitab yang secara otomatis akan membuat penonton berkesimpulan bahwa dirinya adalah seorang Kristiani. Demikian pula ketika adegan Annisa mengambil air wudhu, sebuah identitas agama telah nampak padanya sebagai seorang Muslim yang langsung bisa disimpulkan oleh penonton. Di lain pihak, teman-teman Cina adalah pemeluk agama Islam, yang identitasnya bisa disimpulkan ketika salah seorang dari mereka mengucapkan kalimat tasbih[2] ketika memperhatikan dari atas sesosok perempuan cantik memasuki gedung kampus.

Apa yang kemudian menarik dari karakter yang berbeda-beda tersebut dia atas adalah bahwa interaksi dari orang-orang tersebut terjadi dengan biasa dan tampak tidak canggung[3]. Perbedaan etnis tampak tidak membuat mereka menjadi terkotak-kotak dan berusaha menutup diri satu sama lain. Cina tampak akrab dengan teman-temannya yang berbeda etnis dan melakukan obrolan-obrolan yang sama sekali tidak menyinggung tentang perbedaan etnis mereka. Ia dan temannya juga tampak saling menyapa setiap kali berpapasan. Keakraban itu memperlihatkan bahwa perbedaan etnis mereka tidak membuat mereka terbebani dalam berinteraksi sosial serta menunjukkan bagaimana mereka menempatkan sesama teman dalam posisi yang sama walaupun berbeda etnis.

Hal yang sama juga ditunjukkan ketika adegan-adegan interaksi Cina dengan Annisa. Keakraban mereka juga tidak tampak terkendala oleh perbedaan etnis. Salah satu hal yang menarik adalah ketika Annisa menanyakan mengapa Cina bekerja sebagai seorang pemijat refleksi di sebuah spa padahal ia adalah seorang keturunan Tionghoa. Pertanyaan Annisa ini sangat berbau stereotipe tentang orang-orang etnis Tionghoa di Indonesia, namun oleh Cina pertanyaan itu dijawab dengan santai dan tanpa beban bahwa tidak semua stereotipe itu benar. Di sisi lain, Annisa langsung memaklumi kenyataan tersebut dan menghargai apa yang dilakukan oleh Cina sebagai sesuatu yang wajar. Tidak ada ekspresi maupun dialog yang menunjukkan Annisa memandang rendah ataupun meremehkan Cina. Di sini nampak bahwa hubungan antara Cina dan Annisa adalah hubungan yang dilandasi sikap saling menghormati dan menghargai walaupun berada di bawah bayangan stereotipe yang sudah terlanjur ada dalam kesadaran mereka.

Interaksi persahabatan antara Cina dan Annisa serta Cina dengan teman-temannya di atas mengisyaratkan bahwa pada titik tersebut semangat multikulturalisme dapat berjalan dengan baik. Terlebih lagi, dalam berkomunikasi mereka tidak terkendala oleh bahasa yang berbeda pada masing-masing etnis karena mereka menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa telah menjadikan mereka bersatu tanpa menghilangkan kenyataan bahwa mereka memiliki perbedaan yang masih terwujud dalam dialek-dialek dan gaya bahasa yang berbeda. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Budi Hardiman bahwa pada negara yang majemuk, kohesi sosial dapat dihasilkan lebih jauh lewat ‘identitas bersama’ yang terbentuk melalui, salah satunya, kesamaan bahasa (dalam Kymlicka xiv). Bahasa yang mereka gunakan telah menjadi identitas bersama mereka sebagai orang Indonesia.

Semangat multikulturalisme yang berjalan dengan baik juga ditunjukkan ketika Cina berusaha untuk memahami perbedaan agama antara dirinya dan Annisa, dimana secara bersamaan, ia juga berusaha memahami bagaimana Annisa menjalankan ibadahnya. Pada awalnya memang terjadi kesalahpahaman. Namun kemudian Cina mampu mengerti dan memaklumi Annisa yang beragama dan beribadah dengan cara yang berbeda dengan dirinya. Puncaknya adalah ketika Cina dan Annisa bersama-sama saling membantu dalam merayakan hari raya Idul Fitri dan Natal yang kebetulan pada saat itu jatuh pada waktu yang sangat berdekatan.

Persahabatan Cina dan Annisa membawa mereka ke dalam perasaan yang jauh lebih mendalam. Mereka menjadi saling menyukai dan mencintai satu sama lain. Akan tetapi, perjalanan cinta mereka tidak berjalan dengan mulus, terutama disebabkan oleh perbedaan agama dan keyakinan yang mereka peluk. Konflik-konflik mulai muncul ketika mereka menyadari bahwa mereka terlalu cinta dengan Tuhan mereka masing-masing dan menemukan bahwa perbedaan agama mereka tidak akan pernah bisa dipertemukan secara total. Selain itu, Annisa merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa menikah dengan orang yang berbeda agama dengannya. Di sisi yang lain, di waktu yang bersamaan, terjadi sebuah peristiwa dimana terjadi pengeboman gereja oleh kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam. Hal ini membuat Cina berpikir dan mengevaluasi sikapnya terhadap perbedaan selama ini. Seakan mengoreksi usahanya untuk bertoleransi selama ini, Cina menjadi pesimis terhadap semboyan bhinneka tunggal ika dan berkesimpulan bahwa mungkin memang tidak ada tempat bagi perbedaan di Indonesia. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah dan menjadi teman baik.

Dalam konteks multikulturalisme keindonesiaan sekarang, pesimisme Annisa terhadap hubungannya dengan Cina adalah sesuatu yang aktual. Banyak diantara masyarakat Indonesia yang mengalami hal serupa dan berakhir sama dengan yang digambarkan dalam film, yaitu berpisah. Selain hukum Islam yang mengharamkan seorang muslimah menikah dengan laki-laki nonmuslim[4], pernikahan antaragama juga tidak pernah diatur oleh undang-undang. Bahkan, melalui UU Perkawinan no 1 tahun 1974, pemerintah telah dengan tegas mengatur bahwa sahnya perkawinan menurut negara adalah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan yang dianut kedua mempelai[5]. Ini berarti, jika seorang wanita muslim menikah dengan pria nonmuslim, dimana diharamkan menurut hukum Islam, maka pernikahan tersebut juga dianggap tidak sah oleh hukum negara. Karena tidak dianggap sah, maka anak dari perkawinan tersebut juga dianggap tidak sah oleh negara[6] serta hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya[7]. Konsekuensi dari hal ini adalah anak dari hasil perkawinan tersebut, karena orang tuanya tidak memiliki akta perkawinan, maka akan sulit untuk mendapatkan akta kelahiran, yang berdampak pada sulitnya mengurus birokrasi terutama yang berkaitan dengan kependudukan kelak di kemudian hari.

Faktor-faktor di atas tampaknya menjadi penyebab perkawinan antaragama sebagai sebuah isu multikulturalisme yang sampai saat ini masih menjadi sorotan. Pemerintah dinilai tidak menghormati hak-hak azasi manusia dengan tidak melegalkan pernikahan antaragama. Padahal, hak azasi manusia, menurut beberapa kaum liberal, merupakan bentuk hak dasar yang harus dipenuhi dalam rangka menyelesaikan isu minoritas dan menegakkan semangat multikulturalisme (Kymlicka 3-4).

Munculnya peristiwa pemboman gereja oleh kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam pada film Cin(T)a yang membuat tokoh Cina menjadi pesimis terhadap pandangannya akan keberagaman juga menunjukkan betapa kehadiran minoritas illiberal yang agresif-totaliter[8] telah mencederai semangat multikulturalisme yang sudah terbangun. Aksi kelompok tersebut, sebagaimana tergambar dalam film, terbukti telah sering mengabaikan hak-hak azasi yang dikaruniakan Tuhan secara langsung kepada manusia. Konsekuensi dari tindakan mereka tidak jarang berakibat jauh lebih besar yang mengakibatkan ketidakpercayaan dan kebencian terhadap agama Islam, sebuah mayoritas dimana minoritas tersebut termasuk di dalamnya.

Budi Hardiman menyarankan bahwa pada kelompok minoritas illiberal di atas, negara haruslah bersikap tegas dan bertindak demi law and order. Sikap tegas ini pada gilirannya bisa diterima, hanya jika negara dipercaya oleh rakyat karena bertindak konsisten dan tidak memihak (dalam Kymlicka xviii). Oleh karena itu, apabila pada masa mendatang masih saja muncul kejadian serupa, berdasarkan apa yang dikatakan Hardiman di atas, maka negara pada saat itu tentulah tidak tegas dan dipercaya oleh rakyatnya karena bertindak inkonsisten dan memihak.

Isu multikulturalisme lain yang diangkat dalam film Cin(T)a adalah diskriminasi birokrasi yang masih kerap terjadi di negeri ini. Di dalam film diceritakan bahwa Cina telah berulang kali mengajukan diri menjadi penerima beasiswa. Sebagai seorang yang berasal dari keluarga tidak mampu namun memiliki prestasi yang luar biasa, seharusnya ia memiliki kesempatan yang sangat besar untuk berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Akan tetapi, pada setiap pengumuman namanya tidak pernah tercantum sebagai penerima beasiswa dan hanya nama-nama yang sangat “Indonesia” dan “pribumi” saja muncul di pengumuman itu.

Hal ini menunjukkan betapa mental masyarakat kita, termasuk birokrasi, belumlah multikulturalis. Di sini, para imigran, khususnya Tionghoa, dan keturunannya—kendatipun telah mendapat status WNI—tetap dianggap ‘asing’ di hadapan mayoritas pribumi (Hardiman dalam Kymlicka xv). Ketidakadilan semacam ini tentunya berdampak buruk bagi kelangsungan dan kemajuan sebuah negara. Bisa jadi banyak orang yang berpotensi memberikan kontribusi kemajuan yang luar biasa bagi negara ini akan memilih untuk pindah ke luar negeri hanya karena perlakuan tidak adil dan diskriminatif dari birokrasi. Inilah tampaknya yang juga terjadi pada tokoh Cina yang akhirnya memilih untuk mencari beasiswa ke Singapura dan mengubur dalam-dalam cita-citanya menjadi gubernur Tapanuli. Pada akhirnya, orang-orang seperti Cina bisa saja membuat negara lain jauh lebih maju dan melupakan identitas asal-usulnya. Tentunya hal ini sangat merugikan bagi sebuah negara yang mengingkari semangat multikulturalisme.

Cin(T)a dan Multikulturalisme Kymlicka

Will KymlickaDalam bukunya Kewargaan Multikultural, Kymlicka telah bercerita panjang lebar tentang bentuk-bentuk multikulturalisme dan berbagai macam pelaksanaannya di negara-negara Eropa dan Amerika. Dari pemaparan tersebut satu hal yang dapat ditarik sebagai kesimpulan adalah bahwa apa yang disebut sebagai multikulturalisme di negara-negara barat seperti Amerika Serikat, Swiss, Perancis, Kanada, Australia, dan Inggris tidaklah benar-benar sama satu sama lain. Masing-masing memiliki kekhasan, baik itu dalam definisinya maupun dalam pelaksanaannya[9]. Kymlicka melihat, bahwa keberagaman definisi dan implementasi dari multikulturalisme itu bisa menimbulkan kebingungan dalam memahami apa arti multikulturalisme itu sendiri secara umum. Oleh karena itu ia berusaha untuk memberikan dasar teoritis bagi multikuturalisme dengan memakai pengertian yang berbeda (Kymlicka 26).

Dalam mendefinisikan multikulturalisme, Kymlicka memusatkan perhatiannya pada jenis ‘multikulturalisme’ yang timbul karena perbedaan bangsa dan etnis. Sehingga, suatu negara disebut multikultural apabila para nggotanya berasal dari berbagai bangsa (suatu negara multibangsa) atau telah beremigrasi dari berbagai bangsa (suatu negara polietnis) dan apabila kenyataan ini merupakan aspek yang penting dari identitas personal dan kehidupan politik. Dalam pengertian ini Kymlicka tidak memasukkan jenis-jenis kantong gaya hidup, gerakan sosial dan perkumpulan sukarela yang biasanya dimasukkan orang lain di dalam lingkup multikulturalisme. Hal ini karena ia menganggap bahwa dengan mengakomodasi perbedaan etnis dan bangsa hanyalah merupakan bagian dari perjuangan yang lebih besar untuk membuat demokrasi yang lebih toleran dan inklusif. Lebih lanjut, Kymlicka mengatakan ia berusaha agar teorinya tersebut dapat mencakup perjuangan melawan marginalisasi hak-hak minoritas kebudayaan yang melintasi garis-garis etnis dan bangsa, sebagaimana yang terjadi pada kaum perempuan, homo dan lesbian, dan para penyandang cacat. Ia melihat bahwa ada analogi penting antara tuntutan keadilan yang diajukan oleh gerakan dan kelompok sosial itu dengan tuntutan yang diajukan oleh kelompok etnis karena keduanya telah dikucilkan dan dikesampingkan karena ‘perbedaan’ mereka (Kymlicka 26-27).

Dari definisi multikulturalisme menurut Kymlicka di atas, jelaslah sudah bahwa film Cin(T)a sesuai dengan pengertian Kymlicka tentang multietnis dan multibangsa[10]. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana interaksi antara Cina yang seorang Batak-Tionghoa dengan Annisa yang seorang Jawa. Film tersebut juga memperlihatkan bagaimana dalam proses interaksi tersebut tidak tampak usaha-usaha memarjinalkan kelompok etnis atau bangsa yang lain. Semua berada pada kedudukan yang setara. Hal ini jelas mendukung semangat multikulturalisme yang diformulasikan oleh Kymlicka.

Akan tetapi, narasi besar dalam film tersebut sebenarnya adalah konflik yang muncul akibat perbedaan agama. Cina yang seorang Nasrani mencintai Annisa yang seorang Muslim. Perbedaan agama ini telah menimbulkan menimbulkan garis-garis batas yang membuat mereka memilih untuk merelakan dan mengakhiri hubungan tersebut, serta di sisi lain permasalahan aktual itu tidak diakomodasi oleh negara. Dalam definisi multikultural Kymlicka di atas, jelas tidak menyebutkan faktor agama ini sebagai salah satu hal yang diperhatikan dalam paradigma multikulturalisme. Pada bab-bab selanjutnya Kewargaan Multikultural, Kymlicka memang membahas beberapa peristiwa yang berkaitan dengan isu keagamaan, akan tetapi, alih-alih menempatkan isu perbedaan agama sejajar dengan isu etnis dan bangsa, Kymlicka cenderung memposisikan agama sebagai isu yang berada di bawah isu etnis[11]. Walaupun ada pendapat yang mengatakan bahwa agama merupakan bagian dari etnisitas[12], namun menurut saya, ciri khas kultur Indonesia telah membuat permasalahan etnis dan agama menjadi sesuatu yang berbeda. Sebagai contoh adalah apa yang digambarkan di dalam film Cin(T)a di atas, dimana permasalahan yang muncul lebih didominasi oleh perbedaan agama daripada perbedaan etnisitas ras.

Sehingga, dengan demikian, film Cin(T)a sebenarnya juga memberikan sebuah definisi baru tentang multikulturalisme Kymlicka, bahwa paradigma multikulturalisme seharusnya tidak hanya melihat perbedaan bangsa dan etnis sebagai permasalahan atau isu-isu multikulturalisme, namun harus juga memasukkan agama sebagai unsur yang harus juga diperhatikan, sejajar dengan isu perbedaan etnis dan bangsa. Dari narasi film tampak jelas bahwa perbedaan agama yang berujung pada sikap fanatisme yang berlebihan telah membawa kelompok-kelompok tertentu menjadi minoritas illiberal yang agresif-totaliter. Kelompok tersebut kemudian melakukan tindakan yang bertentangan dengan semangat toleransi pada multikulturalisme dengan cara-cara yang bahkan melanggar hukum nasional[13]. Ekses dari aksi tersebut pada gilirannya menimbulkan bentuk pesimisme yang lain terhadap semangat multikulturalisme, yang dalam hal ini ditunjukkan dengan evaluasi sikap yang dilakukan oleh tokoh Cina terhadap sikap menghargai perbedaan dan toleransinya selama ini, serta ketidakpercayaannya pada semboyan pluralisme bhinneka tunggal ika.

Simpulan

Film Cin(T)a merupakan sebuah film yang sarat dengan isu-isu multikultural. Salah satu yang paling kuat dibahas dalam film ini adalah isu pernikahan beda agama yang pada konteks keindonesiaan sekarang ini tidak diakomodasi oleh pemerintah padahal telah seringkali menimbulkan persoalan terutama di kalangan masyarakat.

Selain mengangkat isu-isu multikultural, film ini sebenarnya mengukuhkan definisi keberagaman Kymlicka mengenai multietnis dan multibangsa, serta di sisi lain sekaligus memberikan definisi baru mengenai multikulturalisme Kymlicka dengan mengetangahkan faktor agama sebagai sesuatu yang seharusnya diperhatikan setara dengan aspek etnis dan bangsa.

Daftar Pustaka

“Bhinneka Tunggal Ika”. Wikipedia: The Free Encyclopedia. 21 Apr. 2011, 23:43. <http://en.wikipedia.org/wiki/Bhinneka_Tunggal_Ika&gt; (1 Mei 2011, 23:28).

“Ethnic Group”. Wikipedia: The Free Encyclopedia. 24 Apr. 2011, 20:13. <http://en.wikipedia.org/wiki/Ethnic_group&gt; (1 Mei 2011, 23:35).

Kymlicka, Will. Kewargaan Multikultural. Terj. Edlina Hafmini Eddin. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2002.


[1] Menurut terjemahan Dr. Soewito Santoso (“Bhinneka Tunggal Ika,” http://en.wikipedia.org), makna dari bait 5 pupuh 139 tersebut sebenarnya adalah suatu ajaran tentang bagaimana memahami Sang Budha dan Shiwa yang berbeda namun satu. Untuk lebih jelasnya, berikut terjemahan dari bait tersebut dalam bahasa Indonesia:

Dikatakan bahwa Budha dan Shiwa adalah dua dzat yang berbeda.

Mereka memang berbeda, namun bagaimana mungkin untuk mengenali perbedaan mereka dalam sekilas,

sementara kebenaran Jina (Budha) dan kebenaran Shiwa adalah tunggal.

Mereka memang berbeda, tetapi mereka dari jenis yang sama, karena tidak ada kebenaran yang mendua.

[2] Lafal kalimat tasbih adalah “subhanallah” yang berarti Maha Suci Allah. Kalimat ini biasanya diucapkan ketika seorang muslim melihat sesuatu yang menakjubkan atau mengagumkan.

[3] Tentunya kecuali saat adegan ketika tanpa sengaja Cina menyentuh Annisa padahal ia baru saja mengambil air wudhu.

[4] Lihat QS. Al-Baqarah ayat 221.

[5] Lihat UU Perkawinan no 1 tahun 1974 pasal 2 dan 8.

[6] Lihat ibid., pasal 42.

[7] Lihat ibid., pasal 43.

[8] Kelompok minoritas yang menindas anggotanya demi solidaritas sekaligus ingin menguasai kelompok-kelompok lain, jika perlu dengan melawan hukum nasional (Hardiman dalam Kymlicka xviii).

[9] Lihat Kymlicka hal. 14-38.

[10] Bangsa di sini diartikan sesuai dengan definisi Clifford Geertz dalam Welt in Stuecken. Kultur und Politik am Ende des 20. Jahrhunderts (1996), yaitu kumpulan orang dengan bahasa, darah, sejarah dan tanah yang sama.

[11] Lihat Kymlicka hal. 173

[13] Bdk. Kymlicka hal. xviii

 
Leave a comment

Posted by on May 16, 2011 in Just My Thoughts

 

Tags:

Posmodernisme dan Pascastrukturalisme


Istilah ‘posmodernisme’ telah lama menjadi subjek perdebatan, terutama pada 1980-an dan 1990-an. Beberapa orang melihatnya hanya sebagai kelanjutan dan pengembangan ide-ide modernisme, yang lain telah melihat dalam seni posmodern sebagai perpecahan radikal dengan seni modern klasik, sementara beberapa orang yang lain melihat secara retrospeksi sastra dan budaya masa lalu melalui kaca mata posmodern dan mengidentifikasi teks serta para penulis sebagai sesuatu yang sudah posmodern (Selden, dkk. 197).

Istilah posmodernisme sendiri diperkenalkan oleh Jean-Francois Lyotard melalui bukunya yang berjudul The Post-Modern Condition (1979), sebagai sebuah momentum baru dalam sejarah budaya. Posmodernisme sangat skeptisJean Francois Lyotard terhadap alasan mengenai masyarakat industri dan menolak premis-premisnya. Lyotard juga mencirikan posmodernisme sebagai skeptisisme terhadap apa yang disebut ‘metanarrative’ (Rivkin dan Ryan 355). Menurut Lyotard, postmodern merupakan suatu periode dimana segala sesuatu di-deligitimasi-kan (Sugiharto dalam Santoso 324). Postmodern mendeligitimasi sistem totaliter yang biasanya bersifat hegemonis dan pro status quo agar tidak memberangus munculnya kebenaran-kebenaran yang bukan sekadar kebenaran tunggal. Ketika posisi pengetahuan dilegitimasikan oleh narasi-narasi besar seperti kebebasan, kemajuan, emansipasi, dan sebagainya, maka kini narasi-narasi besar tersebut telah mengalami nasib yang sama dengan narasi-narasi besar (metanarasi) sebelumnya—seperti religi, dialektika ruh, subjektivitas, dan sebagainya—yang menjadi patokan filsafat modern, yaitu mengalami kehilangan kekuatannya dan menjadi sulit dipercaya (Santoso 324-325). Postmodern menyadari bahwa dalam ranah rasionalitas tidak ada kebenaran yang yang bersifat tunggal dan absolut. Oleh karena itu postmodern menolak kebenaran tunggal dan memperjuangkan adanya berbagai realitas lain yang juga benar.

Di tengah kemapanan dan pesona yang ditawarkan oleh proyek modernisasi dengan rasionalitasnya, postmodern justru (di)tampil(kan) dengan sejumlah evaluasi kritis dan tajam terhadap impian-impian masyarakat modern. Munculnya postmodern merupakan suatu sinyal atas hadirnya sejumlah pemikir, filsuf, dan intelektual yang berusaha melakukan dekonstruksi atas basis dasar pengetahuan modern. Artinya, nilai yang ditawarkan oleh postmodern adalah betapa gagasan –gagasan dasar, seperti filsafat, rasionalitas, dan epistemologi, dipertanyakan lagi secara radikal. Dengan demikian, terminologi postmodernisme lebih berkaitan dengan suatu sikap kritis atas segala bentuk kemapanan (status quo) yang diciptakan oleh proyek modernisasi (Listiyono Santoso dalam Santoso, dkk. 320-322).

Postmodernisme sebagai epistemologi ditandai oleh keragaman argumen. Menurut Lyotard, postmodern berarti mencari ketidakstabilan. Kalau pengetahuan modern mencari kestabilan melalui metodologi, dengan “kebenaran” sebagai titik akhir pencarian, maka pengetahuan postmodern ditandai oleh runtuhnya kebenaran, rasionalitas, dan objektivitas. Prinsip dasarnya bukan benar-salah, tetapi sebagai paralogy atau membiarkan segala sesuatunya terbuka, untuk kemudian sensitif terhadap perbedaan-perbedaan. Tampaknya, semangat dekonstruksi Derrida berpengaruh pada prinsip pengetahuan postmodern untuk selalu melakukan revisi kritis pada setiap bentuk pengetahuan (Santoso 326).

Hal tersebut di atas tampak membuat posmodernisme disalahkan karena tidak mengambil sikap atas isu-isu nilai. Menurut Lyotard, semua nilai adalah topik perdebatan, dan perdebatan haruslah terus menerus tanpa henti. Satu-satunya hal yang salah adalah menutup perdebatan tersebut (Rivkin dan Ryan 355).

Pentingnya Mengetahui dan Mempelajari Posmodernisme

Around The World in 80 Days

Phileas Fogg, tokoh utama dalam film Around the World in 80 Days (2004), adalah seorang ilmuwan yang sangat imajinatif. Sebagai seorang penemu, ia telah menghasilkan banyak karya yang tidak biasa pada saat itu, yang berasal dari imajinasi-imajinasinya. Suatu ketika, saat mobil-mobil bermesin uap merupakan kendaraan tercanggih yang lumrah digunakan di masyarakatnya, Phileas Fogg terobsesi untuk membuat kendaraan yang lebih cepat. Ia mengatakan di depan anggota Royal Academy of Science—sebuah perhimpunan para ilmuwan dan penemu di Inggris—bahwa ia bisa membuat sebuah kendaraan yang jauh lebih cepat dari kecepatan kendaraan yang ada saat ini dan berdasarkan perhitungannya, seseorang mampu bepergian keliling dunia hanya dalam waktu 80 hari. Bagi sebagian besar anggota perhimpunan tersebut, ide Phileas Fogg bagaikan sebuah mimpi di siang bolong yang hampir mustahil terwujud menjadi kenyataan. Bahkan seorang ilmuwan yang paling berpengaruh di perhimpunan itu mengatakan padanya bahwa saat itu adalah saat dimana manusia sudah menemukan segala hal yang berharga untuk ditemukan, oleh karena itu tidak dibutuhkan adanya penemuan baru lagi. Selain itu, Phileas dikenal sebagai penemu yang sering gagal dalam menciptakan sesuatu, sehingga bagi kebanyakan ilmuwan lain Fogg hampir dipastikan mustahil bisa menemukan kendaraan baru yang lebih cepat sekaligus mustahil juga bepergian keliling dunia dalam 80 hari. Namun demikian, para ilmuwan yang tidak percaya tersebut menantang Fogg untuk membuktikan bahwa ia sanggup melakukan perjalanan keliling dunia dalam 80 hari sebagaimana yang ia katakan sebelumnya, dengan syarat bahwa jika ia tidak berhasil maka ia tidak diperbolehkan lagi untuk melakukan penemuan-penemuan. Sang ilmuwan imajinatif dengan lantang menyambut tantangan tersebut walaupun sebenarnya ia sendiri juga menyadari bahwa akan sangat sulit untuk mewujudkan hal tersebut dikarenakan oleh keterbatasan sarana dan prasarana yang ada pada saat itu. Akhirnya, dengan kegigihan dan bantuan dari seorang teman, Phileas Fogg berhasil mewujudkan imajinasinya mengelilingi dunia dalam 80 hari walaupun banyak pihak, khususnya dari Royal Academy of Science, yang selalu berusaha untuk menggagalkan usahanya tersebut.

 Dari cerita film di atas bisa dilihat bahwa dunia Phileas Fogg hidup adalah sebuah dunia modern. Banyak penemuan sudah ditemukan, termasuk mesin uap yang menandai batas awal era modernisasi dalam sejarah nyata umat manusia. Manusia bagaikan berada pada masa keemasannya dikarenakan oleh banyaknya hal “modern” yang telah ditemukan dan dibuat sehingga mereka merasa saat itu adalah saat dimana penemuan baru sudah tidak diperlukan lagi. Mereka merasa sudah cukup dengan apa yang mereka capai dan merasakan suatu titik kemapanan dalam berbagai hal. Pada kalangan ilmuwan di film itu, sebuah standarisasi telah ditentukan berdasarkan pencapaian umum yang telah dicapai pada saat itu, sehingga muncul sebuah narasi besar yang seakan mengatakan bahwa pencapaian lain yang melampaui hal tersebut merupakan sebuah kemustahilan.

Di sisi lain, apa yang dilakukan oleh Phileas Fogg adalah sebuah bentuk perilaku yang bercirikan posmodernisme. Keinginannya untuk menemukan dan melakukan sesuatu yang melampaui batas pencapaian umum pada saat itu merupakan sebuah pemberontakan terhadap status quo masyarakatnya yang modern. Ia menolak segala anggapan yang mengatakan bahwa tidak mungkin ada pencapaian yang bisa dilakukan di saat berbagai macam hal sudah dicapai dan ditentukan standar tertingginya. Imajinasi-imajinasi sang ilmuwan telah melampaui standar tertinggi tersebut dan dengan “mencengangkan” mampu ia wujudkan dalam hal nyata. Dengan kata lain, apa yang dilakukan dan dicapai oleh Phileas Fogg sebenarnya merupakan sebuah bukti bahwa pencapaian yang melampaui standar tersebut bukanlah hal yang mustahil. Hal ini sekaligus meruntuhkan narasi besar yang mendasari rasionalitas para ilmuwan yang menentang dan tidak mempercayainya tersebut.

Ilustrasi dari film di atas setidaknya cukup memberikan gambaran umum tentang pentingnya kita mengetahui dan mempelajari pemikiran posmodernisme. Apa jadinya seandainya kita hidup sebagai rakyat biasa pada film tersebut dan tidak mengenal serta memahami pemikiran yang bercirikan posmodernisme sebagaimana yang dilakukan oleh si tokoh utama? Hampir bisa dipastikan kita akan mengikuti arus pemikiran utama para ilmuwan dalam film itu yang beranggapan bahwa pencapaian modern yang telah dicapai merupakan sebuah hasil final yang mustahil untuk dilampaui. Pemikiran kita juga akan terdistorsi oleh rasionalitas arus utama yang beranggapan bahwa kita sudah tidak memerlukan hal lain untuk dicapai, karena segala hal yang kita perlukan sudah kita capai. Kita merasa sudah berada dalam suatu situasi kemapanan dalam beraktivitas dan berfikir. Kita akan berada pada posisi yang bisa dibilang sangat pasif, karena hanya akan melakukan hal-hal yang sudah terdefinisi standarnya. Semua orang akan cenderung untuk selalu mengikuti standar itu, karena hanya standar itulah yang merupakan kebenaran yang diakui oleh masyarakat. Segala macam inovasi lain yang dianggap tidak sesuai dengan kebenaran standar tersebut akan dicoba untuk diberangus, sebagaimana yang terjadi pada sang tokoh utama di film itu. Standar itu menjadi sebuah kebenaran absolut yang yang tidak boleh ditawar. Kreativitas kita mungkin hanya akan berputar-putar di dalam kerangka standar itu, sehingga praktis yang terjadi adalah pengulangan-pengulangan yang bersifat  monoton. Pada akhirnya, apa yang kita lakukan serta kreativitas yang kita kembangkan akan menjadi sebuah bentuk kebosanan. Tidak ada hal baru yang dilakukan, tidak ada hal baru yang diciptakan.

Sebaliknya, jika kita bisa menjadi seperti Phileas Fogg dan berpikiran sebagaimana jalan pikirannya, kita akan bisa menemukan jalan keluar dari “kebosanan” intelektualitas akibat dari situasi modernitas di atas. Dengan paradigma pemikiran revolusioner bergaya posmodern seperti itu, kita akan mampu mengembangkan kreativitas kita tanpa harus terkungkung dalam batas-batas standar modernisme yang menjadi arus utama paradigma masyarakat. Pikiran kita akan merasa bebas untuk melakukan segala macam kreativitas dan mewujudkan segala macam imajinasi, bahkan yang dianggap tidak mungkin sekalipun. Seandainyapun masyarakat menganggap kreatifitas yang imajinatif tersebut sebagai sebuah kemustahilan yang berlawanan dengan paradigma tradisi, kita tidak akan mudah menyerah dan berhenti begitu saja, karena kita menyakini bahwa relasi kebenaran tidaklah bergantung pada paradigma mainstream. Kita akan melihat segala hal secara lebih terbuka karena kita percaya bahwa sekecil apapun realitas, bisa jadi itu adalah juga kebenaran. Kita bisa menjadi orang yang lebih percaya diri dengan visi kita sehingga tekad untuk terus maju dan berinovasi secara intelektual tidak akan berhenti hanya karena terhalang oleh tradisi.

Posmodernisme akan cenderung mendorong kita untuk melihat segala sesuatu, terutama permasalahan, dari berbagai sisi yang berbeda. Dialog-dialog yang selalu ditawarkan oleh posmodern akan membawa kita pada kekritisan terhadap permasalahan tersebut dan cara penyikapannya. Pada gilirannya, sikap itu akan membuat seseorang bisa menjadi lebih bijaksana dalam memandang setiap permasalahan, karena segala hal dipertimbangkan. Dengan demikian, seseorang tidak akan dengan mudah berpihak kepada suatu kebenaran, terutama kebenaran yang selalu menegasikan potensi kebenaran yang lain, dimana kebenaran yang lain tersebut mungkin saja seharusnya mampu diposisikan sebagai sesama kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan atau bahkan dilemahkan. Dengan kata lain, dalam hal ini, posmodern dapat menjadi jawaban atas permasalahan kebijaksanaan dan keadilan.

Paradigma posmodernisme di atas bagi sebagian orang, termasuk karakter Phileas Fogg, mungkin bisa begitu saja muncul akibat dari rasa percaya diri yang kuat dan kesadaran hati nurani. Akan tetapi, bagi kebanyakan orang, paradigma tersebut tidak bisa muncul begitu saja karena kuatnya pengaruh dari pemikiran mainstream. Oleh karena itu diperlukan adanya pendidikan atau pembelajaran mengenai posmodernisme yang akan memberikan gambaran tentang pemikiran yang melampaui batas-batas modernisme tersebut.

Implikasi Logis

Sebagai sebuah epistemologi, posmodern tentunya memiliki implikasi-implikasi logis, baik itu implikasi positif maupun implikasi negatif. Dari semua implikasi tersebut, yang patut dicatat di sini adalah bahwa sebagai sebuah rasionalitas yang mengkritik modernisme, posmodern telah membuka jalan bagi jawaban atas persoalan-persoalan yang muncul pada kehidupan yang berada di bawah modernisme. Dengan kata lain, sekaligus sebagai implikasi positifnya secara umum, posmodern menawarkan jawaban-jawaban atas permasalahan akibat proyek modernisme yang cenderung totaliter. Hal ini jugalah, menurut saya, yang menjadi alasan mengapa posmodern perlu dan layak untuk dipelajari dan diketahui.

Sudah menjadi sifat dasarnya, manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Manusia selalu berusaha untuk mengembangkan potensi dirinya dan berbuat untuk sesuatu yang lebih baik dalam rangka mendukung kehidupannya di dunia. Rasionalitas membuat manusia akan selalu bertanya mengenai segala sesuatu yang menimbulkan pertanyaan sampai ia menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Tidak bisa dipungkiri, apa yang dicari manusia sebenarnya merupakan sebuah bentuk kemapanan, yang dalam hal ini berupa jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Akan tetpai, ketika sebuah kemapanan dicapai, kembali lagi, rasionalitas dan sifat dasar manusia melihatnya sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya memuaskan. Kemapanan hanyalah sebuah pemberhentian sementara dari kehausan intelektualitas manusia. Hal ini terjadi pada modernitas yang menawarkan sebuah situasi yang sarat akan kemapanan. Ketika kemapanan itu mencapai pada sebuah titik jenuh tertentu, muncul posmodernisme yang menawarkan keleluasaan dan kesempatan bagi kehausan intelektualitas serta rasionalitas manusia. Posmodernisme kembali mempertanyakan hal-hal yang dianggap sudah selesai oleh modernisme, atau bahkan mencoba menyelesaikan hal-hal yang tidak dapat diselesaikan oleh rasionalitas modern.

Pemikiran-pemikiran posmodern yang selalu skeptis terhadap narasi-narasi besar memunculkan kecenderungan untuk melihat narasi-narasi kecil. Sebuah kebenaran tidak lagi ditentukan oleh legitimasi sebuah narasi besar, namun lebih ditentukan oleh bagaimanakah narasi-narasi kecil menyusun kebenaran tersebut. Kebenaran pengetahuan tidak lagi tidak lagi bersifat homology (kesatuan), melainkan paralogy (keragaman). Hal in meyebabkan posmodern selalu menuntut untuk diadakannya pengkajian atau pembacaan ulang terhadap terminologi yang selama ini digunakan. Pengkajian ulang ini kemudian menggeser berbagai otoritas yang pernah secara hegemonik membelenggu ‘peluang’ pilihan pengetahuan manusia. Pada titik ini ada suatu asumsi yang menarik bahwa masyarakat modern dihadapkan pada tawaran (alternatif) akan kebenaran yang diakuinya sebagai pilihan (Santoso 321).

Keadaan di atas tentunya sesuai dengan semangat dasar untuk mengakui adanya pluralitas dalam masyarakat. Situasi homogen dengan satu parameter kebenaran pengetahuan sesungguhnya ‘mereduksi’ makna pluralitas dan kontraproduktif dengan keragaman pengetahuan manusia. Dari sinilah muncul pemahaman atas relativitas kebenaran, dimana kebenaran tidak lagi ‘terlahir’ dari satu rahim, melainkan bisa dimunculkan dari banyak rahim. Modernitas, dengan indikator kebenaran sains melalui rasionalitasnya, dalam kenyataannya, memunculkan situasi chaos yang justru mengarah pada situasi yang irasional (Santoso 321-2).

Posmodernisme membawa manusia kepada situasi dimana perbedaan-perbedaan justru menjadi sebuah fenomena yang diangkat dan dibahas dengan ramai. Dalam perspektif posmodern, perbedaan bukan lagi menjadi sesuatu yang harus diberangus, melainkan harus didialogkan. Situasi posmodern ini mendorong kajian-kajian keilmuan dan paradigma pemikiran lainnya yang bersifat menolak totalitas menjadi lebih berkembang. Tidaklah mengherankan jika pada akhirnya paradigma-paradigma seperti multikulturalisme, pluralisme, dan kosmopolitanisme menjadi sesuatu yang sangat dijunjung pada era posmodern. Hal ini tentu saja tidak semata karena ingin terus menyulut semangat posmodernisme, namun lebih kepada bukti bahwa betapa posmodernisme telah berhasil menarik perhatian masyarakat dan menempatkan dirinya ke posisi sebagai ‘pejuang’ dan ‘pelindung’ keadilan serta hak azasi manusia. Posmodern menjamin bahwa yang kecil dan minoritas tidaklah harus tersingkir dan tertindas, melainkan memberikan ruang yang terbuka bagi si kecil dan si minoritas untuk memperjuangkan haknya untuk hidup.

Kebenaran rasionalitas sains yang dijunjung tinggi oleh modernitas telah dibongkar oleh posmodern. Posmodern menunjukkan bahwa kebenaran tidak hanya bisa dimonopoli oleh empirisme sains, namun juga bisa ditentukan oleh hal lain yang terkadang tidak bisa diketahui dengan jelas ukurannya. Mungkin benar bahwa rasionalitas sains bisa menjawab tuntutan manusia akan segala kemudahan dan kepraktisan dalam hidup, namun sains pastinya tidak akan bisa menyelesaikan persoalan keadilan yang tidak akan pernah bisa diukur dengan teknologi alat ukur apapun. Akan menjadi sangat irasional jika menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan keadilan dan perikemanusiaan dengan menggunakan hitung-hitungan komputer. Saat inilah, rasionalitas lain yang lebih ‘manusiawi’, misalnya humaniora, mengambil alih. Dengan demikian, posmodern memberikan ruang yang luas dan peluang penghargaan terhadap ilmu-ilmu tentang budaya dan manusia  yang bersifat non-sains.

Akan tetapi, di sisi lain dan terlepas dari hal di atas, posmodern sebenarnya juga menciptakan peluang untuk terjadinya situasi chaos yang lain. Di dalam sebuah dunia yang posmodern, dimana minoritas diakui keberadaannya dengan dilandasi semangat untuk tidak saling memberangus, semua memiliki kesempatan yang sama untuk berteriak menyuarakan suaranya. Suara minoritas dan suara mayoritas, dalam cita-cita posmodern, memiliki hak yang sama untuk terus eksis dan bertahan. Usaha untuk bertahan itu bisa saja membuat yang minoritas menjadi semakin kuat dan menjadi mayoritas, sedangkan yang mayoritas bisa saja menjadi yang minoritas. Di sisi lain, semangat posmodern bisa saja tiba-tiba terlupakan ketika si minoritas yang kini jadi mayoritas mencapai sebuah status quo. Keinginan untuk mempertahankan status quo tersebut bisa jadi malah membuat kelompok tersebut menciderai semangat posmodernisme, sehingga terjadi pemberangusan terhadap minoritas yang lain. Hal seperti ini mungkin saja bisa terjadi karena tidak semua orang memiliki motivasi yang sama dari awal hingga akhir. Kecenderungan motivasi bisa saja berubah seiring berjalannya waktu dan godaan kemapanan yang begitu kuat. Oleh karena itu, harus ada sikap antisipatif dalam menyikapi hal ini.

Hubungan Posmodernisme dengan Televisi dan Film

Tidak bisa dipungkiri, televisi dan film saat ini merupakan dua media yang sangat digemari oleh masyarakat. Televisi dan film telah menjadi dua buah sarana hiburan yang sangat efektif, murah, sekaligus instan. Kubey dan Csikszentmihalyi (dalam Storey 9) mencatat, setidaknya saat ini masyarakat seluruh dunia telah mencapai 3,5 milyar jam yang digunakan untuk menonton televisi. Ini membuat acara menonton televisi menjadi sebuah kegiatan yang paling populer dilakukan saat waktu senggang. Film sendiri juga telah menjadi sebuah hiburan yang selalu ditunggu-tunggu oleh jutaan penggemarnya. Sehingga tidaklah mengherankan apabila muncul protes manakala ada sebuah perusahaan pengekspor film yang menghentikan pasokan film Hollywood ke Indonesia karena disebabkan oleh ketentuan pajak baru pemerintah yang mereka nilai tidak rasional.

Televisi dan film, pada kenyataannya, telah berkembang menjadi dua buah media yang sangat besar perannya tidak hanya dalam menjadi sarana hiburan, tetapi juga sebagai media penyebar budaya populer. Jangkauan televisi yang begitu luas berdampak pada cepatnya arus informasi yang bisa diakses oleh masyarakat, yang pada akhirnya mempercepat pula penyebaran suatu budaya populer. Tak sedikit anak-anak muda yang menjadi Beliebers, fans berat Justin Bieber, karena menyaksikan bagaimana memukaunya penampilan sang artis bagi mereka melalui tayangan televisi. Di lain pihak, sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak anak muda yang melihat budaya populer Amerika Serikat sebagai sebuah panutan dalam kehidupan sehari-hari sebagai efek dari melihat film-film yang diproduksi oleh Hollywood.

Dalam kaitannya dengan posmodernisme, televisi dan film telah menjadi sebuah media yang sangat besar pula perannya dalam membawa semangat posmodernitas menyebar ke seluruh dunia. Di lain pihak, seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, paradigma-paradigma posmodernisme sebenarnya juga telah mempengaruhi perkembangan kedua media ini di saat yang bersamaan.

Sebagaimana yang telah saya singgung di atas, proyek posmodernitas telah memicu bertambahnya perhatian terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan manusia dan kebudyaan. Hal ini menyebabkan pula bergesernya trend tema yang diangkat dalam media massa dan film. Saat ini perhatian masyarakat lebih tertarik kepada issu-issu kemanusiaan, dan hanya sebagian kecil orang yang melihat perkembangan teknologi sebagai perhatian utama. Yang lebih menarik lagi, perkembangan teknologi ini malah digunakan sebagai sarana untuk lebih memberikan perhatian terhadap issu-issu tersebut.

Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu televisi di Indonesia menayangkan bagaimanakah perjuangan seorang perempuan yang harus menjalani proses hukum akibat dari tuntutan sebuah rumah sakit yang tidak terima atas curahan hati wanita tersebut kepada teman-temannya karena merasa kurang puas terhadap pelayanan rumah sakit tersebut. Perempuan tersebut dituntut membayar uang ganti rugi kepada rumah sakit sebanyak 1 milyarkarena telah dianggap mencemarkan nama baik rumah sakit tersebut.

Para pemirsa televisi yang menyaksikan kejadian ini melihat bahwa telah terjadi sebuah ketidakadilan dan usaha pembelengguan kebebasan berbicara dan berpendapat. Tidak sedikit pula yang melihat kejadian tersebut sebagai sebuah tindakan arogan dari pihak rumah sakit yang hanya berorientasi pada keuntungan sepihak, karena sebenarnya tidak ada kerugian yang nyata yang diderita rumah sakit tersebut. Yang lain melihatnya sebagai sebuah aksi nyata bagaimana hukum tidak bisa bertindak dengan adil, sesuai hati nurani, dalam menghadapai permasalahan yang melibatkan seorang perempuan dari keluarga sederhana dengan rumah sakit yang memiliki aset milyaran rupiah. Sebuah aksi pun akhirnya digalang oleh para pemirsa televisi ini melalui facebook, yang notabene adalah sebuah produk teknologi informasi. Tak disangka, dukungan kepada perempuan itu mengalir deras melalui dunia maya. Banyak orang yang mengecam tindakan arogan rumah sakit dan ketidakadilan persidangan. Ada juga yang memprakarsai aksi berupa pengumpulan koin yang nantinya akan digunakan untuk membayar tuntutan denda tersebut. Televisi yang terus menyiarkan perkembangan kasus itu membuat semakin banyak orang Indonesia yang mengetahui. Di luar dugaan, dukungan terhadap perempuan itu terus mengalir dari berbagai lapisan masyarakat di seantero Indonesia. Banyak daerah yang mendirikan posko pengumpulan koin kepedulian tersebut. Koin yang terkumpul pun mencapai nilai yang fantastis. Pada akhirnya, melihat respon masyarakat yang begitu luar biasa dan massif, pihak rumah sakit memutuskan untuk mencabut semua tuntutan, dan perempuan itu terbebas dari semua tuduhan.

Contoh di atas telah membuktikan bagaimana peran televisi yang mendorong kristalisasi semangat posmodernisme di kalangan masyarakat Indonesia baru-baru ini. Di lain pihak, televisi mengetahui bahwa masyarakat saat ini tengah tertarik dengan perjuangan semangat posmodernisme, sehingga tema-tema yang diangkat pun selalu yang bersifat humaniora dan perjuangan melawan ketidakadilan. Hal ini bisa dibuktikan dari maraknya acara yang menonjolkan kemiskinan, ketidakadilan hukum, perlakuan diskriminatif pemerintah, dsb.

Di dunia film, khususnya film Hollywood, posmodern juga bisa dirasakan sangat besar pengaruhnya. Munculnya paradigma posmodernisme telah mengubah cara pandang para penonton terhadap kualitas suatu film. Bak gayung bersambut, paradigma ini juga mengubah cara pandang para sineas dalam menciptakan sebuah film baru dengan standar cerita yang baru pula. Film-film tidak lagi hanya bercerita tentang bagaimanakah keseruan sebuah perkelahian antara sang jagoan dan si musuh utama, namun juga bercerita bagaimana sebenarnya sisi kemanusiaan dari dua orang tersebut. Film-film posmodern tidak hanya menunjukkan bagaimana seorang jagoan tiba-tiba menjadi jagoan, dan seorang penjahat tiba-tiba menjadi jahat, namun juga menggambarkan dengan komprehensif bagaimanakah latar belakang kehidupan manusiawi kedua karakter tersebut yang pada akhirnya memicu mereka untuk menjadi baik atau menjadi jahat. Dalam perspektif film ini, tidak semua penjahat adalah setan yang sangat jahat, dan tidak semua jagoan adalah malaikat yang sempurna dan tidak pernah melakukan kesalahan. Semua tema film diangkat dengan merujuk pada kenyataan kemanusiaan manusia pada umumnya.

Sebagai contohnya adalah film trilogi Spider-Man yang prekuelnya mulai ditayangkan pada tahun 2002. Sebelumnya, film Spider-Man selalu disajikan dalam bentuk serial televisi baik itu animasi atau kartun, maupun yang tidak. Pada film Spider-Man versi serial, sang tokoh utama, Peter Parker, selalu digambarkan sebagai seorang yang baik, pahlawan super yang selalu bersembunyi di balik identitas sebagai seorang wartawan dan mahasiswa. Serial-serial Spider-Man ini selalu menonjolkan bagaimanakah kebaikan melawan kejahatan melalui adu jotos dan kecerdikan. Pihak yang jahat selalu digambarkan terobsesi dengan kejahatannya, sedang sang manusia laba-laba selalu digambarkan dengan segala kebosanan dan anecdote yang terjadi selama ia menjadi ‘manusia biasa’. Ketika menjadi superhero, ia akan berubah menjadi sosok yang melakukan segalanya dengan kekuatannya demi kebaikan.

Black SpidermanBerbeda dengan film-film serial tersebut, film Spider-Man versi layar lebar tahun 2002 lebih mengedepankan bagaimanakah perasaan dan emosi masing-masing karakter. Film ini tidak hanya menampilkan special effects adegan perkelahian, yang menurut saya pada waktu itu, sangat mengagumkan, namun juga memperlihatkan bagaimanakah setiap karakter merasakan emosinya sendiri ketika menghadapi permasalahan. Penonton seakan diajak untuk menyelami perasaan Peter Parker ketika membiarkan seorang penjahat kabur hanya karena ia merasa jengkel terhadap manajemen tempat pertarungan dimana ia berusaha mendapatkan uang untuk membeli mobil sebagai alat mencari perhatian perempuan yang disukainya, Mary Jane. Di saat yang lain penonton juga ditunjukkan betapa akhirnya Peter Parker sangat menyesal akan kematian pamannya yang malah dibunuh oleh penjahat yang telah dibiarkannya kabur itu. Suasana hati Peter Parker ketika mengingat pesan terakhir pamannya juga digambarkan dengan sangat mendalam, sehingga saya pun yakin tidak sedikit penonton yang mengingat adegan itu sebagai adegan yang paling menyentuh sepanjang film.

Di sekuel yang lain, yaitu Spider-Man 2 dan 3, penonton diajak untuk melihat bagaimanakah para penjahat, yaitu Dr. Oct dan The Sandman, memiliki emosi yang sama dengan manusia pada umumnya. Film ini menunjukkan bahwa seorang penjahat dalam cerita superhero tidak selalu terobsesi dengan kejahatannya dan bahkan ia melakukan kejahatan tersebut karena suatu alasan yang dalam perspektifnya sangat kuat. Seorang penjahat super awalnya bisa menjadi jahat karena ia terpaksa. Bagi Dr. Oct, misalnya, ia menjadi jahat karena ia merasa penelitiannya sudah tidak didukung lagi oleh Harry Osborn karena sebuah kegagalan demonstrasi. Ia merasa penelitian itu adalah hidupnya, sehingga ia bertekad untuk meneruskan proyeknya tersebut dengan cara apapun, termasuk merampok bank. Sedangkan bagi The Sandman alias Flint Marko, motivasinya menjadi penjahat adalah ketidakberdayaannya dalam mencari uang untuk berobat putrinya yang sedang sakit. Ia terpaksa merampok, dan untuk itu ia harus dipenjara. Kerinduannya dan rasa khawatirnya kepada putrinya mendorongnya untuk melarikan diri sampai akhirnya ia terperosok ke dalam sebuah wahana eksperimen pasir yang membuatnya menjadi The Sandman. Pada akhir film terungkap bahwa ia tak pernah berniat untuk melakukan tindak kejahatan jika karena tidak merasa terpaksa.

Film trilogi Spider-Man tersebut seakan membawa penontonnya kepada sensasi baru dalam menyaksikan sebuah film Superhero. Di satu sisi, penonton menginginkan sang jagoan selalu menang melawan orang-orang yang melakukan kejahatan, di sisi lain penonton sedikit dibingungkan oleh perasaan maklum terhadap alasan ‘keterpaksaan’ para penjahat itu dalam proses menjad ‘jahat’. Pada akhirnya sang manusia laba-laba memang selalu bisa melanjutkan kehidupannya dengan bahagia untuk sementara, namun dalam trilogi itu tidak ada kepastian absolut yang menunjukkan bahwa Spider-Man selalu menang melawan para ‘penjahat’. Yang ada adalah sikap ‘mengalah’ dari beberapa ‘penjahat’ ataupun pemakluman yang muncul pada diri sang superhero—dimana, tentu saja, ini tidak berlaku ketika Spider-Man melawan Green Goblin dalam prekuel film itu. Mungkin hal yang tersisa pada penonton setelah menyaksikan film ini adalah berbagai pertanyaan yang biasanya tidak muncul ketika menyaksikan film-film lain. Apapun itu, pada dasarnya film ini memberikan kebebasan kepada penontonnya untuk menyimpulkan: apakah akan menganggap sang superhero adalah satu-satunya panutan sempurna untuk dikagumi, ataukah malah merasa kasihan dengan para ‘penjahat’ itu.

Pascastrukturalisme dan Dekonstruksi

Pascastrukturalisme, atau pos-strukturalisme, dan dekonstruksi adalah paradigma pemikiran yang memiliki ciri dan membawa semangat posmodernisme. Pos-strukturalisme dan dekonstruksi mengkritik situasi kemapanan yang diusung oleh proyek modernitas, dalam hal ini adalah pemikiran strukturalisme.

Pos-strukturalisme pertama kali muncul di Prancis pada akhir tahun 1960an. Dua tokoh utama yang sering dikaitkan dengan pemunculan pemikiran ini adalah Jaques Derrida dan Roland Barthes. Roland Barthes awalnya sebenarnya adalah seorang strukturalis, namun pada perkembangannya, karya-karyanya cenderung menunjukkan ciri-ciri pos-strukturalis (Barry 65). Derrida, sebagai tokoh pos-strukturalisme mencoba menawarkan metode dekonstruksi untuk mengatasi problem modernitas (Santoso 257). Dekonstruksi sendiri merupakan sebutan untuk postrukturalisme milik Derrida yang mana merupakan versi postrukturalisme pertama yang mencapai Amerika Serikat (Bertens 93).

Jacques Derrida

Pos-strukturalisme merupakan penolakan simultan dan berkelanjutan terhadap strukturalisme—tidak hanya strukturalisme sastra, namun bahkan strukturalisme antropologi Lévi-Strauss. Pos-strukturalisme tidak dapat dipahami tanpa memahami strukturalisme. Hal ini karena pos-strukturalisme meneruskan perspektif strukturalisme yang anti-humanis dan mengikuti apa yang diyakini oleh strukturalisme, yaitu bahwa bahasa adalah kunci dari pemahaman kita terhadap diri kita sendiri dan dunia. Akan tetapi, meskipun meneruskan anti-humanisme strukturalis dan berfokus kepada bahasa, pos-strukturalisme secara terus-menerus ‘mengacau’ strukturalisme dengan benar-benar mempertanyakan—melakukan dekonstruksi—beberapa asumsi utama dari strukturalisme dan metode-metode yang diambil dari asumsi-asumsi tersebut (Bertens 93).

Menurut Terry Eagleton (192), strukturalisme umumnya puas jika ia dapat mebagi-bagi teks menjadi oposisi biner—tinggi/rendah, terang/gelap, Alam/Budaya, dan sebagainya—dan menyingkap logika cara kerjanya. Pos-strukturalisme mencoba menunjukkan bagaimana oposisi demikian, agar dapat tetap di tempatnya, terkadang malah membalik atau meruntuhkan dirinya sendiri, atau perlu membuang ke pinggiran teks detail-detail tertentu yang mengusik, yang dapat dibuat kembali dan menyusahkannya.

Pos-strukturalisme membedah sebuah teks dengan mengunakan metode dekonstruksi. Metode dekonstruksi ini ditujukan untuk membongkar sifat totaliter dari sistem, terutama yang tercermin dalam bahasanya (Santoso 257). Metode dekonstruksi ini bisa disebut juga sebagai pos-strukturalisme ‘terapan’, yang mana merujuk pada cara membaca yang sebuah teks dengan melawan teks itu sendiri—reading the text against itself. Sebuah cara untuk menjelaskan hal ini adalah dengan mengatakan bahwa membaca dekonstruktif bertujuan untuk membuka dimensi yang tak sadar dari teks daripada dimensi yang sadar (Barry 70-1).

Lebih jauh mengenai pembacaan dekonstruktif, J. A. Cuddon (dalam Barry 72) mengatakan bahwa sebuah teks dapat dibaca dan dianggap mengatakan sesuatu jika sangat berbeda dengan apa yang tampaknya dikatakan. Teks tersebut seakan membawa makna signifikansi yang plural atau mengatakan hal-hal yang berbeda dari makna tunggal yang stabil. Jadi, dekonstruksionis melakukan apa yang disebut sebagai pembacaan oposisional, yaitu pembacaan yang bertujuan untuk menguak kontradiksi dan inkonsistensi internal di dalam teks, dengan maksud untuk menunjukkan ketidakbersatuan atau perpecahan (disunity) yang sebenarnya mendasari kesatuan yang nampak pada teks tersebut. Dalam rangka mencapai tujuannya, proses dekonstruksi akan sering memilih dan memusatkan perhatian pada sebuah detil dari teks yang kelihatan insidental—adanya metapora tertentu, misalnya—lalu kemudian menggunakannya sebagai kunci dari keseluruhan teks, sehingga semua hal dibaca melaluinya (Barry 72).

Ketika berbicara mengenai strukturalisme, kita membahas bagaimana para strukturalis mencari, di dalam teks, fitur-fitur seperti paralel, echo, refleksi, dan seterusnya. Efek dari melakukan hal ini adalah seringkali untuk menunjukkan kesatuan tujuan yang ada di dalam teks, seolah-olah teks tersebut mengetahui apa yang ingin ia lakukan dan telah mengarahkan segalanya ke arah tujuan ini. Sebaliknya, para dekonstruksionis bertujuan untuk menunjukkan bahwa teks sedang bertempur dengan dirinya sendiri: bagaikan sebuah rumah yang dibagi dan timbul perpecahan. Para dekonstruksionis mencari bukti kesenjangan, pecahan, celah, dan diskontinuitas dari segala hal (Barry 72). Apa yang dicari kemudian oleh pos-strukturalis adalah penemuan ketidakharmonisan dalam suatu teks. Oleh karena itu, para praktisi pos-strukturalisme akan mencari kontradiksi, paradoks, konflik, aporia, dan seterusnya (lih. Barry 72-3) dalam sebuah teks. Bisa dikatakan bahwa siasat dari kritik dekonstruksi adalah menunjukkan bagaimana teks akan mempermalukan logikanya sendiri; dan dekonstruksi menunjukkan hal ini dengan menempel pada poin-poin ‘gejala’, aporia atau impasnya makna, dimana teks mengalami kesulitan, melepaskan diri, menawarkan untuk mengontradiksi dirinya sendiri (Eagleton 193).

Dalam membedah teks, seorang praktisi pos-strukturalisme akan berusaha untuk mencari ‘textual subsconscious’, dimana makna yang ingin diungkapkan oleh teks mungkin saja secara langsung berbeda dari makna yang tertangkap di permukaan. Untuk melakukan hal ini, ia akan memfokuskan perhatian fitur-fitur permukaan pada kata-kata—kesamaan suara, akar makna-makna kata, sebuah metafora yang ‘mati’ dan membawanya ke permukaan, sehingga mereka menjadi penting untuk makna secara keseluruhan. Seorang pos-strukturalis juga akan berusaha menunjukkan bahwa teks ditandai dengan perpecahan daripada persatuan, serta berkonsentrasi pada satu bagian dan menganalisanya dengan sangat intensif sehingga tidak mungkin untuk mempertahankan sebuah pembacaan ‘univocal’ dan bahasa meledak menjadi ‘makna yang beragam’. Pos-strukturalis selanjutnya akan mencari perubahan dan perpecahan dari berbagai macam hal pada teks dan melihatnya sebagai bukti bahwa ada yang direpresi atau disembunyikan atau dilupakan diam-diam oleh teks. Diskontinuitas ini jading disebut sebagai ‘fault-lines’ (kesalahan baris), sebuah metafora geologi yang mengacu pada patahan pada formasi bebatuan yang memberikan bukti atas gerakan atau aktivitas sebelumnya (Barry 73). Kebiasaan tipikal Derrida sendiri dalam membaca adalah menangkap sebuah fragmen yang sepertinya berada di pinggir karya—catatan kaki, istilah, atau citra minor yang sering muncul, acuan yang kasual—dan mengerjekannya dengan rajin hingga fragmen tersebut mengancam akan mencerai-beraikan oposisi yang mengatur teks secara keseluruhan (Eagleton 192-3).

Di dalam kerangka pos-strukturalisme, sebuah teks bisa terdekonstruksi dengan, salah satunya, mengangkat munculnya konflik dalam menginterpretasikan teks tersebut. Munculnya konflik dalam interpretasi dapat mengakibatkan munculnya pamahaman yang lain yang menandakan ketidakstabilan bahasa. Atau, dengan mengangkat pemahaman lain yang membuat teks tersebut pada akhirnya tidak bisa menjawab pertanyaan yang awalnya seperti bisa dijawabnya (Tyson 265).

Cara lain yang bisa digunakan adalah mempertanyakan ideologi apa yang tampaknya ingin diangkat oleh teks tersebut. Dengan menggunakan oposisi biner dan bukti-bukti yang saling bertolak belakang—paradoks, kontradiksi, dst.—yang membangun tema utama teks tersebut, dekonstruksi menunjukkan betapa ideologi yang diangkat dalam teks tersebut sebenarnya terbatasi (Tyson 265).

Metode pendekonstruksian teks seperti di atas dapat memperkaya pembacaan kita terhadap teks tersebut, sehingga dapat membantu kita melihat beberapa ide penting yang diilustrasikan di dalam teks itu yang mana tidak bisa kita baca dengan jelas dan mendalam ketika mengaplikasikan cara membaca yang seperti biasanya, tidak menggunakan metode dekonstruksi. Selain itu, metode dekonstruksi dapat membantu kita dalam melihat betapa bahasa dapat membutakan kita terhadap ideologi yang terdapat di dalamnya (Tyson 266).

Dekonstruksi menolak konsep-kosep totalitas dan esensi, sehingga menghasilkan kebenaran yang plural, unik, dan relatif. Akan tetapi, metode pendekonstruksian di atas pada akhirnya justru dikhawatirkan akan menjebak pembaca dalam ambiguitas dan mengarah pada nihilisme. Sifat paradoks, kontradiksi, inkonsistensi, ambivalensi, dilematik, dan tidak pasti pemikiran Derrida inilah yang dikhawatirkan akan menggiring pembaca menuju situasi yang serba tidak pasti dan ambigu. (Santoso 256-7).

Simpulan

Tidak terpungkiri, modernitas telah membawa manusia ke tingkat dimana teknologi mengalami kemajuan yang sangat pesat, lebih dari masa-masa sebelumnya. Di saat yang bersamaan, rasionalitas manusia, sebagai ‘mesin’ utama penghasil teknologi, sangat dijunjung tinggi. Kecenderungan ini pada perkembangannya menyebabkan munculnya konsep-konsep totalitas dan status quo yang menjadi ciri khas modernisme.

Di tengah-tengah hegemoni konsep-konsep modernisme tersebut muncullah pemikiran-pemikiran posmodern yang membawa kritik serta evaluasi tajam terhadap perjalanan proyek modernitas yang dinilai gagal menjalankan cita-citanya. Posmodernisme melihat bahwa modernitas yang pro hegemoni dan status quo malah menyebabkan bentuk kesengsaraan yang lain, terutama bagi kelompok-kelompok dan narasi-narasi yang termarjinalkan. Oleh karena itu, dengan menolak metanarasi, posmodernisme mencoba membuktikan bahwa kebenaran pengetahuan tidak selayaknya menjadi sebuah monopoli. Ada sisi kebenaran-kebenaran pengetahuan lain yang juga benar, yang selama ini terpinggirkan oleh narasi besar tersebut. Dengan ini posmodernisme bercita-cita akan hadirnya sebuah keadilan dan harmonisasi di tengah-tengah perbedaan. Inilah, pula yang membuat posmodernisme layak dan (sepertinya) wajib untuk dipelajari.

Paradigma pemikiran posmodern tampaknya kemudian menjadi disukai oleh masyarakat. Dengan membawa semangat keadilan dan perayaan perbedaan, posmodern terbukti banyak mempengaruhi pemikiran masyarakat masa ini, termasuk juga pada bisnis film dan televisi. Hal ini berakibat pada munculnya perubahan-perubahan tren yang kembali memunculkan isu-isu yang berkaitan dengan humaniora yang selama ini terpinggirkan. Televisi dan film semakin banyak yang mengambil tema-tema tersebut, yang justru membawa nuansa baru dalam dunia hiburan di seluruh dunia.

Di bidang bahasa dan sastra, pemikiran posmodernisme ditandai dengan munculnya gugatan atas strukturalisme yang telah menjadi ikon proyek modernisme. Bentuk gugatan ini dalah munculnya pemikiran pascastrukturalisme dengan metode dekonstruksinya. Pascastrukturalisme menolak anggapan strukturalisme yang mengatakan bahwa teks memiliki kesatuan. Sebaliknya, pascastrukturalisme menunjukkan bahwa sebenarnya teks dan bahasa merupakan sesuatu yang tidak pernah stabil. Hal ini tentu saja membawa cara pemahaman yang baru atas sebuah teks dan bahasa.


Daftar Pustaka

Barry, Peter. Beginning Theory. Manchester: Manchester University Press, 2002.

Bertens, Hans. Litherary Theory: The Basics. Edisi Kedua. New York: Routledge, 2008.

Eagleton, Terry. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif. Terj. Harfiah Widyawati dan Evi Styarini. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

Rivkin, Julie dan Michael Ryan. Literary Theory: An Athology. Edisi Kedua. Victoria: Blackwell Publishing, Ltd., 2004.

Santoso, Listiyono, dkk. Seri Pemikiran Tokoh: Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.

Selden, Raman, dkk. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Edisi Kelima. Edinburg: Pearson Education, Ltd., 2005.

Storey, John. Cultural Studies and The Study of Popular Culture: Theories and Methods. Edinburgh: Edinburgh University Press, 1996.

Tyson, Lois. Critical Theory Today: A User-friendly Guide. Edisi Kedua. New York: Routledge, 2006.

 
 

Tags: ,

Food, Fashion, dan Fun: Dampak serta Usaha Pemberdayaan Produk Budaya Lokal


Ide tentang globalisasi yang mengusung semangat penyatuan umat manusia di dunia melalui teknologi dan ekonomi mungkin adalah sebuah ide yang menarik dan bagus. Dalam semangat globalisasi, perbedaan-perbedaan mulai menjadi hal yang tidak penting lagi. Semua umat manusia melihat manusia dari ras dan bangsa lain sebagai rekan yang saling menguntungkan dalam pergaulan internasional. Pergaulan-pergaulan manusia yang terjadi tidak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu, melainkan dengan kemajuan teknologi, pergaulan manusia seakan tanpa batas dan pembentukan relasi individu antarbangsa dan antarnegara bukanlah hal sulit dilakukan. Hal ini salah satunya disebabkan oleh perubahan cara berkomunikasi dan perkembangan teknologi yang mendukungnya yang memungkinkan arus informasi mengalir dengan bebas dan sangat cepat.

Akan tetapi, di sisi lain, globalisasi ini tampaknya mempunyai dampak negatif yaitu terjadinya kecenderungan homogenisasi budaya. Globalisasi memicu terjadinya interaksi antara dua budaya yang sangat berlainan karakternya. Sudah menjadi hukum alam, jika dua hal yang berbeda bersinggungan, berinteraksi, maka tidak akan pernah ditemui sebuah titik kesetimbangan mutlak. Secara langsung maupun tidak, pasti ada kecenderungan dominasi satu sama lain. Hal ini nampaknya juga terjadi pada interaksi budaya tersebut. Budaya tertentu tiba-tiba saja mendominasi budaya yang lain. Budaya yang mendominasi tersebut pada akhirnya menjadi budaya yang dilegitimasi sebagai budaya yang benar dan identik dengan kekinian. Sedang budaya yang didominasi menjadi sesuatu “yang lain” (the other) yang dianggap memiliki posisi subordinat dan merepresentasikan kekunoan. Karena adanya satu budaya dominan yang dianggap benar dan merepresentasikan kekinian (up to date), maka segala macam produk budaya tersebut akan secara pelan-pelan mendominasi produk-produk budaya yang subordinat. Salah satu yang bisa dijadikan contoh dari peristiwa ini adalah munculnya fenomena gelombang F3 (Food, Fashion, Fun) atau makanan, fesyen, dan hiburan.

Gelombang F3

Gelombang F3 saat ini benar-benar menjadi sesuatu yang fenomenal. Di sana-sini bertebaran berbagai macam produk makanan, fesyen, dan hiburan dengan label internasional. Produk-produk ini banyak sekali disukai karena dianggap identik dengan sesuatu yang bersifat kekinian dan memiliki prestise yang tinggi. Tak pelak, hadirnya produk-produk ini membuat banyak sekali produk lokal—yang seringkali dianggap berkualitas buruk dan kelas dua—menjadi terpinggirkan. Hal ini tampaknya menjadi sebuah permasalahan di negara-negara berkembang—yang jika menggunakan terminologi negara paman Sam disebut sebagai negara-negara dunia kedua dan ketiga.

Munculnya gelombang F3 sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh kuatnya pengaruh budaya negara-negara maju seperti Amerika, Prancis, dan lainnya, namun lebih disebabkan oleh pengaruh teknologi komunikasi dan informasi (TIK), serta budaya konsumerisme yang mulai mengakar pada setiap orang. Teknologi informasi dan komunikasi memainkan peranan yang sangat penting terhadap tersebarnya gelombang F3 ini, terutama melalui berkembangan jaringan komunikasi dan inovasi di bidang periklanan. Jika pada jaman dahulu orang-orang hanya berkomunikasi melalui telepon kabel dan melihat iklan melalui media cetak serta baliho, maka dengan perkembangan TIK yang terjadi saat ini, orang-orang berubah cara komunikasinya yaitu melalui melalui telepon genggam dan jaringan internet, serta bisa melihat iklan langsung dari telepon genggam atau komputer pribadinya. Perkembangan ini tentunya sangat menguntungkan bagi para produsen produk-produk tersebut. Saat ini mereka bisa menjangkau para konsumen potensialnya bahkan dengan cara yang sangat pribadi. Hal itu membuat tingkat efektivitas iklan semakin meningkat dan diharapkan mampu meningkatkan daya jual produknya. Mark Paterson dalam bukunya yang berjudul Consumption and Everyday Life (37) mengatakan:

Advertising has been described as the poetry of capitalism. If advertising constructs products in the minds of consumers, it requires the complicity of the mass media. It subsequently becomes translated into consumer choices at the level of everyday life.

Iklan telah diartikan sebagai puisi dari kapitalisme. Jika iklan menciptakan produk-produk di benak para konsumen, ia memerlukan keterlibatan media massa. Hal ini kemudian diterjemahkan ke dalam pilihan konsumen pada tingkatan kehidupan sehari-hari.

Apa yang kemudian menjadi sorotan Paterson adalah bahwa melalui iklan-iklan tersebut ternyata identitas-identitas budaya tertentu terbentuk. Sebagai contoh, dalam iklan parfum Hugo selalu ditampilkan sosok pria yang berbadan atletis dan berdandan necis ala eksekutif. Hal ini seakan mengisyaratkan bahwa produk parfum tersebut ditujukan untuk orang-orang “eksekutif” yang merupakan golongan tertentu dari masyarakat. Eksklusivitas dimunculkan dalam iklan tersebut yang pada akhirnya menyebabkan munculnya identitas tertentu terkait produk itu.

Ekses dari hal di atas adalah munculnya pola konsumsi yang lebih bertujuan untuk mendapatkan posisi tertentu di masyarakat (positional consumption), yang mana dalam kasus di atas adalah keinginan untuk dianggap eksklusif. Dari pola konsumsi ini muncul apa yang disebut dengan false needs consumption atau konsumsi suatu barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Barang-barang yang dibeli menjadi bukanlah barang yang dibutuhkan, melainkan barang-barang yang diinginkan (Paterson 10-43). Pola konsumsi seperti ini adalah pola konsumsi yang berlebihan sehingga muncul sebuah budaya konsumerisme.

Tentu saja, budaya konsumerisme ini sangat memudah persebaran F3. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, produk-produk makanan, fesyen, dan hiburan tersebut merupakan produk-produk yang dianggap memiliki kualitas baik dan mewakili tren masa kini. Oleh karena itu, produk-produk tersebut telah menciptakan identitasnya sendiri sebagai produk yang melambangkan kekinian, up to date, dan gaul. Produk-produk tersebut seakan ingin mengatakan bahwa “jika ingin dianggap gaul, maka belilah aku”. Orang-orang yang sudah akrab dengan paradigma konsumerisme tentunya sangat mudah mencerna pesan ini untuk kemudian menterjemahkannya ke dalam tindakan membeli produk-produk tersebut.

Dengan berbagai keunggulan dan situasi yang mendukung persebaran F3 tersebut, tampaknya produk-produk itu akan terus menciptakan status quo dan tidak mungkin digoyahkan kedudukannya. Namun apakah benar demikian? Saya percaya tidak! Pasti ada hal yang bisa kita lakukan untuk memberdayakan produk-produk lokal kita agar bisa bersaing. Untuk menemukan solusi yang tepat, setidaknya kita harus berlapang dada dengan mau belajar dari apa yang telah produk-produk internasional itu lakukan hingga menjadi seperti saat ini.

Food

Dewasa ini marak sekali gerai-gerai makanan waralaba internasional yang dibangun dan didirikan di Indonesia. Tidak semua gerai yang didirikan tersebut merupakan label-label baru. Banyak dari gerai itu merupakan milik perusahaan waralaba makanan yang telah lama beroperasi di Indonesia yang sedang mengembangkan usahanya. Salah satunya adalah McDonald’s. Menurut seorang teman yang bekerja di McDonald’s, perusahaan waralaba yang baru saja berganti manajemen tersebut dalam lima tahun ke depan akan mendirikan setidak 40 gerai baru di seluruh Indonesia. Bisa dibayangkan, bagaimana bisnis ini menjamur dan menggurita di negara kita.

Berkembangnya restoran waralaba internasional memang sebuah ancaman bagi produk-produk makanan lokal. Produk makanan kita terancam semakin terpinggirkan dan semakin tidak populer di kalangan kita sendiri. Akan tetapi, menurut saya, di sisi lain hal ini adalah sebuah peluang yang sangat bagus bagi kita untuk belajar dari kesuksesan mereka dan membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang memiliki potensi keunggulan dalam hal inovasi bisnis restoran dan ragam makanan yang tidak hanya bisa berteriak-teriak, menangis dengan keras, manakala produk-produk lokalnya terpinggirkan oleh seleksi “alam”. Terkadang banyak pengusaha makanan lokal kita yang terlanjur silau dengan nama besar perusahaan-perusahaan tersebut sehingga terkesan ketakutan jika menghadapi ekspansi bisnis mereka. Seharusnya setiap orang yang berniat memajukan bisnis makanan lokal tahu bahwa sebelum sebesar sekarang perusahaan seperti McDonald’s tersebut hanyalah sebuah stand hamburger biasa dan belajar dari apa yang telah dilakukan oleh perusahaan tersebut sehingga menjadi seperti sekarang.

Sejarah perjuangan McDonald’s menuju kesuksesan dimulai ketika pada tahun 1937 Dick dan Mac McDonald membuka sebuah stand hamburger yang dinamai “The Airdrome” di bandara Monrovia, California. Bangunan stand kemudian dipindah, dibangun menjadi restoran dan namanya diganti menjadi McDonald’s pada tahun 1940. Pada tahun 1948, ketika bisnis hamburger mereka terhitung berhasil, dua bersaudara ini malah menutup stand-nya lalu membukanya kembali beberapa bulan kemudian dengan menerapkan konsep baru dalam menjual hamburger yang mereka namai sebagai “Speedee Service System”. Dengan mengimplementasikan cara baru dalam membuat burger, yaitu dengan menggunakan semacam “jalur perakitan” hamburger, konsep ini memungkinkan untuk menyingkat waktu pelayanan. Konsep ini pada perkembangannya menjadi prinsip sistem pelayanan pada restoran cepat saji modern. Pada tahun 1953 McDonald’s mulai menjadi restoran franchise. Tahun 1954-1955 adalah sebuah rentang waktu yang sangat penting bagi sejarah perkembangan restoran ini. Pada rentang waktu tersebut bisnis franchise McDonald’s diambil alih oleh Ray Kroc, yang kemudian memformulasikan sistem bisnis bagi restoran tersebut yang ia beri nama McDonald’s System, Inc. Sistem bisnis ini jugalah yang hingga saat ini kita kenal sebagai sistem yang dijalankan oleh McDonald’s (“History of McDonald’s”, http://en.wikipedia.org).

Kita bisa menarik beberapa pelajaran berharga dari sejarah perjuangan McDonald’s tersebut yang bisa kita jadikan batu pijakan dalam memberdayakan bisnis makanan khas nusatara. Yang pertama, McD bukan sebuah perusahaan yang tiba-tiba menjadi besar. Ada proses lama di belakang semua kesuksesan tersebut. Para pemilik McD tampak sekali menyadari bahwa jika mereka ingin meraih sesuatu yang lebih besar, mereka harus berani berkorban dan melakukan inovasi-inovasi terhadap bisnisnya. Contoh nyata dari hal ini adalah penerapan  Speede Service System dan McDonald’s System, Inc.

Lalu bagaimanakah di dalam negeri? Mungkinkah inovasi tersebut di lakukan? Saya yakin sangat mungkin dilakukan. Pada awalnya resep restoran McD adalah resep keluarga. Artinya resep ini adalah resep tradisional. Di lain pihak, kita sebenarnya sangat kaya dengan resep-resep makanan tradisional, termasuk di antaranya adalah masakan padang yang sangat bergam itu. Dari sejarahnya, konsep restoran McD memang restoran siap saji, hal ini mungkin terjadi karena para pemilik McD menyadari perkembangan masyarakat modern yang selalu menginginkan hal yang serba instan. Di pihak kita, restoran padang sendiri sebenarnya juga memakai konsep siap saji. Sampai titik ini, kita sebenarnya sudah menemukan beberapa persamaan antara McD dengan restoran padang yang mungkin saja jadi kekuatan potensial kita dalam membangkitkan kejayaan kuliner nusantara. Hal yang mungkin masih harus dipikirkan dan masih memerlukan ruang untuk inovasi adalah apakah tidak sebaiknya konsep restoran padang saat ini mulai dirubah, kalau perlu seratus persen mengadaptasi konsep yang telah dilakukan McD dan restoran-restoran cepat saji lainnya.

Fashion

Permasalahan terbesar yang berkaitan dengan invasi F3 di bidang fesyen, menurut saya, bukanlah pada terpinggirkannya produk-produk lokal kita karena pangsa pasar produk kita yang dikuasai oleh mereka. Permasalahan sebenarnya adalah mereka berhasil menguasai pasar, karena kita tidak memiliki karya fesyen dalam jumlah masif yang mampu menandingi kualitas desain label-label internasional tersebut.

Ada sebuah cerita yang cukup membanggakan. Konon kabarnya, seragam klub sepak bola terbesar Inggris, Manchester United, merupakan buatan Indonesia. Jika hal ini benar, saya mengharapkan semoga saja benar, maka sesungguhnya ini sudah menunjukkan pada kita bahwa kualitas bahan pakaian dan jahitan para penjahit kita tidaklah bisa dikatakan luar biasa. Namun sayang sekali, apa yang mereka buat itu hanyalah seragam sepak bola yang notabene tidak memerlukan desain rumit dengan nilai estetika yang tinggi. Kalaupun seandainya kita memiliki produk fesyen, jika dibandingkan dengan baju produksi label Zara, misalnya, maka kita pasti akan langsung kalah. Penyebabnya bukan pada kerapian jahitan atau jeleknya bahan yang digunakan, namun pada desain yang terkesan nanggung.

Sebagai negara yang kaya akan hasil alam, kita sebenarnya memiliki hampir semua jenis bahan baku kain. Namun kenyataannya, hingga saat ini ketika kita sudah memintal benang dan menjadikannya lembaran kain, kita bingung mau mengapakannya. Permasalahan terbesar kita adalah kurangnya desainer baju-baju fesyen yang memiliki kompetensi tingkat internasional. Kita memang memiliki beberapa desainer kondang dengan karya yang setidaknya go ASEAN, namun jumlah mereka tidaklah banyak. Kita masih membutuhkan napas-napas baru para desainer yang peka terhadap perkembangan fesyen internasional, sehingga mampu menghasilkan karya yang mampu mengangkat produk lokal ke tingkat internasional.

Usaha untuk mengenalkan produk budaya lokal bidang fesyen ke internasional sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para desainer kita. Semenjak batik ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, batik kini menjadi primadona bahan pakaian. Hingga bahkan seringkali ditemui perlombaan desain baju dengan bahan dasar batik. Banyak anak muda yang mengikuti perlombaan tersebut dengan hasil-hasil desain yang sangat bagus untuk ukuran lokal. Jika saja itu bisa lebih didalami dan dikembangkan, saya optimis desain batik tersebut mampu disandingkan dengan desain baju karya Armani. Namun sayang sekali, hingga saat ini pembinaan ke arah hal tersebut masih kurang. Ini terbukti dengan seandainya ada pameran batik di luar negeri, pesertanya biasanya didominasi oleh para desainer yang sudah punya nama. Porsi untuk para anak muda yang masih butuh banyak pengalaman bisanya lebih sedikit.

Sebenarnya batik sendiri merupakan potensi yang sangat besar bagi daya saing fesyen kita di tingkat internasional. Batik merupakan bahan fesyen yang sangat unik yang tidak dimiliki oleh negara lain. Seharusnya keunikan itu merupakan sebuah nilai plus yang sangat besar bagi fesyen kita. Namun sekali lagi sayang, bahkan di negarinya sendiri batik saat ini masih banyak dianggap sebagai pakaian formal yang jauh dari kesan tren sehari-hari.

Penyebabnya mungkin, selain kurangnya desain berkualitas, adalah selama ini produksi batik secara masif masih diserahkan kepada unit-unit usaha kecil dan menengah yang kurang mendapat pembinaan mengenai desain dan mode fesyen terbaru. Walhasil, produksi baju batik di satu sisi memang sangat banyak, namun di sisi lain tidak ada baju dengan kualitas fesyen internasional yang dihasilkan.

Saya berharap pemerintah melakukan sesuatu berkaitan dengan hal ini. Kenapa pemerintah? Karena batik merupakan milik bangsa Indonesia yang telah menjadi warisan dunia. Untuk itu tidak salah seandainya pemerintah turun tangan langsung untuk memajukan fesyen lokal agak di kenal di tingkat internasional. Dalam bayangan saya, pemerintah membentuk sebuah BUMN yang bertanggungjawab membuat label besar, atau setidaknya bekerja sama dengan laber besar internasional, dan melakukan riset yang mendalam mengenai tren-tren desain baju terkini. BUMN tersebut juga berkewajiban mengkoordinasi para pengusaha kecil dan menengah serta memberikan pembinaan juga pelatihan terhadap pengetahuan fesyen terbaru, sehingga referensi model baju yang akan mereka produksi selalu up to date. Terakhir, badan usaha pemerintah ini akan mengumpulkan semua hasil-hasil produksi terbaik dari unit-unit usaha kecil dan menengah tersebut untuk selanjutnya didistribusikan di bawah label besar yang telah dibuat atau label besar internasional hasil kerjasama di atas. Dengan ini, harapan batik bisa digunakan artis internasional dalam produksi Hollywood mungkin saja bisa terjadi.

Fun

Di bidang hiburan, kita sepatutnya bangga bahwa kita memiliki seniman musik yang berkualitas internasional. Ini bisa kita lihat dengan banyaknya band pop kita yang menorehkan prestasi di tingkat ASEAN dan Asia. Prestasi paduan suara dan penyanyi solo kita malah jauh lebih membanggakan. Elfa’s Choir asuhan almarhum Elfa Secoria selalu menjadi langganan medali emas setiap kejuaraan paduan suara dunia. Medali emas pada kejuaraan menyanyi solo juga pernah diraih oleh Gita Gutawa. Diva pop Indonesia, Krisdayanti, dikenal memulai debutnya sebagai penyanyi profesional setelah memenangkan ajang ASIA BAGUS! Yang lebih membanggakan, konon Harvey Malaiholo pernah memenangkan juara pertama kejuaraan menyanyi internasional di Korea setelah mengalahkan Celine Dion dari Amerika Serikat dan Bryan Adams dari Inggris. Dari semua prestasi musik tersebut, kenyataanya lagu-lagu band kita setiap hari selalu mendominasi playlist radio-radio di Malaysia. Dengan kata lain, dari segi musik, walaupun kita “diserang” oleh produk-produk musik negar lain, namun produk lokal kita masih bisa bertahan dan sedikit melakukan dominasi di negara tetangga.

Akan tetapi, pada bidang hiburan kita masih harus menghadapi “invasi” hal lain, salah satunya adalah game atau permainan elektronik. Bisnis game berkembang cukup pesat di Indonesia. Dari tahun ke tahun penggemar game terus bertambah. Mulai dari game dengan menggunakan konsol seperti Play Station, Nintendo Wii, Nintendo DS, PSP, sampai game online seperti Point Blank dan Farmville di Facebook. Game-game tersebut memberikan kemudahan bagi kita untuk mendapatkan kesenangan (fun) dengan cara yang tidak terlalu rumit. Terlebih lagi, gam-game tersebut juga bisa membawa kita menuju dunia-dunia hyper-real, dunia yang sesuai dengan impian kita. Kita bisa menjadi seorang polisi yang mengejar penjahat, menjadi seorang superhero, menjadi seorang pemain sepak bola profesional, bahkan bisa menjadi penjahat dalam game tersebut.

Game-game tersebut tentunya mulai menggeser peran permainan tradisional anak-anak. Dan jika hal ini terus dibiarkan, maka lambat namun pasti kita bisa kehilangan permainan-permainan tradisional kita beserta nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Sekarang saja, gejala tersebut sudah mulai muncul. Saya tidak yakin semua anak yang bersekolah di wilayah perkotaan saat ini akan bisa menjelaskan apa dan bagaiman permainan jamuran itu.

Untungnya, sebuah langkah awal usaha melestarikan permainan-permainan tradisional tersebut telah dilakukan oleh komunitas Hong yang berada di Bandung, Jawa Barat. Komunitas ini mencoba menggali kembali permainan-permainan tradisional baik yang masih sering dimainkan maupun yang sudah hampir punah. Selain itu komunitas ini mengajak anak-anak untuk mempraktekkan permainan-perminan tradisional yang sarat makna tersebut secara langsung (“Komunitas Hong: Pusat Kajian Mainan Rakyat.” http://desaciburial.com).

Langkah yang ditempuh oleh komunitas Hong ini selayaknya didukung penuh dan diikuti oleh daerah lain. Setiap daerah seyogyanya memiliki komunitas seperti ini sehingga khasanah kebudayaan dalam bentuk permainan tradisional bisa dilestarikan dan dicegah kepunahannya. Memang bukan pekerjaan yang mudah, namun jika benar-benar dikelola dengan baik dan dilakukan dengan sepenuh hati, bukan tidak mungkin permainan-permainan tradisional tersebut akan populer kembali walaupun dalam scope yang tidak terlalu luas. Apalagi di pihak lain, saya optimis suatu saat akan timbul kejenuhan anak-anak terhadap permainan-permainan elektronik tersebut. Di usia  yang masih sangat enerjik tersebut bukan sifat alaminya untuk duduk berjam-jam memainkan joystick. Suatu saat mereka pasti merasa bosan, karena sebenarnya mereka membutuhkan aktivitas fisik yang lebih aktif untuk menyalurkan energinya. Nah, ketika saat itu tiba, yang mereka butuhkan adalah permainan-permainan tradisional.

 

Daftar Pustaka

“History of McDonald’s.” Wikipedia: The Free Encyclopedia. 27 Jan. 2011, 14:45. <http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_McDonald’s&gt; (28 Jan. 2011, 05:04).

“Komunitas Hong: Pusat Kajian Mainan Rakyat.” Desa Ciburial.com. <http://desaciburial.com/ komunitas-hong-pusat-kajian-mainan-rakyat/> (28 Jan. 2011, 08:12)

“McDonald’s History.” McDonald’s Official Website. <http://www.aboutmcdonalds.com/mcd/our_ company/mcd_history.html> (28 Jan. 2011, 05:00).

Paterson, Mark. Consumption and Everyday Life. London: Routledge, 2006.

 

 
Leave a comment

Posted by on February 9, 2011 in Just My Thoughts

 

Tags:

Humaniora dan Posmodernisme


Pada tahun 1959 Charles Percy Snow, seorang novelis dan ilmuwan sains Inggris, memberikan kuliah dan menerbitkan sebuah buku di Universitas Cambridge, Inggris, yang berjudul The Two Cultures and the Scientific Revolution. Perkuliahan dan buku tersebut langsung memicu diskusi dan perdebatan yang panas di kalangan para ilmuwan karena menganggap humaniora sebagai sebuah misi intelektual yang tidak tegas dan tidak mampu memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan  masyarakat yang hidup di negara dengan tingkat perekonomian yang rendah. Para humanis merasa sangat terganggu dengan hal tersebut, apalagi Snow juga menyatakan, tanpa dilengkapi bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, bahwa kedamaian dan kesejahteraan dunia akan lebih meningkat jika melatih lebih banyak ilmuwan sains dan insinyur-insinyur teknik dengan mengurangi ahli sejarah, filsuf, dan kritikus sastra. Tiga tahun kemudian, F.R. Leavis, seorang kritikus sastra yang dikagumi di Universitas Cambridge, memberikan bantahan keras terhadap pernyataan Snow tersebut. Ia menyindir Snow sebagai seorang ahli kimia yang gagal, penulis novel yang tidak berkompeten, dan komentator sosial yang tidak memahami permasalahan serius dunia (Kagan 1).

Pandangan tak berdasar C.P. Snow di atas kenyataannya merupakan sesuatu yang juga masih mendominasi pemikiran (mungkin) kebanyakan orang yang lahir sebagai hasil produk modernitas. Kita bisa melihat, para orang tua saat ini begitu kebingungan untuk memberikan pelajaran tambahan bidang-bidang ilmu eksak, seperti matematika dan turunannya, untuk putra-putrinya. Mereka berusaha sedapat mungkin mencari lembaga bimbingan belajar yang memberikan solusi cara belajar paling efektif. Mulai dari metode smart solution yang aneh itu[1], sampai dengan metode sempoa—atau yang dengan bahasa (yang dianggap) lebih keren namun dipaksakan dikenal dengan sebutan mental aritmatika[2]. Mereka seakan merasakan sebuah bencana jika mendapati nilai rapor putra-putri mereka kurang dari rata-rata, khususnya pada mata pelajaran-mata pelajaran tersebut. Apapun yang terjadi, nilai-nilai mata pelajaran eksak haruslah bagus. Pemikiran ini timbul mungkin karena, antara lain, pandangan bahwa kehidupan putra-putri mereka akan dipastikan sejahtera jika mampu mengusai ilmu-ilmu eksak. Banyak orang tua yang berpikir bahwa menjadi kaya di masa depan adalah dengan menjadi dokter, programer komputer, ahli elektronika, atau insinyur mesin. Di lain pihak, menjadi ahli bahasa, pemikir kritis, ahli sejarah, atau budayawan bukanlah sebuah pilihan dalam benak mereka untuk putra-putrinya. Kenapa? Karena pilihan-pilihan kedua tersebut selalu identik dengan gaji rendah, prestise yang kurang, tukang bicara sedikit bekerja, dan sebagainya. Terminologi “sejahtera” bagi anak-anak mereka selalu diartikan sebagai kehidupan yang kaya raya secara materiil.

Hal di atas membuat kebanyakan orang memandang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, yang merupakan dasar pengetahuan bagi pekerjaan-pekerjaan pilihan kedua tersebut, sebagai rumpun ilmu kelas dua serta dan seringkali dianggap remeh serta cenderung disepelekan bahkan sampai saat ini. Sebagai contoh, sistem pendidikan di tingkat SMA dibedakan menjadi IPA dan IPS. Siswa-siswa yang berhak masuk ke kelompok kelas IPA adalah mereka yang menguasai materi-materi pelajaran bidang eksak (matematika, kimia, biologi, dan fisika) dengan baik, sedangkan yang berhak masuk ke kelompok kelas IPS adalah mereka yang menguasai dengan baik mata pelajaran sosial, seperti sejarah, ekonomi, dan geografi. Karena siswa yang pandai matematika serta pelajaran eksak lainnya masuk IPA, dan yang “pandai” pelajaran sosial masuk IPS[3], maka kelompok kelas IPA selalu dianggap sebagai kelompok kelas unggulan, tempatnya para siswa yang pandai.

Anggapan-anggapan di atas tentu saja bukanlah sesuatu yang berdasar kuat. Jika dilihat kembali, pepatah “tak kenal maka tak sayang” tampaknya berlaku pada stereotipe mengenai ilmu-ilmu humaniora. Para orang tua sepertinya hanya melihat ilmu humaniora dengan cara yang praktis dan tidak mendalam. Sebagaimana C.P. Snow, mereka tampaknya belum memahami apa sebenarnya humaniora itu, bagaimanakah perannya terhadap kehidupan umat manusia, dan apa yang telah dihasilkan oleh ilmu tersebut. Oleh karena itu, diperlukan adanya usaha penyadaran yang terus-menerus tentang apa dan bagaimana humaniora itu, serta pentingnya kajian ilmu humaniora dalam perkembangan kehidupan manusia.

Ilmu Humaniora

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat, humaniora berarti “ilmu pengetahuan (agama, filsafat, sejarah, bahasa, dan sastra, pelbagai cabang seni, dsb) yang berusaha menafsirkan makna kehidupan manusia di dunia dan berusaha menafsirkan martabat kepada penghidupan dan eksistensi manusia”. Sedangkan menurut kamus Merriam-Webster, humaniora—yang dalam bahasa Inggris disebut humanities—adalah cabang kajian (sebagaimana filsafat, seni, dan bahasa) yang menyelidiki konsep-konsep dan persoalan-persoalan manusia yang berbeda dengan proses-proses alami (seperti fisika atau kimia) dan hubungan-hubungan sosial (seperti dalam antropologi atau ekonomi). Senada dengan definisi ini, Woodhouse (Mustansyir 211), mengatakan bahwa humanities merupakan sekelompok disiplin pendidikan yang isi dan metodenya dibedakan dari ilmu-ilmu fisik dan biologi, dan juga paling tidak dibedakan dari ilmu-ilmu sosial. Kelompok kajian humanities meliputi bahasa, sastra, seni, filsafat, dan sejarah.

Dari pengertian-pengertian di atas, kita bisa menyimpulkan setidaknya dua hal. Yang pertama, humaniora adalah ilmu yang mengkaji hakikat manusia beserta persoalan-persoalan manusiawi mereka dengan tujuan untuk meraih kualitas kehidupan yang lebih baik. Karena humaniora mempelajari tentang manusia, oleh karena itu, objek material ilmu ini sebenarnya adalah manusia itu sendiri.

Yang kedua, humaniora terdiri dari cabang-cabang ilmu lain, diantaranya bahasa, sastra, filsafat, sejarah, dan seni. Ilmu-ilmu ini pada dasarnya sama-sama mengkaji tentang manusia, namun dengan cara yang berbeda-beda[4]. Sebagai contoh, bahasa mengkaji manusia melalui perilaku komunikasi verbal yang dilakukannya. Sastra mengkaji manusia melalui karyanya yang berupa tulisan-tulisan bernilai tinggi yang mencerminkan kedalaman berfikir dan olah rasa. Filsafat mengkaji manusia melalui pemikiran-pemikiran bijaksananya yang selalu ingin menemukan hakikat kebenaran dan eksistensinya. Sejarah mengkaji manusia dengan menyelidiki segala hal yang ditiggalkannya yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi, kehidupan, ataupun peristiwa yang terjadi di masa lalu. Sedangkan seni mengkaji manusia dengan melihat karya-karyanya yang artistik dan bernilai estetika tinggi yang merupakan perwujudan dari implementasi yang mendalam terhadap potensi kemanusiaan yang berupa cipta, rasa, karya, dan karsa.

Humaniora merupakan rumpun keilmuan yang memiliki karakteristik yang khas. Jerome Kagan (4) memformulasikan karakteristik humaniora sebagai sebuah kajian yang tertarik memahami reaksi manusia pada kejadian-kejadian yang dialami dan makna-makna yang disematkannya pada pengalaman-pengalaman yang dialaminya sebagai sebuah fungsi dari budaya, era historis, dan sejarah hidup. Lebih jauh, dalam artikelnya pada jurnal filsafat Wisdom, Rizal Mustansyir (212) mengatakan:

Humaniora merupakan studi yang memusatkan perhatiannya pada kehidupan manusia, menekankan unsur kreativitas, kebaharuan, orisinalitas, keunikan, Humaniora berusaha mencari makna dan nilai, sehingga bersifat normatif. Dalam bidang humaniora rasionalitas tidak hanya dipahami sebagai pemikiran tentang suatu objek atas dasar dalil-dalil akal, tetapi juga hal-hal yang bersifat imajinatif, sebagai contoh: Leonardo da Vinci mampu menggambar sebuah lukisan yang mirip dengan bentuk helikopter jauh sebelum ditemukan pesawat terbang.

Lalu, seberapa pentingkah kajian ilmu humaniora terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni? Jawabnya, tentu saja penting! Humaniora, menurut saya, merupakan ruh dari semua ilmu. Betapa tidak, humaniora merupakan satu-satunya rumpun ilmu yang mempelajari manusia dengan tujuan untuk memahami hakekat manusia itu sendiri agar bisa lebih memanusiakan manusia. Sedangkan di lain pihak, rumpun ilmu lain hanyalah bertujuan untuk memudahkan kehidupan manusia di dunia melalui kajian-kajian dan penemuan-penemuan. Dengan kata lain, sains dan ilmu sosial memudahkan kehidupan manusia, sedangkan makna serta hakikat tentang manusia dan kehidupan itu sendiri dijelaskan oleh humaniora. Tentunya, manusia tidak akan pernah bisa mengembangkan segala macam potensinya (termasuk di bidang sains dan ilmu sosial) jika tidak pernah memahami tentang hakikat dan keberadaanya.

Salah satu alasan kenapa humaniora saya sebut sebagi “ruh” ilmu lain, karena humaniora memberikan arah dan makna bagi keberadaan dan perkembangan ilmu lain. Sebagai contoh, dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, humaniora memberikan pandangannya melalui kajian-kajian etika ketika teknologi kloning baru muncul dan populer. Apakah logis, jika kloning diperbolehkan untuk diterapkan kepada manusia secara luas sehingga nilai-nilai dasar yang menjadikan seseorang disebut manusia menjadi kabur? Apakah etis, manusia bertindak seolah-olah menjadi Tuhan dengan sewenang-wenang membuat makhluk baru tanpa melalui proses reproduksi? Apakah berperikemanusiaan jika manusia membuat makhluk baru dan membiarkannya mati sebelum waktunya karena tidak sempurnya teknologi rekayasa kloning[5]?

Sebuah contoh lagi adalah dalam bidang teknologi komunikasi. Sebagaimana kita ketahui, teknologi informasi dan komunikasi manusia saat ini sudah sedemikian maju, sehingga seseorang tidak perlu bertemu muka langsung untuk mengadakan pertemuan atau rapat. Semuanya bisa dilakukan jarak jauh dan tanpa kabel. Akan tetapi, tiba-tiba saja kita secara tidak sadar telah melakukan sesuatu yang sangat besar dalam kehidupan kita melalui teknologi tersebut. Di satu sisi teknologi tersebut memang mendekatkan kita dari yang jauh. Namun di sisi lain, tanpa kita sadari teknologi itu juga menjauhkan kita dari orang yang sudah dekat secara spasial dengan kita. Kita selalu sibuk membalas tweet[6] dari orang-orang yang terkadang mukanya saja tidak kita ketahui, sedangkan di sebelah kita duduk seorang sahabat baik—yang juga sedang melakukan hal yang sama—yang selalu membantu kita disaat kita membutuhkan bantuan. Tiba-tiba saja kita kurang berinteraksi secara fisik bahkan dengan orang yang sangat dekat dengan kita.

Humaniora melihat fenomena tersebut dan berusaha mengingatkan kita melalui kajian-kajiannya bahwa kita terancam kehilangan predikat kita sebagai makhluk sosial, makhluk mulia ciptaan Tuhan yang senantiasa saling membantu satu sama lain melalui interaksi fisik. Kajian humaniora memberikan arah bagi teknologi tersebut agar digunakan sesuai dengan tujuan kebaikan manusia dan memanusiakan manusia. Humaniora juga memberikan makna bagi kehidupan kita dengan cara mengingatkan kita untuk selalu menjaga nilai kemanusiaan kita sebagai manusia yang sekaligus membuat kita berbeda dan lebih mulia dari pada makhluk lain.

Di sisi lain, humaniora ternyata juga memiliki peran lain yang sangat vital dalam teknologi informasi dan komunikasi. Peran bahasa dalam komunikasi dan transfer informasi merupakan sesuatu yang tak dapat diragukan perannya. Tak bisa dibayangkan bagaimanakah sebuah informasi disampaikan tanpa menggunakan bahasa (Mustansyir 213), atau bagaimana komunikasi verbal bisa berjalan tanpa menggunakan bahasa.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, sekali lagi humaniora berperan memberikan arah dan hakikat tujuan pengembangan tersebut. Humaniora senantiasa menjaga agar segala perkembangan ilmu pengetahuan selalu didasarkan atas kepentingan kebaikan umat manusia. Humaniora juga selalu menjaga agar dalam perkembangan tersebut manusia tetap menjadi subjek yang mengendalikan ilmu pengetahuan demi terciptanya kehidupan manusia yang lebih baik. Tak akan bisa dibayangkan bagaimana jadinya nanti jika teknologi robotik dan kloning menjadi sedemikian maju, sehingga tercipta manusia-manusia cyborg[7] atau robot-robot dengan kecerdasan buatan yang menyamai manusia, sehingga tiba-tiba dunia didominasi oleh bukan manusia lagi, melainkan oleh mesin-mesin ciptaan manusia. Manusia tiba-tiba menjadi tersingkir dari dunianya dan menjadi subordinat terhadap ciptaannya sendiri. Humaniora mengajak kita merenungkan hal ini, salah satunya, dengan cara memberikan suatu gambaran fiksi hal tersebut dalam bentuk film-film seperti trilogi Terminator dan trilogi Matrix.

Dalam perkembangan bidang seni, pentingnya humaniora sudah tidak disangsikan lagi, karena pada dasarnya seni juga termasuk ke dalam rumpun keilmuan humaniora, sebagaimana tersinggung dalam pengertian humaniora di atas. Seni selalu berasal dari manusia dan keindahannya ditujukan untuk dinikmati indera manusia. Hal ini sangat sejalan dengan kajian humaniora yang selalu menjadikan manusia sebagai subjek. Dengan humaniora, seni menjadi lebih kaya, indah, dan bermakna karena selalu berpegang pada nilai-nilai kehidupan manusia. Etika dalam humaniora juga menjaga agar seni tidak membuat kehidupan manusia hancur oleh perpecahan dan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan.

Beberapa tahun yang lalu kita melihat dan mendengar bagaimana seorang berkebangsaan Denmark membuat karikatur-karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut menimbulkan kemarahan dan protes yang luar biasa dari umat Islam di seluruh dunia. Hingga banyak orang tiba-tiba saja menjadi terpanggil untuk melakukan jihad karena merasa benar-benar tersinggung oleh kejadian tersebut. Peristiwa tersebut mulai mereda ketika banyak sekali pihak di luar umat muslim yang ternyata juga memandang hal tersebut sebagai suatu yang tidak sepatutnya dan tidak beretika. Tidak akan bisa dibayangkan apa yang mungkin bisa terjadi jika dalam seni tidak ada unsur etika yang dilibatkan. Karikatur-karikatur semacam itu bisa saja dianggap sebagai sebuah karya seni, tanpa menghiraukan bahwa ada pihak yang berkeberatan dan rela mati untuk membela apa yang dipercayainya tersebut. Pada akhirnya hal tersebut bisa mengakibatkan perpecahan dan peperangan yang nilai dampaknya akan jauh lebih besar dari pada nilai seni karikatur itu sendiri.

Humaniora dan Posmodernisme

Perkembangan konsep humaniora modern sebenarnya berawal dari jaman Yunani Kuno. Konsep tersebut berasal dari paideia Yunani Klasik, yang merupakan suatu program pendidikan umum yang berasal dari kaum sofis pada pertengahan abad ke-5 SM, yang menyiapkan para pria muda untuk menjadi warganegara aktif dalam polis. Tidak hanya itu, konsep humaniora juga berasal dari terminologi Cicero humanitas (yang berarti secara harfiah “sifat manusia”), yang merupakan program pelatihan bagi calon orator yang pertama kali ditetapkan di De Oratore pada tahun 55 SM. Pada perkembangan selanjutnya, konsep-konsep tersebut diadopsi dan diadaptasi oleh berbagai pemikir, mulai dari St. Augustine, para pemikir abad pertengahan, hingga para pemikir abad 19 seperti Wilhelm Dilthey dan Heinrich Rickert (“humanities”, Encyclopædia Britannica 2007). Pemikiran-pemikiran para filsuf tersebut telah membuat konsep sederhana paideia dan humanitas berkembang hingga menjadi konsep humaniora pada saat ini. Bahkan, di era modern seperti sekarang ini, konsep humaniora juga terus berkembang dan dipengaruhi oleh pikiran-pikiran kritis modern. Seiring dengan munculnya pemikiran posmodernisme yang merupakan perwujudan dari ketidakpuasan terhadap proyek-proyek modernitas, humaniora juga turut berkembang menjadi sebuah kajian yang berusaha mengkaji hal-hal yang melampui batas-batas modernitas.

Secara umum, konsep dasar posmodern adalah menolak kemapanan-kemapanan yang ditawarkan oleh modernitas. Listiyono Santoso (dalam Santoso dkk. 320-322) mengatakan bahwa di tengah kemapanan dan pesona yang ditawarkan oleh proyek modernisasi dengan rasionalitasnya, postmodern justru (di)tampil(kan) dengan sejumlah evaluasi kritis dan tajam terhadap impian-impian masyarakat modern. Munculnya postmodern merupakan suatu sinyal atas hadirnya sejumlah pemikir, filsuf, dan intelektual yang berusaha melakukan dekonstruksi atas basis dasar pengetahuan modern. Artinya, nilai yang ditawarkan oleh postmodern adalah betapa gagasan –gagasan dasar, seperti filsafat, rasionalitas, dan epistemologi, dipertanyakan lagi secara radikal. Dengan demikian, terminologi postmodernisme lebih berkaitan dengan suatu sikap kritis atas segala bentuk kemapanan (status quo) yang diciptakan oleh proyek modernisasi.

Menurut Lyotard, postmodern merupakan suatu periode dimana segala sesuatu di-deligitimasi-kan (Sugiharto dalam Santoso 324). Postmodern mendeligitimasi sistem totaliter yang biasanya bersifat hegemonis dan pro status quo agar tidak memberangus munculnya kebenaran-kebenaran yang bukan sekadar kebenaran tunggal. Ketika posisi pengetahuan dilegitimasikan oleh narasi-narasi besar seperti kebebasan, kemajuan, emansipasi, dan sebagainya, maka kini narasi-narasi besar tersebut telah mengalami nasib yang sama dengan narasi-narasi besar (metanarasi) sebelumnya—seperti religi, dialektika ruh, subjektivitas, dan sebagainya—yang menjadi patokan filsafat modern, yaitu mengalami kehilangan kekuatannya dan menjadi sulit dipercaya (Santoso 324-325). Sederhananya, postmodern menyadari bahwa dalam ranah rasionalitas tidak ada kebenaran yang yang bersifat tunggal dan absolut. Oleh karena itu postmodern menolak kebenaran tunggal dan memperjuangkan adanya berbagai realitas lain yang juga benar.

Postmodernisme sebagai epistemologi ditandai oleh keragaman argumen. Menurut Lyotard, postmodern berarti mencari ketidakstabilan. Kalau pengetahuan modern mencari kestabilan melalui metodologi, dengan “kebenaran” sebagai titik akhir pencarian, maka pengetahuan postmodern ditandai oleh runtuhnya kebenaran, rasionalitas, dan objektivitas. Prinsip dasarnya bukan benar-salah, tetapi sebagai paralogy atau membiarkan segala sesuatunya terbuka, untuk kemudian sensitif terhadap perbedaan-perbedaan. Tampaknya, semangat dekonstruksi Derrida berpengaruh pada prinsip pengetahuan postmodern untuk selalu melakukan revisi kritis pada setiap bentuk pengetahuan (Santoso 326).

Pada kenyataan masa kini, ilmu pengetahuan (sains) telah berkembang dengan sangat luar biasa sehingga menjadi sebuah rumpun ilmu yang sangat rumit karena telah menjadi sangat terspesialisasi. Sebagai contoh, ilmu kedokteran saat ini telah menjadi ilmu yang memiliki kajian spesialis yang sangat banyak, mulai dari organ bagian kepala yang terdiri spesialis THT-KL[8], spesialis mata, dst; organ-organ dalam manusia yang terdiri dari hematologi-onkologi, hepatologi, kardiovaskular, dst; spesialis ilmu kesehatan anak; sub-spesialis THT-KL; dan masih banyak lagi (“Dokter Spesialis”, http://id.wikipedia.org). Sebagai layaknya ilmu eksak, ilmu-ilmu spesialis di atas selalu mengkaji setiap objek kajiannya berdasarkan kenyataan-kenyataan empiris, setiap fenomena non-empiris, yang biasanya dikaji oleh oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora, tidak akan masuk pada pertimbangan pengkajian.

Akan tetapi, seiring munculnya semangat posmodern dewasa ini, paradigma ilmu-ilmu sains sepertinya juga turut terpengaruhi dan mulai berubah. Paradigma posmodern, yang tidak pernah menerima sebuah kemapanan dalam kebenaran tunggal dan selalu melihat kemungkinan adanya kebenaran-kebenaran lain, sedikit banyak telah mempengaruhi sikap dan paradigma ilmu-ilmu sains terhadap fenomena non-empiris. Ilmu-ilmu sains saat ini mulai melihat objek-objek kajian humaniora dan ilmu-ilmu sosial, yang terkadang non-empiris, sebagai objek potensial kajian. Hal ini salah satunya ditandai dengan dibukanya program studi (diploma III) pengobatan tradisional (Battra) yang berada di bawah Fakultas Kedokteran di Universitas Airlangga.

Dalam sebuah diskusi, seorang teman yang saat ini (2011) sedang dalam proses menyelesaikan pendidikan program doktoral pada bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Airlangga, mengatakan bahwa saat ini terdapat tren kejenuhan kajian pada ilmu-ilmu sains. Saking terspesialisasinya ilmu-ilmu tersebut, para praktisinya mulai merasa “kehabisan” bahan kajian. Di luar negeri, khususnya Australia, para praktisi dan peneliti ilmu kesehatan mulai tertarik dengan hal-hal yang berbau tradisional dan sedikit non empiris. Salah satu fenomena yang terjadi adalah munculnya kajian ethnomedicine. Banyak para peneliti dari Australia yang datang dan ”berpetualang” ke pelosok-pelosok Indonesia untuk mempelajari khasanah pengobatan tradisional suku-suku di Indonesia. Mereka tertarik melihat bagaimana beberapa penyakit diatasi oleh penduduk setempat dengan menggunakan kearifan-kearifan lokal yang mereka miliki. Objek-objek kajian mereka yang dulunya selalu bersifat empiris, pada saat ini menjadi tidak mutlak lagi. Mereka mulai melihat dan mengkaji bagaimana bisa seseorang di suatu komunitas tertentu merasa telah disembuhkan dari sakit kepala sebelah hanya dengan dibacakan mantra tertentu dan disembur air putih.

Munculnya posmodernisme dan tren penelitian tersebut tentunya telah memberikan keuntungan bagi cabang-cabang ilmu humaniora dan termasuk juga ilmu-ilmu sosial. Kini, orang-orang mulai melihat humaniora sebagi sebuah ilmu yang sangat berguna bagi perkembangan ilmu-ilmu lain, khususnya sains. Para peneliti ethnomedicine saat ini mulai membuka hasil-hasil kajian humaniora sebagai dasar dan pertimbangan bagi mereka untuk melakukan penelitian dan pengembangan keilmuan. Mereka juga mulai membaca sejarah suatu suku tertentu untuk menyelidiki rahasia keberhasilan suku tersebut dalam mengatasi wabah penyakit mematikan, semisal demam berdarah. Di lain pihak, munculnya posmodernisme juga membuat orang-orang mulai berpikir dan berusaha menjaga kualitas kemanusiaan mereka, dalam hubungannya dengan sesama manusia dan dengan lingkungan sekitar. Banyak orang yang sudah mulai peduli dengan kemajuan teknologi yang tidak hanya memberikan kemudahan bagi manusia saja, namun juga memberikan manfaat bagi lingkungan. Manusia mulai bepikir tentang bagaimana membuat dirinya lebih manusia dengan segala macam kemajuan yang diperoleh, namun di sisi lain berusaha untuk mempertahan eksistensinya di dunia dengan cara menjaga lingkungan tempat hidupnya. Cara-cara berpikir yang sejalan dengan konsep humaniora tersebut tampaknya mulai menjadi tren kehidupan masyarakat saat ini.

Penutup

Humaniora dalam perannya sebagai sebuah ilmu tampaknya mulai diperhitungkan oleh masyarakat luas. Hal ini salah satunya ditandai dengan banyaknya beasiswa untuk mahasiswa humaniora—yang di Amerika lebih dikenal dengan jurusan liberal arts—khususnya untuk yang belajar ke luar negeri. Di lain pihak, banyak cendekiawan yang mulai memahami bahwa humaniora telah memberikan pengaruh dan makna yang sangat penting bagi kemajuan ilmu-ilmu lain. Hal ini juga tidak terlepas dari munculnya sebuah fenomena paradigma berpikir posmodern yang membawa kembali relasi-relasi kebenaran humaniora yang sempat “terlupakan” oleh dominasi ilmu-ilmu sains selama abad 20.

Daftar Pustaka

“C. P. Snow.” Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005.

“humanities.” Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica, 2011.

“Dokter Spesialis”. Wikipedia: The Free Encyclopedia. 23 Jan. 2011, 04:58. <http://id.wikipedia .org/wiki/Dokter_spesialis> (27 Jan. 2011, 17:49).

“humaniora.” Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi keempat. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

“humanity.” Merriam Webster’s Distionary and Thesaurus. Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica, 2011.

“Kedokteran”. Wikipedia: The Free Encyclopedia. 1 Des. 2010, 23:03. <http://id.wikipedia.org/ wiki/Kedokteran> (27 Jan. 2011, 17:41).

“Mental Calculation”. Wikipedia: The Free Encyclopedia. 20 Jan. 2011, 17:54. <http://en.wikipedia. org/wiki/Mental_calculation> (26 Jan. 2011, 14:59).

Kagan Jerome. The Three Cultures: Natural Sciences, Social Sciences, and Humanities in the 21st Century. Cambridge: Cambridge University Press, 2009.

Mustansyir, Rizal. “Refleksi Filosofis Atas Perkembangan Ilmu-ilmu Humaniora”. Wisdom. Jilid 35, No 3, Tahun 2003. 12 Des. 2006. <http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewFile /7/5> (17 Jan. 2011, 13:03).

Santoso, Listiyono, dkk. Seri Pemikiran Tokoh: Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.


[1] Sesungguhnya metode smart solution tidak benar-benar memberikan solusi cerdas bagi para siswa yang mempelajarinya. Ketika mempelajari smart solution, yang terjadi sesungguhnya seorang siswa malah diharuskan untuk menghafalkan sekian banyak rumus baru yang merupakan rumus asli yang diringkas dan dimodifikasi dari sebuah operasi bilangan. Selain itu, satu rumus hasil smart solution tidak akan pernah bisa diterapkan pada operasi bilangan dengan dasar operasi sama namun berbeda besar bilangan atau ragam modifikasi operasinya.

[2] Dikatakan “dipaksakan” karena sesungguhnya kata “mental aritmatika” berasal dari bahasa Inggris mental arithmetic yang berarti melakukan penghitungan menggunakan mental atau bayangan (“Mental Calculation” http://en.wikipedia.org). Mental arithmetic jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia seharusnya menjadi “aritmatika mental” dan bukan “mental aritmatika, karena kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda.

[3] Tidak sepenuhnya siswa yang masuk IPS pandai pelajaran-pelajaran ilmu sosial. Seringkali terjadi ketika tiba saat penjurusan kelas, sebagian besar siswa di suatu sekolah memilih mendaftarkan dirinya untuk masuk kelompok IPA. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh sterotipe bahwa siswa kelas eksak adalah siswa yang pandai. Yang terjadi adalah, ternyata kapasitas kelas IPA sangat terbatas, oleh karena itu diadakanlah seleksi. Dari hasil seleksi didapatkan urutan nilai para siswa dalam penguasaan pelajaran eksak. Siswa dengan urutan nilai tertinggi langsung dimasukkan ke kelas IPA sampai memenuhi kuota jumlah siswa, sisanya langsung masuk ke kelas IPS. Terkadang siswa yang gagal masuk IPA sebenarnya memiliki nilai-nilai mata pelajaran sosial yang tidak lebih bagus daripada nilai-nilai pelajaran eksaknya.

[4] Sekaligus disebut juga sebagai objek formal ilmu humaniora.

[5] Kambing hasil kloningan pertama di dunia, Dolly, mati secara mengejutkan dan dengan umur yang relatif pendek. Penelitian terakhir menemukan bahwa Dolly mewarisi segala hal dari kambing yang menjadi gen source-nya, termasuk umur dan daya tahan jaringan tubuh, sehingga mengakibatkan Dolly mati walaupun sebenarnya dalam hitungan normal ia masih termasuk kambing muda.

[6] Istilah yang merujuk pada “pesan antarpengguna” dalam microblogging Twitter.

[7] Cyborg yang saya maksudkan di sini adalah cyborg yang benar-benar kecerdasan buatan (mesin) dan bukan oleh kemauan manusia yang ada di dalamnya.

[8] Telinga, Hidung, Tenggorok, dan bedah Kepala-Leher.

 

 
6 Comments

Posted by on February 9, 2011 in Just My Thoughts

 

Tags:

BlackBerry: Produksi, Konsumsi, dan Identitas


Abstract: BlackBerry has become a great phenomenon in Indonesia for the last 5 years. The number of users which reaches more than 1 million has made the device a new culture among the Indonesians. For some people, BlackBerry is an inseparable part of their lives and plays role as a symbol of modernity. This research aims to seek the meaning of BlackBerry for its users by applying Stuart Hall’s circuit of culture approach, which is focused on production, consumption, and identity.

 

Keywords: BlackBerry, circuit of culture, production, consumption, identity.

 

Download the full text in Bahasa Indonesia here

or

Mirror

 

 
2 Comments

Posted by on February 9, 2011 in Just My Thoughts

 

Tags:

Teori Transactional Reader-response


Apakah “sastra” itu? Terry Eagleton dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif , mengatakan bahwa sastra adalah tulisan yang dinilai tinggi. Saya tidak ingin membahas tentang pengertian ini, namun saya tertarik pada kata “tulisan” dalam pengertian tersebut. Dengan kalimat yang sangat sederhana, jika saya boleh menyimpulkan, karya sastra adalah selalu berbentuk tulisan atau teks. Jika teks tersebut telah mendapat predikat sebagai karya sastra, tentunya sesuai dengan pengertian di atas, maka teks itu pastilah memiliki nilai yang tinggi. Kenapa memiliki nilai yang tinggi? Karena pastilah teks tersebut memiliki makna tertentu. Lalu, bagaimana sebuah teks dapat bermakna?

Sebagai jawaban pertanyaan tersebut, menurut Martin McQuillan (84), sebuah teks hanya akan menjadi bermakna jika teks tersebut dibaca, atau saat ketika pembaca berinteraksi dengan kata-kata pada halaman teks tersebut dalam rangka memproduksi makna. Ia menyebut kegiatan membaca sebagai sebuah partisipasi aktif dari pembaca untuk membangun makna dari secarik tulisan. Membaca, oleh karena itu, merupakan sesuatu dimana pembaca memiliki peran di dalamnya dan merupakan sesuatu yang terjadi selama periode waktu tertentu. Dalam terminologi McQuillan, membaca hanya terjadi ketika pembaca benar-benar membaca (berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan makna) sebuah teks yang benar-benar ada.

Apa yang diungkapkan oleh McQuillan di atas menunjukkan begitu pentingnya peranan pembaca dalam pemaknaan sebuah karya sastra. Karena itulah, tak bisa disangkal lagi bahwa pembaca sebenarnya adalah pemberi nilai pada sebuah karya sastra. Tinggi rendahnya nilai sebuah karya sastra ditentukan oleh bagaimana respon para pembaca teks tersebut. Berdasarkan dari hal-hal tersebut, muncullah sebuah konsep teori tentang respon para pembaca yang lebih dikenal sebagai Reader-response Theory.

Dalam perjalanannya, teori respon pembaca mengalami banyak perkembangan. Berbagai macam variasi dari teori ini muncul dengan perspektif dan fokus kajian yang berbeda-beda. Salah satu teori yang sekaligus akan menjadi fokus pembahasan kali ini adalah teori Transactional Reader-response. Sama seperti teori respon pembaca pada umumnya, teori ini juga melihat pembaca sebagai objek yang sangat penting dalam pembentukan makna. Lalu, apa yang spesial dari teori ini? Pertanyaan tersebut akan terjawab dalam pembahasan di bagian selanjutnya.

Sejarah dan Konsep Dasar Reader-response.

Teori respon pembaca (reader–response theory) kontemporer dikembangkan dari hermeneutika filosofis dan fenomenologi tahun 1950-an (Gregory 174). Namun, perhatian pada proses membaca sebenarnya sudah muncul selama tahun 1930-an sebagai reaksi terhadap kecenderungan yang tumbuh untuk menolak peran pembaca dalam penciptaan makna, yang merupakan prinsip formal dari New Criticism yang mendominasi praktek kritis pada 1940-an dan 1950-an. Dalam New Criticism, makna sebuat karya sastra terletak pada teks itu sendiri dan terlepas dari apapun. Makna tersebut  bukanlah hasil dari niatan pengarang dan tidak pula bisa berubah oleh respon pembaca. New Criticsberpendapat bahwa perhatian terhadap respon pembaca akan membuat rancu pengertian antara apakah teks tersebut sebenarnya dengan apa yang dilakukan oleh teks tersebut (what the text is with what the text does). Teori respon pembaca berpendapat bahwa arti sebuah teks tidak dapat dipisahkan dari apa yang dilakukan (dikatakan) oleh teks tersebut. Teori yang tidak mendapatkan banyak perhatian hingga 1970-an tersebut setidaknya meyakini dua hal: (1) bahwa peran pembaca tidak dapat dipisahkan dari pemahaman kita terhadap karya sastra, dan (2) bahwa para pembaca tidaklah secara pasif mengkonsumsi makna yang disajikan oleh sebuah teks sastra objektif; melainkan secara aktif menciptakan makna yang mereka temukan dalam karya sastra (Tyson 170).

Keyakinan bahwa para pembaca secara aktif membuat makna, sebagaimana di atas, tentu saja berarti bahwa pembaca yang berbeda dapat dapat membaca sebuah teks yang sama dengan cara yang berbeda. Bahkan, para ahli teori respon pembaca meyakini bahwa seorang pembaca yang membaca sebuah teks pada dua kesempatan yang berbeda mungkin akan menghasilkan makna yang berbeda pula. Hal ini dikarenakan banyaknya variabel yang memberikan kontribusi terhadap pengalaman kita atas teks tersebut, misalnya pengetahuan yang kita peroleh dari pembacaan pertama dan kedua, pengalaman pribadi yang muncul di sela-sela kedua pembacaan tersebut, pergantian mood (suasana hati) di saat jeda dua pembacaan itu, ataupun pergantian tujuan dalam membaca teks tersebut (Tyson 170).

Sebagai contoh untuk memperjelas uraian di atas, ada seorang pengusaha kaya yang berniat membeli sebuah mobil mewah. Oleh pihak dealer ia diberi sebuah brosur mengenai spesifikasi dan keunggulan mobil yang dibelinya. Ketika selesai membaca brosur tersebut sang pengusaha menjadi tertarik dengan segala fasilitas dan kemewahan yang akan ia dapatkan jika membeli mobil itu. Akhirnya ia membeli mobil tersebut. Baru dua bulan berselang, badai krisis ekonomi yang dahsyat melanda, sehingga mengakibatkan kebangkrutan bisnisnya. Saat itu ia kehilangan segalanya dan terbebani hutang yang sangat besar serta harus menyelesaikan hutang tersebut secepatnya. Ia mencoba mencari jalan keluar, namun belum mendapatkannya juga. Tanpa sengaja, ia menemukan brosur mobil mewah yang pernah ia beli. Ia pun membaca kembali brosur mobil tersebut dan menemukan bahwa yang membuat mahal mobil itu adalah spesifikasinya yang mewah, yang sebenarnya di sisi lain juga menjadikannya memiliki kelemahan, yaitu mudah dicuri dengan beberapa peralatan khusus yang sederhana. Sang mantan pengusaha berpendapat bahwa untuk mengatasi masalah keuangannya, ia bisa mencuri sebuah mobil dengan tipe sama dengan di brosur, lalu menjualnya.

Hal di atas memberikan gambaran bahwa ketika sang pengusaha masih kaya ia memaknai apa yang tersurat di dalam brosur sebagai suatu bentuk kesempatan melegitimasi statusnya sebagai orang kaya, yaitu dengan cara membeli mobil mewah tersebut. Akan tetapi, ketika jatuh miskin dan memerlukan uang dalam jumlah yang sangat besar dalam waktu yang cepat, ia memaknai teks dalam brosur tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk melakukan tindak kejahatan dalam rangka menyelesaikan persoalan finansialnya. Pengalaman yang muncul di sela dua waktu pembacaan brosur oleh pengusaha tersebut serta perubahan mood dan motivasi yang mengikutinya telah membuat sang pengusaha berubah dalam memaknai isi dari brosur itu. Dengan kata lain, teks tersebut pada akhirnya berubah maknanya bagi si pengusaha. Hal ini menegaskan bahwa sebuah teks tertulis bukanlah sebuah objek, walaupun memiliki keberadaan secara fisik, namun  merupakan sebuah peristiwa yang terjadi di dalam diri seorang pembaca, yang mana respon pembaca tersebut merupakan hal paling penting dalam pembentukan makna teks (Tyson 172).

Teori Transactional Reader-response.

Teori respon pembaca transaksional (transactional reader-response) seringkali dihubungkan dengan Louise Rosenblatt, karena ia banyak sekali menyumbangkan pemikiran-pemikiran dalam perkembangan teori ini.Transactional reader-response membahas tentang transaksi antara teks dengan pembaca. Rosenblatt tidak menolak pentingnya teks dalam mendukung pembaca, namun ia berpendapat bahwa keduanya dibutuhkan dalam penciptaan makna (Tyson 173).

Lalu, bagaimanakah transaksi tersebut berjalan? Sebagaimana yang telah dibahas di atas, makna dari sebuah teks muncul pada pembaca dengan dipengaruhi oleh berbagai variabel. Sebuah teks bertindak sebagai suatu stimulus atau rangsangan dimana kita meresponnya dengan cara kita sendiri. Perasaan, ingatan, dan asosiasi akan muncul ketika kita membaca. Semua hal tersebut mempengaruhi kita dalam memahami dan memaknai sebuah teks. Karya sastra yang pernah kita baca sebelumnya, semua pengetahuan kita, dan bahkan kondisi fisik serta suasana hati kita saat ini juga mempengaruhi hal pemahaman dan pemaknaan tersebut. Ketika kita membaca, teks bisa berlaku sebagai cetak biru (blueprint) yang bisa digunakan untuk memperbaiki interpretasi kita ketika menyadari bahwa kita telah membuat sebuah penafsiran yang terlalu jauh dengan apa yang ditulis pada teks. Proses memperbaiki interpretasi ini biasanya berakibat pada kembalinya kita untuk membaca lagi bagian sebelumnya dalam rangka mempertimbangkan beberapa berkembangan dari teks yang telah kita temukan. Jadi, sebuah teks memandu kita untuk melakukan koreksi secara mandiri atas penafsiran kita dalam rangka membangun interpretasi yang lengkap. Sehingga penciptaan sebuah karya sastra, merupakan sebuah produk transaksi antara pembaca dan teks, yang mana keduanya sama-sama penting di dalam proses tersebut (Tyson 173).

Pada bukunya yang berjudul The Reader, The Text, The Poem, Rosenblatt memperkenalkan dua strategi pembacaan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi motif dari para pembaca dan “transaksi” mereka dengan karya sastra. Yang pertama adalah pembacaan estetik (aesthetic reading), dimana pembaca mencurahkan perhatian khusus pada apa yang terjadi selama ia membaca (Davis dan Womack 54-5). Ketika kita membaca dalam mode estetik ini, kita mengalami sebuah hubungan pribadi dengan teks yang membuat perhatian kita fokus pada kehalusan emosi dari bahasanya dan mendorong kita untuk membuat penilaian (Tyson 173). Strategi yang kedua adalah pembacaan nonestetik (nonaesthetical reading), dimana pembaca memfokuskan perhatian pada jejak-jejak pengetahuan dan data yang akan tetap ada setelah proses membaca. Rosenblatt menyebut strategi ini sebagai sebuah pembacaan efferent, dimana pembaca membuat diri mereka sendiri tertarik pada apa yang akan diperoleh secara materi dari pengalaman membaca tersebut (Davis dan Womack 55). Ketika kita membaca dengan mode efferent, kita berfokus pada informasi yang termuat pada teks, seakan-akan teks tersebut adalah sebuah gudang fakta dan ide yang bisa kita bawa kemana-mana. Oleh karena itu, dalam rangka memunculkan transaksi antara teks dan pembaca, pendekatan atau strategi pembacaan kita terhadap teks haruslah secara estetik daripada efferent. Tanpa pendekatan estetik, tidak mungkin ada transaksi antara pembaca dan teks yang dapat dianalisa (Tyson 173-4).

Para pengikut Wolfgang Iser (seorang ahli sastra dari Jerman) mungkin akan menjelaskan apa yang oleh Rosenblatt disebut sebagai blueprint dan fungsi stimulus dari teks dengan istilah-istilah pemaknaan yang selalu ditawarkan oleh setiap teks: makna determinate dan makna indeterminate. Makna determinate merujuk pada apa yang disebut sebagai fakta dari teks, peristiwa-peristiwa tertentu pada alur cerita, atau deskripsi fisik yang jelas yang disediakan oleh kata-kata pada sebuah halaman. Kebalikannya, makna indeterminate, mangacu pada “celah” (“gaps”) pada teks—misalnya aksi yang tidak dijelaskan secara gamblang atau seakan-akan memiliki beberapa penjelasan—yang memungkinkan atau bahkan mengundang para pembaca untuk menciptakan penafsiran menurut mereka sendiri. Dengan demikian, pendekatan efferent Rosenblatt bergantung seluruhnya pada makna determinate, sedangkan pendekatan estetiknya bergantung baik pada makna determinate maupun makna indeterminate (Tyson 174).

Interaksi antara makna determinate dan indeterminate berakibat pada sejumlah pengalaman yang terus-menerus pada pembaca: retrospeksi, atau berpikir kembali ke apa yang sudah kita baca sebelumnya di dalam teks; antisipasi atas apa yang akan terjadi berikutnya, pemenuhan atau kekecewaan atas antisipasi kita; revisis atas pemahaman kita terhadap tokoh atau peristiwa; dan seterusnya. Pada suatu titik di sebuah karya sastra makna determinate sering muncul, namun di titik selanjutnya bisa saja makna indeterminate yang menjadi lebih sering keluar. Hal tersebut terjadi sejalan dengan sudut pandang kita yang berubah menjadi berbagai macam perspektif yang dihadirkan oleh, sebagai contoh, narator, tokoh-tokoh, dan peristiwa-peristiwa dari alur cerita yang tak terurai. Jadi, menurut Iser, teks itu sendiri menuntun kita melalui berbagai proses yang terlibat dalam penafsiran makna teks tersebut (Tyson 174).

Menurut para ahli teori transaksional, pembaca yang berbeda muncul dengan interpretasi yang berbeda namun dapat diterima (acceptable interpretation). Hal ini terjadi karena teks memungkinkan untuk munculnya berbagai makna yang dapat diterima, yaitu yang memiliki dukungan tekstual. Akan tetapi, karena adanya teks nyata yang terlibat dalam proses ini yang menjadi acuan respon kita, tidak semua pembacaan dapat diterima, bahkan beberapa pembacaan bisa saja lebih diterima dari yang lain (Tyson 174).

Aplikasi Singkat Teori Transactional Reader-response

THIRD GOD (to Wong). Water Seller, is it so hard to find a place to stay?

WONG. Nothing could be easier. It’s just me. I don’t go about it right.

THIRD GOD. Really? (He returns to the others. A Gentleman passes by.)

WONG. Oh dear, they’re catching on. (He accosts the Gentleman.) Excuse the intrusion, dear sir, but three Gods have just turned up. Three of the very highest. They need a place for the night. Seize this rare opportunity—to have real gods as your guests!

GENTLEMAN (laughing). A new way of finding free rooms for a gang of crooks.

(Exit Gentleman.)

WONG. (shouting at him).Godless rascal! Have you no religion, gentlemen of Setzuan? (Pause) Patience, illustrious ones! (Pause.) There’s only one person left. Shen Te, the prostitute. She can’t say no. (Calls up to a window.) Shen Te!

(Shen Te opens the shutters and looks out.)

WONG. They’re here, and nobody wants them. Will you take them?

(Prolog.86-108)

Kutipan drama di atas diambil dari karya Bertholt Brecht yang berjudul The Good Woman of Setzuan, adegan prolog, baris 86 sampai dengan 108. Sebagai gambaran umum, pada adegan tersebut dikisahkan, ada tiga orang dewa yang datang ke bumi dan menunaikan sebuah tugas penting, yaitu mencari satu orang baik di bumi sebagai syarat kesepakatan para dewa yang lain agar bumi tidak dihancurkan karena dianggap sudah tidak ada manusia baik di bumi. Seiring dengan berjalannya waktu, ketiga dewa tersebut tiba di sebuah kota bernama Setzuan, dan hari telah beranjak gelap. Di saat seperti itu mereka disambut oleh seorang penjual air, yang bernama Wong, yang telah mengetahui jati diri mereka sebagai dewa dan tujuan mereka datang ke bumi. Wong kemudian membantu ketiganya untuk mencari tempat menginap. Ia mencoba meminta bantuan kepada orang-orang Setzuan agar membantu para dewa tersebut.

Setelah membaca kutipan adegan di atas, dengan menggunakan pendekatan efferent, seorang pembaca dapat dengan mudah melihat bahwa dewa ketiga bisa melihat kesulitan Wong dalam mencari bantuan. Pembaca juga bisa melihat bahwa Wong dengan gigih berusaha membujuk seorang laki-laki yang lewat agar ia mau menolong dewa-dewa tersebut, namun si lelaki menolak mentah-mentah walaupun Wong sudah mengatakan bahwa orang-orang yang memerlukan pertolongan tersebut adalah benar-benar dewa. Laki-laki tersebut juga menunjukkan ketidakpercayannya terhadap apa yang dikatakan oleh Wong. Pada akhir kutipan pembaca bisa menyaksikan bahwa ternyata Wong masih memiliki orang terakhir yang dapat ia harapkan untuk menolong para dewa itu, yaitu seorang prostitusi bernama Shen Te.

Melalui pendekatan efferent, seorang pembaca bisa mendapatkan makna determinate seperti di atas. Namun, ketika yang bersangkutan ditanya mengenai mengapa Shen Te dijadikan pilihan terakhir oleh Wong, maka makna determinatetersebut tidak bisa memberikan cukup jawaban. Pembaca harus membaca dan melihat kembali adegan sebelum kutipan di atas serta mencermati setiap makna kalimat untuk menemukan makna indeterminate. Hal ini bisa dilakukan dengan mengaplikasikan pendekatan estetik.

Melalui pendekatan estetik, pembaca bisa memperhatikan bahwa alasan kenapa Shen Te menjadi orang terakhir yang dipilih oleh Wong adalah karena ia seorang prostitusi. Sebagaimana dikisahkan sebelumnya, alasan ketiga dewa tersebut adalah untuk mencari “orang baik” di bumi sebagai syarat agar bumi tidak dimusnahkan oleh para dewa. Hal tersebut telah diketahui oleh Wong, si penjual air. Manakala ia mendapati para dewa tersebut sampai di Setzuan ketika hari mulai gelap, Wong segera berinisiatif untuk mencari bantuan. Karena para dewa itu datang dengan membawa misi mulia, yaitu mencari “orang baik” di dunia, Wong tidak ingin mengecewakan mereka. Oleh karena itu, hal pertama yang ia lakukan adalah meminta pertolongan kepada orang-orang yang dianggapnya “baik”, salah satunya seorang laki-laki yang di dalam drama disebut GentlemanGentleman sendiri biasanya digunakan sebagai sebutan bagi laki-laki yang terhormat dalam budaya Eropa. Ketika si Gentleman menolak permohonannya untuk menolong tiga dewa, Wong menjadi geram dan hampir seperti kehabisan akal. Akhirnya, sebagai pilihan terakhir, ia memilih Shen Te. Shen Te sendiri menjadi pilihan terakhir Wong dikarenakan pekerjaannya sebagai prostitusi yang dianggap sebagai pekerjaan yang tidak baik. Prostitusi yang identik dengan citra wanita “nakal” membuat Wong pada awalnya segan untuk mempertemukan Shen Te dengan tiga dewa itu. Ia khawatir, jika dewa-dewa tersebut tahu siapa sebenarnya Shen Te, mereka akan marah dan langsung membatalkan misi mereka, yang tentunya berakibat pada hancurnya kehidupan manusia termasuk dirinya.

Daftar Pustaka

Brecht, Bertolt. The Good Woman of Setzuan. 1948. Terj. Eric Bentley. Types of Drama: Plays and Context. Ed. Sylvan Barnet, dkk. Edisi Kedelapan. New York: Longman, 2001. 1009-38.

Castle, Gregory. The Blackwell Guide to Literary Theory. Malden, USA: Blackwell Publishing, 2007.

Davis, Todd F. dan Kenneth Womack. Transitions: Formalist Criticism and Reader-Response Theory. New York: Palgrave, 2002.

Eagleton, Terry. Teori Sastra: Sebuah Pengatar Komprehensif. Terj. Harfiah Widyawati dan Evi Setyarini. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

McQuillan, Martin. “There is No Such Thing as Reader-response Theory”. Introducing Literary Theories: A Guide and Glosary. Ed. Julian Wolfreys. Edinburgh: Edinburgh University Press, 2001. 84-97.

Mews, Siegfried. “Bertolt Brecht.” Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005.

Tyson, Lois. Critical Theory Today: A User-friendly Guide. Edisi Kedua. New York: Routledge, 2006.

 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2011 in Critical Theory

 

Tags:

Teori Strukturalisme Genetika


Goldmann menyebut teorinya sebagai teori strukturalisme genetik. Ia percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur (Faruk 12). Istilah strukturalisme genetik sebenarnya merupakan istilah yang erat kaitannya dengan teori perkembangan psikologis oleh seorang psikolog anak bernama Jean Piaget—yang notabene mempengaruhi banyak pemikiran Goldmann dalam mencetuskan strukturalisme genetika—yang aslinya bernama epistemologi genetik (Goldmann 9; “Jean Piaget.” Wikipedia). Menurut Jean Piaget, epistemologi genetik mencoba untuk menjelaskan pengetahuan, dan pengetahuan ilmiah tertentu, berdasarkan sejarahnya (“Jean Piaget.” Wikipedia). Senada dengan Piaget, Goldmann berpendapat bahwa struktur yang dipercayainya terdapat dalam karya sastra bukanlah struktur yang statis, melainkan hasil dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturisasi dan destrukturisasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan (Faruk 12).

Mungkin akan muncul pertanyaan, jika teori Goldmann adalah juga teori strukturalisme, lalu apakah yang membedakannya dengan teori strukturalis yang lain? Menjawab pertanyaan ini Goldmann menulis: strukturalisme genetik menegaskan bahwa struktur-struktur, yang sudah menjadi sebuah aspek universal dari pikiran, kepekaan, dan perilaku manusia, bisa menggantikan manusia sebagai sebuah subjek historis. Hal inilah menurut Boelhower yang membedakan strukturalisme Goldmann dengan strukturalisme komtemporer yang lain. Boelhower menambahkan, dalam pandangan strukturalisme genetika Goldmann, karya sastra yang dilihat sebagai sebuah struktur haruslah dikaitkan subjek historis, bukan dengan subjek lain di luar lingkungan historis (Goldmann 10-11).

Untuk menopang teorinya, menurut Faruk (12), Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling berkaitan satu sama lain sehingga membentuk strukturalisme genetik. Kategori-kategori tersebut adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.

1. Fakta Kemanusiaan (Human Facts)

Prinsip dasar pertama dari strukturalisme genetik adalah fakta kemanusiaan. Fakta kemanusiaan adalah hasil dari perilaku manusia yang dapat dengan jelas dipahami (Goldmann 40), atau dengan kata lain adalah segala hasil aktivitas manusia atau perilaku manusia baik yang verbal maupun fisik, yang berusaha dipahami ilmu pengetahuan. Fakta itu dapat berwujud aktivitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni musik, seni patung, dan sastra (Faruk 12). Goldmann mengatakan aktivitas-aktivitas tersebut sebagai upaya manusia mengubah dunia, dimana tujuan dari aktivitas-aktivitas tersebut adalah untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik antara diri manusia (sebagai subjek) dan dunia. Perilaku manusia di atas menjadi bermakna karena membuat mereka memperbaiki keseimbangannya (equilibrium) (Goldmann 40).

Dalam hubungan manusia dengan lingkungannya (Faruk 13-14; Goldmann 61), selalu terjadi proses timbal-balik yang disebut dengan asimilasi dan akomodasi. Di satu pihak, manusia berusaha mengasimilasi lingkunagn sekitarnya, tetapi di lain pihak usaha itu tidak selalu berhasil karena menghadapi rintangan-rintangan yang antara lain:

  1. Kenyataan bahwa sektor-sektor kehidupan tertentu tidak menyandarkan dirinya pada integrasi dalam struktur yang dielaborasikan
  2. Kenyataan bahwa semakin lama penstrukturan dunia eksternal itu semakin sukar dan bahkan tidak mungkin dilakukan
  3. Kenyataan bahwa individu-individu dalam kelompok yang bertanggung jawab terhadap proses keseimbangan telah mentrnsformasikan lingkungan sosial fisiknya sehingga terjadi proses yang mengganggu keseimbangan dalam proses strukturasi itu.

Menghadapi kendala seperti itu manusia akhirnya menyerah dan melakukan hal sebaliknya, yaitu melakukan proses akomodasi dengan struktur lingkungan tersebut. Dalam proses strukturasi dan akomodasi yang terus-menerus itulah karya sastra memperoleh artinya, sekaligus menjadikan proses tersebut sebagai genesis dari struktur karya sastra (Faruk 14).

2. Subjek Kolektif

Telah dibahas sebelumnya bahwa fakta kemanusiaan merupakan hasil dari aktivitas manusia sebagai subjeknya. Subjek dapat dibagi menjadi dua, sesuai dengan fakta yang dihasilkannya: subjek individual yang menghasilkan fakta individual (libidinal), dan subjek kolektif yang menghasil fakta sosial (historis) (Faruk 14).

Strukturalisme genetika melihat subjek kolektif sebagai sesutau yang penting karena subjek kolektif mampu menghasilkan karya-karya kultural yang besar yang sering menjadi topik utama dalam karya sastra, contohnya revolusi sosial, politik dan ekonomi (Faruk 14-15). Jika kita menggunakan terminology Goldmann, maka fakta-fakta sosial tersebut dihasilkan oleh subjek trans-individual (Goldmann 97), dimana subjek trans-individual bukanlah individu-individu yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan suatu kesatuan, satu kolektivitas (Faruk 15).

2. Pandangan Dunia (World View)

Pandangan dunia adalah sebuah perspektif yang koheren dan terpadu mengenai manusia dengan sesamanya dan dengan alam semesta (Goldmann 111). Pandangan dunia adalah fakta historis dan sosial, yang merupakan keseluruhan cara berfikir, perasaan dan tindakan dimana pada situasi tertentu membuat manusia menemukan diri mereka dalam situasi ekonomi dan sosial yang sama pada kelompok sosial tertentu (Goldmann 112). Karena merupakan fakta sosial yang berasal dari interaksi antara subjek kolektif dengan sekitarnya, pandangan dunia tidak muncul dengan tiba-tiba. Transformasi mentalitas yang lama secara perlahan-lahan dan bertahap diperlukan demi terbangunnya mentalitas yang baru (Faruk 16; Goldmann 112).

3. Struktur Karya Sastra

Sebagaimana yang disampaikan di atas, karya sastra yang besar merupakan produk strukturasi dari subjek kolektif. Karena itulah strukturalisme genetik melihat karya sastra sebagai struktur koheren yang terpadu. Menurut Goldmann, karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner, dimana pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasi-relasi secara imajiner pula. Hal itulah juga yang menurut Goldmann membedakan karya sastra dari filsafat dan sosiologi (Faruk 17).

Dari pernyataan di atas dapat kita simpulkan bahwa Goldmann ternyata memfokuskan perhatiannya pada hubungan antar tokoh dan antara tokoh dengan lingkungannya. Dalam bukunya The Sociology of Literature: Status and Problem of Method, Goldman mengatakan bahwa hampir seluruh karyanya penelitian dipusatkan pada elemen kesatuan, dalam rangka menguak struktur yang koheren dan terpadu yang mengatur keseluruhan karya sastra (Faruk 17).

Dalam kaitannya dengan konsep struktur karya sastra, Goldmann berpendapat bahwa novel merupakan cerita tentang pencarian yang terdegradasi akan nilai-nilai yang otentik dalam dunia yang juga terdegradasi, dan pencarian itu dilakukan oleh seorang pahlawan (hero) yang problematik. Yang dimaksud dengan nilai-nilai yang otentik itu adalah totalitas yang secara tersirat muncul dalam novel. Dengan begitu, nilai-nilai tersebut hanya dapat dilihat dari kecederungan terdegradasinya dunia dan problematiknya sang hero. Itulah sebabnya, nilai otentik hanya berbentuk konseptual dan abstrak , serta hanya berada dalam kesadaran penulisnya (Faruk 18).

Goldmann membagi novel dalam tiga jenis, yaitu novel idealisme abstrak, dimana tokohnya masih ingin bersatu dengan dunia, namun karena persepsi tokoh tersebut bersifat subjektif, idealismenya menjadi abstrak; novel romantisme keputusasaan, dimana kesadaran tokohnya terlampau luas dari dunia sehingga menjadi berdiri sendiri dan terpisah dari dunia; dan yang terakhir adalah novel pendidikan, yang menampilkan pahlawan yang mempunyai kesadaran akan kegagalannya ketika ingin bersatu dengan dunia karena memilki interioritas (Faruk 19).

4. Dialektika Pemahaman-Penjelasan

Dalam perspektif strukturalisme genetik, karya sastra merupakan sebuah struktur koheren yang memiliki makna. Dalam memahami makna itu Goldmann mengembangkan metode yang bernama metode dialektik. Prinsip dasar metode dialektik yang membuatnya berhubungan dengan masalah koherensi di atas adalah pengetahuannya mengenai fakta-fakta kemanusiaan yang akan tetap abstrak apabila tidak dibuat konkret dengan mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan. Untuk itu metode dialektik mengembangkan dua pasangan konsep yaitu “keseluruhan-bagian” dan “pemahaman-penjelasan” (Faruk 19-20).

Dialektik memandang bahwa tidak ada titik awal yang secara mutlak sahih dan tak ada persoalan yang secara mutlak pasti terpecahkan. Setiap gagasan individual akan berarti jika ditempatkan dalam keseluruhan, demikian juga keseluruhan hanya dapat dipahami dengan menggunakan fakta-fakta parsial yang terus bertambah. Dengan kata lain, keseluruhan tidak dapat dipahami tanpa bagian, dan bagian tidak dapat dimengerti tanpa keseluruhan (Faruk 20).

Sebagai sebuah struktur, karya sastra terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil, yang mana dengan mengidentifikasinya akan membantu kita memahami apa sebenarnya karya tersebut. Namun teks sastra itu sendiri merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih besar yang membuatnya menjadi struktur yang berarti. Dalam memahaminya harus juga desertai usaha menjelaskanya dengan menempatkannya dalam keseluruhan yang lebih besar. Inilah sebenarnya konsep dialektika “pemahaman-penjelasan”, dimana pemahaman adalah usaha untuk mengerti identitas bagian, sedangkan penjelasan adalah usaha untuk mengerti makna itu dengan menempatkannya dalam keseluruhan yang lebih besar.

Daftar Pustaka

“Jean Piaget.” Wikipedia. 27 Okt. 2010. <http://en.wikipedia.org/wiki/Jean_ Piaget#Genetic_ epistemology>

Faruk, Dr. Pengantar Sosiologi Sastra: dari Strukturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Jakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

Goldmann, Lucien. Method in the Sociology of Literature. Terj. William Boelhower. Oxford: Basil Blackwell, 1981.

 

 
Leave a comment

Posted by on January 24, 2011 in Critical Theory

 

Tags: